Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Kwamki Narama, Jangan Biarkan Damai Ini Pergi, Tuhan....

SD Kwamki Narama
SD Kwamki NaramaFoto / EDITORIAL
fajar Papua5 menit baca0 kali dibaca



Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu.
Sayup-sayup senandung jadul itu menyelinap diantara angkara panasnya siang Kwamki Narama, Sabtu akhir pekan (11/7). Bait-bait nan sendu terbang menerebos hutan-hutan belukar lalu hinggap di setiap telinga yang lewat.

Daerah itu, mutiara hitam di ujung timur Kota Timika, selalu terjebak dalam kubangan konflik yang terpolusi emosi kelam penuh kebencian.

Dulu, di atas hamparannya yang sejuk, pijaran api konflik seringkali berkobar, membakar banyak nyawa, rumah dan harta. Itu membuat serenade tangisan sendu tak henti meluap dari bibir-bibir mungil si rambut keriting hitam, meratapi kepergian orang tua, kakak, atau kakek terkasih.

Sebelum penyesalan pecah, kaki-kaki kecil itu masih sempat berlari kian kemari, ikut memantik adrenalin menyanyikan yel-yel perang penuh dendam, tanpa dia tahu yang dia hadapi adalah sanak saudaranya. Sanak yang ketika dulu masih damai adalah orang paling menyayanginya.

Itu kisah Kwamki Narama yang dulu, ketika namanya masih Kwamki Lama. Daerah tepian yang kini cerah. Punya sejarah kelam yang berhembus bersama angin, bergerak bersama waktu, meninggalkan jejak pada ingatan setiap orang yang lewat di situ kalau itu pernah jadi zona merah.

Kini, sepanjang jalur, daerah penuh misteri itu mulai terlihat asri. Aspal hitam yang mengular hampir lima kilometer menembus batas ibukota distrik Kwamki Narama, nama yang pernah dikenal paling angker di jagat adu nyali.

Saya menginjak pedal rem mengurangi laju kecepatan sepeda motor. Terusik bisikan dari gereja tua di sebelah kanan jalan. Gereja Kingmi, rumah Tuhan yang masih berdiri kokoh di sana. Tapi dindingnya sudah kusam, teras dan bingkai pinggiran gedung dengan luasan ratusan meter persegi itu diriasi rerumputan.



Bagian dalam ruangan tampak lengang, tidak berisi, sudah dirumbuhi semak, seperti benteng tua yang ditinggalkan serdadu. Tapi aroma perkasanya masih tercium, sang raksasa yang pernah berjaya dimasa silam.

Berhadapan dengannya ada sisa-sisa tembok bangunan tua yang runtuh, dilahap ganasnya konflik waktu itu. SD Inpres Kwamki Narama, dia bersebelahan dengan Paud Penuai. Kedua sekolah itu menyimpan cerita kelam. Kwamki Narama yang dulu, yang penuh konflik antar saudara.

Masih berdekatan dengannya ada kios panjang. Itu adalah sisa benteng pertahanan kubu bawah. Bangunan lusuh tua itu hampir sejalan dengan sejarah Kwamki Narama. Saya teringat saat konflik tahun 2007. Saya dan sejumlah awak media pernah terjebak di sini. Di kepung, nyawa kami nyaris putus. Jika baracuda tak segera menghalau pasukan, mungkin nasib kami tinggal kenangan.

Di depan kios panjang, di sudut pertigaan itu, ada bangunan yang juga sudah uzur. Jarang terurus mungkin sudah ditinggalkan pemiliknya. Itu juga bangunan penuh sejarah. Pernah, seorang ibu terbunuh di depannya, saat konflik berkepanjangan tahun 2007 silam.
Pikiran saya kembali membayang kejadian itu. Panah menerjang tanpa ampun. Kelar. Padahal dia seorang wanita.

Memang di arena perang, wanitalah yang terdepan, membantu menggeret perisai. Laki-laki di belakangnya, menarik busur panah, membidik siapa yang bakal dikirim ke dunia akhirat. Kejam memang, tapi itulah perang. Ada juga bocah kecil, yang waktu bermainnya hilang, lantaran harus bermain siasat, dengan nyawa taruhannya. Mereka berlari kiri kanan, mengalihkan konsentrasi musuh. Menyedihkan.
Karena jika panah salah melesak, masa depan mereka langsung berhenti di situ.

