Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Haris Azhar: Sudah 23 Pengungsi Tembagapura yang Meninggal Akibat Kelaparan dan Sakit, Ini Daftarnya

Haris Azhar
Haris AzharFoto / MIMIKA
fajar Papua2 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Advokat Lokataru, Haris Azhar SH.MA menyatakan kematian puluhan pengungsi tiga kampung Distrik Tembagapura Mimika adalah tragedi kemanusiaan berat. Haris menyatakan, pihaknya akan menyeret para pihak yang sengaja membiarkan peristiwa itu terjadi.

"Ini tragedi kemanusiaan berat, tentu siapa saja yang membiarkan ini terjadi akan kami bawa ke ranah hukum," tegas Haris kepada Fajar Papua, Senin (14/12).

Ia menyebutkan, daftar nama para pengungsi yang meninggal dunia pada bulan Oktober 2020;

1.     Marthen Omabak (L/70)
2.     Nerekamain Omabak
3.     Oak Magal (P/60)
4.     Ingaparo Beanal (P/50)
5.     Eneramengkal Jawame (P/40)
6.     Martina Jawame
7.     Martina J. Dibitau (P/30)

Lalu pada bulan Desember;

1.     Verlin Omabak (P/20)
2.     Martina Magal (P/50)
3.     Neina Magai (P/45)
4.     Tima Timo Omaleng (L/85)
5.     Ripka Beanal (P/8 bulan
6.     Yolara Magai (P/40)
7.     Yohana Omabak (P/35)
8.     Wanoani Hanou (P/60)
9.     Ale Dwitau (L/20)

  1.  Samuel Beanal (L/18)
  2.  Simon Janampa (L/40)
  3.  Dosina Beanal (P/30)
  4.  Duatina Beanal (P/33)
  5.  Olarain Janampa (P/40)
  6. Kaipakumba Dimpau (P/50)
  7. Seorang bocah yang baru saja meninggal dunia.

Dia mengemukakan, 23 warga meninggal dunia akibat kelaparan dan sakit. Sebab sejak diturunkan Maret 2020 lalu hingga Desember 2020, para pengungsi tidak mendapatkan perhatian baik dari Pemerintah Daerah Mimika, Provinsi Papua maupun Pusat.

Sesuai investigasi Lokataru, 1.800 KK dengan jumlah keseluruhan 4.000 lebih pengungsi nasibnya masih terkatung-katung di Timika.

"Catatan kami bahwa yang meninggal dunia dalam sebulan bisa sampai 15 orang, ini kejadian luar biasa," ujarnya.

Dikatakan, semua pengungsi stres lantaran habitat hidup mereka di Timika berbeda jauh dibanding di kampung asal Banti 1, Banti 2, dan Opitawak.

"Mereka kesulitan memperoleh makanan, tempat tinggal, ada tempat tinggalpun tidak memenuhi standar kesehatan, ada lima keluarga bertumpuk dalam satu rumah, tidak punya daya beli karena mereka tidak punya pekerjaan, ketiadaan air bersih, pendidikan anak terlantar, Ibu-ibu hamil juga terlantar," ujarnya.

Haris mengemukakan, saat ini banyak pengungsi yang sakit-sakitan, tidak mampu berobat karena ketiadaan ongkos trasportasi. "Jangan berpikir ini masalah biasa bos, mereka juga seperti kita. Jadi yang terlibat dalam konspirasi membiarkan kondisi ini terjadi, siap-siap kami bawa ke ranah hukum," tegasnya.(boy)