MASA kuliah bukan sekadar perjalanan mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Ada disiplin, ketekunan, kemampuan mengelola diri, hingga kesiapan menghadapi kehidupan setelah wisuda.
Semangat itu menjadi perhatian Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) bersama USTJ dalam melakukan evaluasi akademik dan karakter terhadap 32 mahasiswa penerima beasiswa dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI).
Dari jumlah tersebut, 25 mahasiswa saat ini berada di semester lima. Tujuh lainnya telah memasuki tahapan akhir perkuliahan. Enam mahasiswa sudah menyelesaikan proses akademik, sementara satu mahasiswa masih berjuang menuntaskan tugas akhir.
“Enam orang di antaranya sudah menyelesaikan proses akademik dan satu mahasiswa masih menyelesaikan tugas akhir. Kami berharap mahasiswa yang memiliki selisih Satuan Kredit Semester (SKS) mampu mengejar keteringgalannya agar target kelulusan empat tahun tetap tercapai,” tegas Santje di Kampus USTJ, Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (29/8/2026).
Wakil Rektor IV sekaligus Project Officer USTJ, Santje Magdalena I Rumkorem melihat keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari angka IPK. Karena itu, pembinaan mahasiswa juga diarahkan pada karakter, kedisiplinan, moral, serta pengembangan kapasitas diri.
Kegiatan keagamaan rutin difasilitasi untuk memperkuat nilai moral, sementara aktivitas olahraga menjadi bagian dari pembentukan ketahanan mental mahasiswa.
“IPK tinggi dan prestasi saja tidak cukup tanpa keterampilan pendukung. Pembinaan karakter sangat vital karena para mahasiswa mendapat dukungan penuh agar nantinya siap pulang membawa hasil dan membangun Papua,” ujar Santje.
Di sisi lain, evaluasi juga membuka ruang bagi USTJ menyampaikan sejumlah kebutuhan dalam pengelolaan program kemitraan. Ketepatan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebelum awal semester menjadi perhatian agar selaras dengan batas waktu pelaporan dalam sistem akademik nasional.
Penyesuaian alokasi biaya transportasi mahasiswa turut diusulkan sebagai bagian dari dukungan terhadap kelancaran pendidikan.
Bagi YPMAK dan USTJ, perjalanan 32 mahasiswa ini bukan sekadar soal menyelesaikan sejumlah SKS. Ada harapan lebih besar di ujung perjalanan: hadirnya lulusan yang memiliki kompetensi, karakter kuat, serta kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kita berharap program evaluasi berkala ini terus memperkuat sinergi antara YPMAK dan USTJ dalam mencetak generasi muda Papua yang berdaya saing tinggi, berkarakter kuat, serta siap terserap di lapangan kerja,” tutup Santje.