Dan, akhirnya saya sampai di lapangan Kwamki Narama. Di tempat ini, kami punya banyak kenangan. Saya teringat ketika perdamaian tidak menemui titik temu, kami dikepung. Ikut terkepung Kapolres ketika itu AKBP Jimmy Tuilan. Beliau luar biasa. Dia tetap tenang mengajak warga berdamai, padahal panah mengarah kepadanya. Sekali lepas, mungkin kelar juga dia.

Saat pengepungan itu ada juga Klemen Tinal, dia dulu bupati tapi sekarang Wakil Gubernur Papua. Dia orang hebat memang. Punya nyali. Walaupun dia diberondong dengan amarah murka, namun kharismanya mampu meredam keadaan. Semua pulih. Situasi kembali pulih. Hari itu tercapai kesepakatan damai. Tapi belum sampai hari H ritual panah babi pertanda damai, konflik meletus lagi. Terhitung 17 orang meregang nyawa. Setiap pergi meliput, kami melihat asap api, aroma mayat yang dibakar semalam. Jika mayat dibakar, itu pertanda perang masih tetap berlanjut... kawan.


Saya sempat menyambangi kampung atas. Dulu di tempat ini menjadi jebakan maut bagi lawan. "Ko lewat ko putus". Mengerikan memang. Teringat saat konflik masih menggelora, untuk melewati wilayah Kwamki Narama saja, itu termasuk uji nyali yang paling mematikan. Sekali kau salah melangkah, selesai juga hidupmu.

Tapi kini, ah Kwamki Narama begitu asri. Walaupun kenangan itu masih melekat dalam ingatan, melihat pesona Kwamki Narama perlahan-lahan trauma itu ikut melenyap.

Psk Subsektor Kwamki Narama, Aiptu Bambang mengaku sudah dua tahun ini Kwamki Narama aman sekali. Tidak ada gejolak. Masyarakat begitu tulus dan berempati.

Polisi melakukan pendekatan dari hati ke hati. Konflik tak ada gunanya lagi. Masyarakat Kwamki Narama jangan mudah diadu domba.

Tapi pendekatan itu kadang menemui hambatan. Karena untuk masuk rumah warga, paling tidak asa bahan kontak seperti kopi, gula, rokok, sesuai adat ketimuran kita.

"Saya ada gandeng Pangan Sari dan Sheraton (RPH) supaya ambil hasil kebun masyarakat. Kan keuntungan timbal balik, kalau ambil hasil kebun mereka, masyarakat yang jaga keamanan lingkungan sekitar," tutur Aiptu Bambang, siang itu.

Bahkan masyarakat Kwamki Narama punya rasa kasih yang tiada tandingnya. Mereka tulus dengan siapa saja, asalkan jujur.
Karena keadaan itulah, maka Pemda Mimika memperlebar ruas jalan dari Mile 32 hingga check point 28.

Sedangkan Roby Omaleng punya rasa yang sama. Ia terharu melihat Kwamki Narama yang begitu damai.

"Mereka hanya jadi alat kepentingan, konflik orang luar tapi dibawah ke sini akhirnya mereka di sini yang jadi korban. Kedepan jangan adalagi  begitu," ujar Robby dihadapan ratusan anggota KNPI ketika mengikuti apel pembukaan di Lapangan Kwamki Narama.

Tepat pukul 14.00 WIT, saat matahari memancar miring dari sisi kanan bandara Mozes Kilangin, saya memacu sepeda motor pulang. Senandung jangan biarkan damai ini pergi tak lagi terdengar, mungkin tapenya sudah dimatikan pemilik.

Tapi di ujung gerbang keluar, sebelum meninggalkan daerah itu,  hati kecil saya sempat bergumam "Jangan biarkan damai ini pergi, Tuhan". Semoga. (Stefanus Ambing)

Perlu ada perhatian khusus untuk kepala distrik yang jauh dari kabupaten