Jayapura, fajarpapua.com - Sejak Kamis ( 8/4), tidak ada lagi pesawat yang mendarat di Beoga, Puncak, kecuali pesawat yang mengevakuasi jenazah dua orang guru yang tewas ditembak KKB.
Di sisi lain Bupati Puncak meminta ASN dan pegawai kontrak tidak keluar Beoga menunggu situasi pulih.
Kapolsek Beoga Ipda Ali Akbar mengatakan sejak terjadinya kasus penembakan yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB) pada Kamis lalu, bandara teesebut ditutup.
Akibat ketiadaan pesawat pengangkut logistik mengakibatkan warga bertahan dengan bahan makanan yang ada.
"Ada 12 warung atau kios besar dan kecil, namun persediaan mereka juga sudah menipis," pungkasnya.
Dikatakan, tidak mudah mendarat di lapangan terbang Beoga karena sebelum mendarat pesawat harus manufer di sebelah utara yang saat ini menjadi tempat persembunyian KKB.
"Pintu masuk ke lapangan terbang Beoga melalui sisi utara dimana KKB bersembunyi sehingga saat pesawat terbang rendah ketika mau mendarat dapat menjadi sasaran tembak, " kata Ipda Ali Akbar.
Ia mengemukakan lapangan terbang sudah dikuasai, namun pintu masuk ke lapangan terbang masih berisiko sehingga pilot takut untuk terbang ke Beoga.
Untuk mencapai lokasi tersebut cukup sulit karena berada diketinggian sehingga dengan mudahnya KKB menembak bila anggota menuju lokasi tersebut, ungkap Ipda Ali Akbar.
Ketika ditanya tentang warga yang mengungsi, Kapolsek Beoga mengatakan yang mengungsi di polsek tercatat tiga orang, di koramil delapan orang dan sebanyak 31 orang memilih tetap tinggal di rumahnya, namun letaknya dekat koramil.
Sementara terpisah, Bupati Puncak Willem Wandik meminta aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai kontrak untuk sementara tetap bertahan di Beoga.
"Saya berharap ASN dan semuanya tetap berada di Beoga sampai kondisi aman baru saya izinkan keluar, karena selaku Bupati Puncak akan mengizinkan mereka selama dua atau tiga pekan meninggalkan tempat tugas, " kata Bupati Wandik kepada Antara, Selasa.
Ia mengatakan, untuk saat ini warga belum bisa keluar dari Beoga karena terkendala transportasi, namun bila situasi kondusif maka Pemda Puncak akan membantu memfasilitasi mereka.
Mereka memang membutuhkan pemulihan trauma dengan mengijinkan keluar sementara dan kembali lagi bertugas ke Beoga karena masyarakat sangat membutuhkan pelayanan mereka, ujar Bupati Wandik.
Aksi penembakan yang dilakukan KKB di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak menyebabkan dua orang meninggal yakni Oktovianus Rayo yang ditembak Kamis (8/4) dan Yonatan Renden ditembak Jumat (9/4).(ant/red)

