Timika, fajarpapua.com - Keputusan Pemerintah termasuk Pemda Mimika untuk tetap melaksanakan belajar online saat pelaksanaan Adaptasi Kebiasaan Baru yang berlangsung saat ini.
Serta belum adanya lampu hijau untuk kegiatan belajar tatap muka selama masa pandemi Covid-19 mulai membuat orang tua stres.
Kegundahan orang tua ini bukan hanya karena dibebani tugas tambahan serta harus menjadi guru bagi anak-anak mereka di rumah. Tetapi juga karena sejumlah lembaga pendidikan juga masih mengenakan biaya pendidikan secara full.
Bahkan selama masa pandemi, ada sejumlah lembaga pendidikan baik swasta maupun negeri yang membebani orang tua murid dengan biaya-biaya yang tidak urgen. Meski dalam penyampaian kepada orang tua murid, pihak sekolah menegaskan bahwa iuran tersebut bersifat sukarela.
Keluh kesah orang tua terkait belajar online, pertama kali diunggah oleh akun Facebook, Wina Alshoop Timika di Info Kejadian Kota Timika, pada Senin lalu.
Dalam unggahannya, akun tersebut menanyakan kapan siswa sekolah di Timika masuk, karena dirinya mengaku mulai stres. "Mohon lolos kan. Kapan Anak masuk sekolah.
sebelum saya setres," tulisnya sambil menyertakan emoji memohon.
Unggahan ini dibenarkan oleh akun, Malika yang sudah kewalahan dengan aktivitas menjadi pengganti guru bagi anaknya. "Iya bu kita orng tua yang stres mana kepasar masak lalu ajarin anak2," tulisnya.
Bahkan akun Elsye Nusamara Lesilolo menulis secara detail, kegiatan dirinya sebagai ibu rumah tangga selama masa pandemi yang mengakibatkan sekolah diliburkan hampir satu tahun ini.
"Bangun pagi urus rumah, masak, hbs masak urus anak makan dngn suami, selesai itu mandi siap2 ke sekolah bagi tugas anak2, pulang sekolah mampir pasar belanja, lanjut ke sekolah anak ambil tugas 2 anak kls 2 dan 1, sampai di rumah makan, selesai makan urus anak 2 kerjakan PR, selesai itu urus pekerjaan sekolah untuk hari berikut. Hari2ku seperti itu," urainya.
Sementara akun Novri Vian dengan nada bercanda berpendapat, sekolah akan dibuka bersamaan dengan pembukaan Pusat Kuliner Timika yang ada di Pasar Sentral Timika.
"Mungkin Tunggu Bersamaan Dengan Pasar Malam Yang Ada Di Pasar Baru Buka," komentarnya.
Akun Mona mengungkapkan, apa yang diposting di media sosial tersebut mewakili keluhan para ibu di Timika. "Curahan hati para ibu2.ayo kumpul keluarkan unek2," tulisnya.
Sedangkan akun, Aderia Prayetno mengungkapkan, para ibu sebenarnya bisa mengikuti kebijakan yang diambil pemerintah.
Tetapi karena hampir setahun ini belum juga menunjukkan tanda-tanda dibukanya sekolah, kemudian ditambah uang sekolah tidak ada pemotongan, itu mempercepat tingkat stres para orang tua.
"Kmi bisa ikuti,pak.. tp sma aj SPP ttap Byar normal buat skolah swasta gmna gg tmbh stess… Ngajar kita sndiri byar jg iya," tulisnya.
Menurut akun ini, seharusnya pihak lembaga pendidikan tidak membebani orang tua dengan iuran atau jika tetap ada iuran hendaknya mendapat potongan.
"Setidaknya ada pngurangan bgt pak buat dana skolah.. soalnya apa anak dring jg g smpi 1 jam pmbyaran dana ttp full," urainya.
Sementara akun Jeck Lemba mengharapkan, orang tua tetap mengikuti anjuran pemerintah terkait belajar online selama pandemi. "Lebih stress lagi kalau anak anda sakit covid. Ikuti saja anjuran pemerintah Bu," ujarnya.
Hal yang sama diungkapkan oleh akun ArDhinda Moo yang menakutkan siswa terpapar Covid-19 jika sekolah dibuka. "Bagaimana kalo masuk sekolah anak2 seperti biasa trus kena covid 19? tanyanya.
Menyikapi sikap pro kontra soal belajar online ini, akun Eby Kirwelak secara satir meminta para ibu menghubungi presiden atau Mendikbud. "Lbh baik ibu hubungi presiden sm Mendikbud.. tnyakan langsung k mereka..!!!," tulisnya. (mas)

