Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Seks Pra Nikah Agar Tidak Ditinggalkan Pacar, Aktivis Perempuan Soroti Kasus Pembuangan Bayi di Timika

Ana Yosephina Bala
Ana Yosephina BalaFoto / MIMIKA
fajar Papua2 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Tahapan hidup berkeluarga diawali dengan perkenalan, pacaran, tunangan dan menikah.

Siklus yang menggambarkan bahwa dalam setiap tahapan mengandung berbagai konskuensi yang besar baik aspek fisik, psikis, ekonomi dan seksual.

Tujuan perkawinan itu jelas yaitu sebagai ungkapan cinta yg mendalam dan melahirkan keturunan.

Dengan demikian kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga yang resmi adalah buah kasih dari pasangan suami istri yang sah dan wujud penghormatan kepada kaum perempuan.

Aktivis perempuan Papua, Ana Yosephina Balla kepada Fajar Papua, Minggu (15/2), menyayangkan kasus pembuangan bayi oleh CA, oknum mahasiswi di Timika.

"Kasus yang terjadi ini menandakan bahwa ada sebuah ketimpangan dalam relasi hubungan berpacaran yang berdampak pada pembungan bayi yang tidak berdosa," ungkap Anna.

Menurut dia, kasus pembuangan bayi merupakan bentuk kejahatan dan pelecehan terhadap martabat kemanusiaan. Karenanya akar dari persoalan itu harus dicarikan solusi.

"Syukur masalah ini langsung ditangani kepolisian untuk melihat mata rantai penyebab anak tersebut kenapa dibuang," pungkasnya.

Anna mengatakan, kehadiran seorang anak adalah hadiah yang berharga dari ungkapan cinta sepasang suami istri sah.

Disebutkan, ada 4 bentuk kekerasan dalam pacaran, pertama, psikologis seperti menghina, memaki, merayu dan lain-lain.

Kedua, kekerasan fisik seperti memukul, menampar dan lainnya. Ketiga, kekerasan ekonomi, meminta uang dan sejenisnya. Serta keempat kekerasan seksual yakni melakukan hubungan seksual dengan memaksakan kehendak.

"Karena itu dalam kasus ini posisi perempuan sangat rentan. Bisa jadi dia takut kalau tidak melakukan hubungan seksual akan ditinggalkan pacar," paparnya.

Sehingga Anna menyarankan apapun yang terjadi orang tua harus turut bertanggungjawab mendampingi anak yang sedang bermasalah.

"Pro aktif menemui polisi untuk solusi terbaik. Saran untuk mahasiswi harus kuat untuk pemulihan kesehatan pasca melahirkan. Jadikanlah masalah ini untuk berdiri tegak melanjutkan studi sekaligus membesarkan anak," harapnya.

Sedangkan untuk sang pria, suka atau tidak harus bertanggungjawab dalam kasus yang sedang ditangani oleh pihak kepolisian itu.(ana)