Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

BMKG Mimika Prediksi Puncak Hujan Sudah Lewat

Citra satelit langit Mimika
Citra satelit langit MimikaFoto / MIMIKA
fajar Papua2 menit baca0 kali dibaca

BMKG Mimika Prediksi
Puncak Hujan Sudah Lewat

Timika, fajarpapua.com
Warga Mimika bisa sedikit bernapas lega. Sesuai perhitungan Stasiun Metereologi Kelas III Mozes Kilangin Mimika atau yang dulu BMKG memperkirakan puncak hujan lebat di Kabupaten Mimika sudah terjadi 25 Juli 2020 lalu. Meski demikian diluar perkiraan intensitas hujan bisa saja tinggi.

“Perkiraan kami hujan lebat sudah lewat, puncaknya tanggal 25 Juli kemarin,” ungkap Kepala Stasiun Metereologi Kelas III, Okto Firdaus Fajri Rianto ST kepada Fajar Papua, Rabu (29/7).

Okto mengakui Mimika memiliki keunikan cuaca. Saat ini daerah lain di Indonesia sudah memasuki musim kering, namun Mimika justru curah hujan terus meningkat.

Kondisi ini disebabkan keadaan geografis dan sejumlah faktor pendukung lainnya. Di atas langit Mimika sering terjadi belokan angin yang menyebabkan penumpukan awan.

Ketika ditanya apakah insensitas hujan Timika akibat puncak cartenz, menurut Rianto tidak terlalu berpengaruh. Kondisi suhu di atas permukaan laut saat ini cukup panas yang menyebabkan proses terjadinya awan sangat tinggi.

Rianto memaparkan, dalam analisa Stasiun Meterologi Kelas III B Timika sejak 1-7 Juli lalu telah terjadi hujan dengan intensitas ringan – lebat. Akibatnya terjadi banjir yang menyebabkan rusaknya jaringan telekomunikasi milik PT Palapa Timur Telematika.

Berdasarkan hasil analisis, indikator Suhu Permukaan Laut (SPL) dalam kategori hangat 28oC. Hal ini dapat menyuplai pembentukan awan di sekitar Timika.

Selanjutnya, indikator ENSO (El Nino South Oscilation) Index osilasi selatan (SOI), bersifat normal menunjukkan nilai 4.0 yang berarti suplai uap air bergerak dari Pasifik Barat ke Pasifik Timur. Aktivitas potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia Timur tidak signifikan.

Sedangkan MJO (Madden Julian Oscilation) pada periode itu berada pada kuadran 1 (Indian Ocean) dengan kategori kuat tetapi tidak termasuk wilayah Indonesia Timur sehingga tidak mempengaruhi cuaca di Timika.

Menyangkut OLR (Outgoing Longwave Radiation) di sekitar Timika menunjukan <220 W/m2. Hal ini mengindikasikan terdapat banyak tutupan awan di wilayah Timika dan sekitarnya.

Selanjutnya, pola angin 3000 feet, peta streamline tanggal 1 Juli 2020 pukul 12.00 UTC (21.00 WIT) menunjukkan tidak ada fenomena khusus pada pola angin di daerah Timika.

Analisis lokal, indikator synoptic, pada tanggal 2 Juli 2020 pukul 00.00 UTC (09.00 WIT) berdasarkan peta synoptic di Stasiun Meteorologi Timika mengamati keadaan langit seluruhnya ditutupi awan (overcast), dengan keadaan cuaca hujan.
Menurut Rianto, dari citra satelit Himawari kanal-IR serta Himawari-8 Clod Type dapat diketahui terdapat sel awan hujan di sekitar Timika pada tanggal 1 Juli 2020 dimulai sejak pukul 05.00 – 06.00.(ana)