Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Belum Normal, Produksi PT Freeport dengan Tambang Bawah Tanah Baru 60 Persen

Claus Wamafma
Claus WamafmaFoto / MIMIKA
fajar Papua3 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Eksekutif Vice President PT Freeport Indonesia (PTFI), Claus Wamafma mengakui aktifitas tambang terbuka di Grassberg mulai tahun ini ditutup. Kegiatan operasional mulai fokus pada tambang bawah tanah dengan kapasitas produksi 60 persen Or dalam tahun ini.

Tahun 2021, sesuai perencanaan akan ada peningkatan menjadi 80 persen, dan seterusnya naik menjadi 100 persen pada tahun 2023 dan 2024. Sehingga operasional tambang mulai normal kembali.

"Sekarang lagi suasana pandemi Corona, tapi kegiatan usaha tambang tidak boleh terhenti," ungkap Claus di Jalan Cenderawasih, Timika, Jumat (18/12).

Sebab lanjut dia, meski Covid mendera dunia, mendera Indonesia dan mendera para pekerja PTFI, namun managemen memberlakukan aturan dan protokol kesehatan secara ketat sehingga produksi tidak mengalami penurunan.

“Puji Tuhan saat Covid 19 melanda kita, PTFI masih bisa membayar kewajiban-kewajiban kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten Mimika. Selain itu juga kewajiban kepada masyarakat adat yang terkena dampak, dana kemitraan tetap jalan seperti biasa,” katanya.

Claus menerangkan, membangun tambang bawah tanah tidak mudah. Ada bermacam bagian yang harus dikerjakan oleh PTFI.

"Tahun ini, produksi baru 60 persen, dan 2021 naik menjadi 80 persen, artinya dia naik secara bertahap sesuai dengan konstruksi yang dibangun PTFI. Kenaikan produksi akan terus terjadi sampai normal pada tahun 2023-2024, dan selama ini PTFI masih menggunakan tenaga kerja yang ada dan tidak ada penerimaan karyawan baru," tuturnya.

Dijelaskan, penerimaan karyawan bisa dilakukan karena PTFI akan membangun proyek besar di Portsite. Tenaga kerja baru ini bersama karyawan akan membangun proyek untuk beberapa tahun.

"Mereka akan dikontrak dan setelah proyek selesai, kontrak juga selesai. Untuk penerimaan yang keatas belum ada informasi, karena tenaga kerja yang berstatus Freeport dan kontraktor masih cukup banyak. Kita pakai tenaga pekerja yang ada saat ini, dengan produksi terus kita genjot, akan ada kenaikan di tahun depan,” terang Claus.

Untuk pengembangan masyarakat, dia menjelaskan PTFI sebagai perusahaan tambang terus menjalin hubungan kemitraan dengan sejumlah lembaga di daerah.

Untuk pengembangan masyarakat Amungme dan Kamoro, serta lima suku kekerabatan lainnya dengan menyalurkan dana kemitraan yang dikelola Yayasan Pengembangan Amungme Kamoro (YPMAK).

YPMAK membiayai program ekonomi masyarakat 7 suku, program pendidikan dengan program beasiswa anak Amungme Kamoro yang dikirim studi ke sejumlah kota studi di Indonesia, serta pendirian sekolah.

Kemudian program kesehatan, YPMAK bermitra dengan Yayasan Caritas mengelola Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), klinik terapung yang melayani kesehatan di kampung-kampung pesisir mulai dari pesisir timur sampai barat.

Ketika menjawab pertanyaan wartawan soal pengembangan SDM, Claus menjelaskan, PTFI sangat komitmen dengan mengembangan SDM, buktinya program yang dikelola YPMAK, dengan ribuan anak Amungme Kamoro dan lima suku kekerabatan lain yang mengikuti studi di sejumlah kota di Indonesia.

Menurutnya, ada anak-anak output beasiswa dana kemitraan sudah jadi pejabat di provinsi dan di Pemkab Mimika, belum terhitung yang kerja di PTFI.

“Kalau ada yang bilang tidak nampak, yah bukan seperti lombok yang dimakan langsung pedis memang, tapi pendidikan berproses. Kami selalu mengikuti pemerintah. Perbaikan SDM anak-anak Mimika menjadi komitmen utama PTFI, dengan program beasiswa yang sudah jalan sekian tahun ini,” terang Claus.

Sementara tentang pandemi covid 19, dia menuturkan kebijakan manajemen PTFI cukup ketat dan terukur. Karyawan yang terpapar hingga 14 Desember ini tinggal sedikit yang dirawat di RS Tembagapura termasuk yang isolasi mandiri.

"Kebijakan managemen, pekerja yang bersin-bersin dan batuk-batuk dilarang masuk kerja dan harus berobat dan tes di RS. Yang batuk dan bersin disuruh langsung isolasi mandiri selama 14 hari. Dari Maret sampai Desember mereka yang meninggal berjumlah 5 orang itu karena ada penyakit bawaan," bebernya.

Dikatakan, karyawan cuti dan kembali cuti harus membawa surat pemeriksaan SWAB. Karyawan yang pulang cuti ketahuan tertular, atau reaktif, diwajibkan mengikti isolasi mandiri selama 14 hari.(tim)