Lewati ke konten utama

OPM Pimpinan Peles Tigau Serang Pos TNI di Sugapa, Satu Warga Sipil Tewas Diduga Terkena Peluru

Redaksi Fajar PapuaPenulis
MustofaEditor
10.02 WIT2 menit baca298 dibaca
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf Muhammad Wirya Arthadiguna
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf Muhammad Wirya ArthadigunaFoto / BERITA UTAMA
Bagikan berita ini
Aa

Sugapa, fajarpapua.com – Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali melakukan penyerangan terhadap personel TNI di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Kamis (2/7).

Dalam insiden tersebut, seorang warga sipil bernama Melkiana Dwitau meninggal dunia diduga akibat terkena peluru.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf Muhammad Wirya Arthadiguna, dalam keterangan pers yang diterima Sabtu (4/7), menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya korban dan menegaskan perlindungan masyarakat sipil tetap menjadi prioritas dalam setiap pelaksanaan tugas TNI.

"Setiap korban sipil merupakan duka yang tidak diharapkan. Perlindungan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas Koops TNI Habema," ujarnya.

Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan disebut dilakukan oleh kelompok bersenjata yang dipimpin Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit.

Tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga.

Lima menit kemudian, tembakan kembali terdengar dari kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa.

Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai.

Menurut Muhammad Wirya, selama rangkaian kejadian tersebut personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan.

Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih berlindung di posisi perlindungan (stelling) sambil memantau situasi guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil.

"Hasil analisis spasial menunjukkan ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI. Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya," jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan kawasan permukiman sebagai lokasi aktivitas kelompok bersenjata berpotensi meningkatkan risiko bagi masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik.

Karena itu, Koops TNI Habema menegaskan akan terus mengedepankan langkah-langkah yang terukur dan profesional agar keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas dalam setiap operasi di wilayah Papua.

Koops TNI Habema juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta memberikan ruang bagi proses penyelidikan yang dilakukan secara objektif berdasarkan fakta lapangan dan bukti teknis.

"Transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan masyarakat akan terus menjadi komitmen Koops TNI Habema dalam setiap pelaksanaan tugas," tutupnya. (ron)