Ditulis Oleh : Mustofa
"DENGAN Nama Allah, Kami Menginjak Tanah Ini.”
Kalimat itulah yang pertamakali diucapkan oleh dua orang misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler saat menginjakkan kakinya di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 lalu.
Yap… 166 Tahun lalu, dengan segala keterbatasan yang mereka punyai, Ottouw-Geissler tidak pernah menduga, apa yang mereka jalankan pada akhirnya bukan hanya sekedar menyebarkan Bibel.
Tetapi, sejarah mencatat, kedua misionaris ini menjadi tonggak sejarah dimulainya peradaban kemanusiaan di Tanah Papua menuju sebuah terang.
Memang tidak bisa dipungkiri, saat kita berbicara mengenai sejarah peradaban di Papua tidak akan terlepas dari peran para misionaris di masa lalu terutama Ottouw-Geissler yang datang ke Papua untuk mengabarkan kabar baik dalam Injil.
Mengapa? Karena selain mereka menyebarkan ajaran Kristiani yang terdapat dalam Injil, pada saat itu keduanya juga mulai memberikan pengetahuan tentang budaya dan tata-cara hidup modern kepada penduduk lokal Pulau Mansinam yang masih terbelakang.
Selain itu, juga tidak dipungkiri, Missi Ottouw dan Geissler ini juga pada akhirnya membuka jalan bagi dibangunnya pos pemerintahan Hindia Belanda pada 1898 di Manokwari dan Fakfak. Dengan berdirinya pemerintahan sipil Hindia Belanda kehidupan beragama Kristen di sana menjadi teregulasi di bawah aturan negara.
Dengan keberhasilannya menyebarkan peradaban di Pulau Mansinam, apa yang dilakukan oleh Ottouw-Geissler menjadi platform perjuangan para misionaris selanjutnya dalam memanusiakan warga Papua.
Platform tersebut, membuat penyebaran peradaban yang dilakukan oleh para misionaris setelahnya dapat berjalan dengan baik dan diterima oleh warga Papua.
Tanggal 5 Februari, saat ini memang menjadi tanggal yang sangat istimewa bagi warga Papua.
Saya yakin saat ini, tanggal tersebut bagi kami warga Papua bukan hanya sekedar peringatan hari pertama masuknya Injil ke Tanah Papua.
Tanggal itu juga mewarisi sebuah semangat toleransi antar umat beragama di "Surga Kecil di Bumi" milik kami ini.
Mengapa demikian? Jika kita membaca tulisan atau buku sejarah referensi awal Pekabaran Injil di Tanah Papua, ada catatan yang menulis tentang Kapal layar Sumbangan Sultan Tidore untuk Ottouw-Geissler.
Patut diketahui, Kesultanan Tidore saat itu adalah Kerajaan Islam yang berkuasa di Kepulauan Maluku dan sebagian wilayah Papua seperti seperti Raja Ampat, Kaimana dan Fakfak.
Artinya, saat itu Sultan Tidore yang notabene beragama Islam tetap menghargai dan mendukung Missi Ottouw-Geissler dalam menyebarkan ajaran Kristiani di Papua meski secara keyakinan keduanya berbeda.
Bahwa hari ini orang Papua bisa mencapai peradaban dan kemajuan seperti saat ini juga karena kontribusi dari rasa toleransi beragama yang telah berkembang sejak hampir dua abad lalu.
Perjuangan tanpa lelah Ottouw-Geissler dalam upayanya menyebarkan ajaran Kristiani di Tanah Papua yang saat itu masih menjadi "Dunia Penuh Kegelapan" juga patut menjadi teladan kita.
Sikap pantang menyerah atas perjuangan diatas banyaknya keterbatasan yang dimiliki oleh Ottouw-Geissler dalam menyebarkan Injil bukan hanya patut diteladani oleh Umat Nasrani.
Tetapi hal itu juga patut menjadi inspirasi bagi seluruh warga yang berdiam dan tinggal di Papua. *

