Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Waspada, Pasien Malaria Meningkat di Puskesmas Pasar Sentral Timika

Puskesmas
PuskesmasFoto / MIMIKA
fajar Papua4 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Kabupaten Mimika secara nasional tercatat sebagai salah satu kabupaten endemi malaria. Berbagai gebrakan dan gerakan untuk mengeliminasi malaria terus digalakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, guna mewujudkan visi misi Bupati dan Wakil Bupati Mimika yang tertuang dalam RPJMD 2020-2024 bahwa Mimika dapat mengeliminasi malaria pada tahun 2026 mendatang.

Untuk menjawab dan mengejar visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah serta RPJMD tersebut semua unit kerja dan lembaga dikerahkan baik dalam penerapan program dan dalam bentuk kerjasama.

Seperti di Puskesmas Pasar Sentral dalam penerapan program yang dijalankan Pojok Malaria dengan program sosialisasi, edukasi warga dan keluarga yang terpapar, serta edukasi masyarakat yang berkaitan dengan hidup sehat jauhi malaria, lingkungan sekitarnya bersih anti penyebaran dan pengembangbiakan nyamuk malaria, serta aksi pembagian kelambu secara massal kepada masyarakat.

Memang malaria adalah penyakit klasik yang sering diabaikan warga. Warga sering sepelekan lingkungan tempat tinggal dangan genangan air. Parit atau drainase yang tidak terurus sehingga menjadi tempat empuk bagi nyamuk berkembangbiak.

Di wilayah Puskesmas Pasar Sentral misalnya, menurut pengakuan petugas puskesmas bahwa warga yang terpapar malaria cukup tinggi.

Menurut Pejabat Fungisional Puskesmas Pasar Sentral, dr Bekti Lestari kepada wartawan saat ditemui di ruang kerja Kepala Puskesmas, mengatakan, setiap hari kunjungan warga untuk memeriksakan malaria cukup tinggi.

Satu hari bisa 70 warga (pasien) yang datang, dan 35-40 orang positif malaria.

“Kalau mau hitung setiap hari jumlah warga yang datang berobat setengahnya positif malaria. Kalau positif petugas dari pokja langsung mengedukasi untuk minum obat sampai selesai, dan setelah obat habis pasien diminta untuk kembali ke puskesmas untuk periksa lagi malarianya apakah bibitnya sudah hilang atau masih ada,” kata dr Lestari.

Menurut dia, meningkatnya malaria ada banyka faktor. Setiap puskesmas ada Pojok malaria. Ini dikhususkan karena ada tujuan pengobatan pasien langsung dikasih, pasien diajarkan bagaimana cara minum obatnya, edukasi juga sekalian, dan kapan pasien harus kembali kontrol ke puskesmas.

"Kontrolnya itu pas obatnya habis mereka datang kontrol sekaligus cek lagi malarianya apakah masih ada atau sudah hilang. Hal ini untuk memastikan apakah terapinya sudah berjala dengan baik atau tidak, serta keluhan mereka dikontrol oleh petugas," ujarnya.

Dengan pola semacam ini yang diterapkan puskesmas, menurut dr Lestari sudah tepat dan efektif serta sudah maksimal dalam pencegahan malaria.

Meski saat ini kasus lagi tinggi, karena memang Timika saat ini sedang musim hujan dan dimana-mana ada air tergenang sehingga malaria juga ada dimana-mana. Tapi melihat kerja dari tim Pojok Malaria bersama petugas kesehatan lainya, dengan program sosialisasi, edukasi dirinya yakin malaria pasti akan turun.

Soal edukasi, dr Lestari mengakui edukasi di lapangan mungkin beberapa bulan karena Covid 19 mulai kurang, sekarang dapat ditingkatkan lagi supaya masyarakat sadar dan termotivasi untuk kembali hidup sehat, dimana malam hari tidak tidak ada di luar rumah, air tergenang disekitar rumah harus ditutup, dan tidur menggunakan kulambu.
Kemudian untuk mengeliminasi malaria, dia mengusulkan Pemkab Mimika dapat melibatkan semua perangkat daerah, lembaga dan unit kerja terkait baik di pemerintahan maupun swasta agar lebih serius tangani malaria ini. PHBS nya, lingkunganya dimana tidak ada ari tergenang, sampah tidak ada sehingga tidak membuat vektor malaria berkembang.
Soal warga yang terpapar yang datang berobat di puskesmas Pasar Sentral, dr Lestari menjelaskan rata-rata yang banyak terpapar usia anak-anak. Penyebabnya, saat ini mereka libur panjang, sehingga waktu lebih banyak mereka gunakan bermain bersama-sama dengan teman mereka diluar rumah. Mungkin juga anak itu PHBS nya kurang sehingga mudah terserang malaria. PHBS tidak saja untuk malaria, tapi situasi kesehatan saat ini dimana Covid cukup tinggi sehingga warga diminta rajin cuci tangan, gunakan masker dan jaga jarak. Saat ini Pojok Malaria Puskesmas Pasar Sentral sedang melakukan pembagian kulambu ke warga yang ada di wilayah Puskesmas Pasar Sentral. Teman-teman kerja keras dalam usaha mengeliminasi malaria dan menurunkan kasusnya setiap hari, minggu bahkan bulan. Dengan harapan 2026 sesuai komitmen, harapan dan rencana Pemkab Mimika dan Dinas Ksehatan Kabupaten Mimika eliminasi malaria bisa terwujud.
Kemudian TB lingkungan Puskesmas Pasar Sentral cukup tinggi. Lingungan sekitar Pasar Sentral sendiri kasus TB cukup tinggi. Jika mereka datang memeriksakan kesehatannya di puskesmas, petugas menganjurkan mereka untuk minum obat program. Soal stanting sampai hari ini belum ada warga yang datang membawa amnaknya ke puskesmas. Begitu pula, petugas waktu turun ke wilayah-wilayah belum menemukan anak dengan stanting. “ Selama bertugas di Puskesmas Pasar Sentral belum mendapat laporan bahkan menemukan warga dengan stanting, gizi buruk, kusta dan kaki gajah. Jika ada warga yang mengetahui ada warganya menderita sakit semacam ini dapat melapor ke petugas pusekesmas,” terang dr Lestari. (tim)