Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Tahun 2020, Dinkes Mimika Fokus Kejar Kasus Stunting di Dua Distrik

Kepala Seksi Gizi pada Dinas Kesehatan Mimika, Hasmawati, SKM
Kepala Seksi Gizi pada Dinas Kesehatan Mimika, Hasmawati, SKMFoto / MIMIKA
fajar Papua4 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika melalui Seksi Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) fokus mengejar kasus stunting (gagal tumbuh) yang terjadi di 4 kampung dan kelurahan di dua distrik, Kabupaten Mimika.

Menurut catatan Dinkes dalam tahun 2019 kasus stunting cukup tinggi pada dua distrik, Distrik Wania yakni Kelurahan Wonosari Jaya dan Kamoro Jaya, serta Distrik Mimika Timur Jauh di Manasari (Kampung Fanamo Omawita).

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kembang balita yang diakibatkan karena kekurangan gizi kronis dimana hal itu terjadi pada 1.000 hari kehidupan. Pertumbuhan anak lebih pendek dari usianya.

Sebagaimana biasanya dilihat kurus, dan juga pendek tidak seperti anak normal lainnya.

Kepala Seksi Gizi pada Dinas Kesehatan Mimika, Hasmawati, SKM saat ditemui wartawan di ruang kerjanya Jumat (4/9) mengatakan, kekurangan gizi pada balita terjadi pada masa kehamilan dimana anak masih berada dalam kandungan, awal kehidupan.

Menurut dia, kasus serupa terjadi pada 1.000 hari kehidupan, jadi intervensi dilakukan mulai saat persiapan kehamilan sampai balita berumur dua tahun sebagai masa emas terhindar dari stunting.

"Ukuran tinggi badan atau panjang balita harus diatas 2.500 gram misalkan 2.600 gram sampai 2.900 gram yang harus diimbangi dengan pemberian air susu ibu (ASI) secara rutin. Jauh lebih bagus ketika anak itu lahir dengan berat badan 3 kg, berat anak itu sehat, dan pertumbuhan akan normal seperti anak normal lainnya," ujarnya.

Kata dia, jika berat badan kurang dari 2.500 gram, bisa terjadi stunting. Apalagi jika tidak diintervensi dengan baik melalui pemberian ASI.

Agar bebas stunting, balita sebaiknya pada saat lahir berat badan (BB) normal 3 kg, atau panjang badannya berkitar antara 2.600-2.900 gram.

Diterangkan, tahun 2018 ada kasus stunting di Bhintuka, namun Dinkes tidak lagi intervensi karena masanya sudah lewat.

"Pada tahun 2019 kasus stunting sudah mulai turun. Tahun 2020 ini lokus ada di dua distrik sesuai data yang diterima Dinkes," pungkasnya.

Penanggungjawab kasus stunting pada Seksi Gizi Dinas kesehatan Kabupaten Mimika, Korina Wanma, SKep.NS menuturkan prevalensi balita usia pendek di Wania sesuai data yang diterima Bagian Gizi sebesar 27 persen pada tahun 2019.

Korina Wanma, SKep.NS

Bila dikonversikan dalam angka prevalensi usia pendek yakni 12,69 dan sangat pendek 7,93 atau 155 balita atau 7,93 persen di dua kelurahan di Distrik Wania.

“Sebenarnya kita masih dibawah angka target nasional. Ini potensi bisa bertambah karena disana malaria cukup tinggi, ISPA juga cukup tinggi dan itu sangat mempengaruhi bertambahnya kasus stunting. Jadi malaria sangat berkaitan erat dengan stunting karena itu adalah penyakit infeksi yang menyebabkan pertumbuhan anak-anak terganggu,” Kata Korina yang diiamini Hasma.

Untuk mencegah stunting salah satunya tidak terserang malaria, ISPA, diare. Jadi fokus sosialisasi Seksi Gizi Dinkes, dan puskesmas Wania dan puskesmas Manasari adalah pada remaja putri melalui pemberian tambah darah di sekolah-sekolah.

"Khusus sekolah SMP sudah mulai dintervensi sehingga mereka mengerti soal stanting ini. SMP sesuai data KIA mulai umur 10 tahun sudah bisa intervensi. Program untuk ke sekolah-sekolah sudah jalan. Petugas stunting mungkin dalam waktu dekat akan mengadakan rapat yang melibatkan tokoh-tokoh agama dengan harapan mereka dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat," ujarnya.

Fokus penyampaian, sosialisasi, dan penyukuhan yang akan dilakukan petugas, selain pada remaja usia sekolah tingkat SMP, SMA/SMK, juga pada perempuan usia jelang pernikahan.

Usia menjelang pernikahan harus dipersiapkan secara baik sebelum terjadi kehamilan. Agar wanita lebih banyak mengkonsumsi makanan bergizi, vitamin dan protein cukup, hindari terpapar malaria, ISPA dan diare. Masa kehamilan jika terjadi malaria terus menerus berakibat anak terpapar stunting.

"Kami akan bekerjasama dengan tokoh agama baik Kristen, Islam, Hindu, Budha agar mereka dapat menyampaikan pesan stunting kepada umat masing-masing. Jika pasangan muda sudah memasuki tahap pernikahan, jika sudah hamil maka apa yang mereka harus lakukan di Puskesmas. Dua pasangan ini harus melewati masa edukasi supaya tidak terjadi stunting," pungkasnya.

Kerjasama mencegah stunting, Korina menjelaskan, khusus untuk sekolah pihaknya sudah menyurat Dinas Pendidikan meskipun belum dikonfirmasi balik.

"Dinkes sudah mendapat informasi dari Puskesmas mereka sudah jalan ke sekolah-sekolah di Timika. Petugas Puskesmas sudah membagi obat tambah darah kepada siswa. Kalau untuk ibu hamil, ibu menyusui ada kelas yang tersedia di Puskesmas. Teman-teman puskesmas memberitahu bagaimana merencanakan kehamilan, bagaimana dengan ibu-ibu menyusui dengan tujuan mencegah stunting. Kadang ibu-ibu mengeluh ASI tidak ada, padahal ASI menambah ketahanan kekebalan tubuh anak agar dia dapat tumbuh dengan normal, sehat dan tidak terpapar stunting," jelas Korina.

Jika di empat kampung dan kelurahan di Distrik Wania dan Distrik MimikaTimur Jauh ini sudah ditangani dengan baik, tahun depan pasti dipindahkan ke distrik lain.

"Intinya penanganan stunting ini sampai tuntas, kemudian kami akan alihkan ke distrik lain," jelasnya. (mar/jun)