AKSI teror penembakan, pembakaran dan penjarahan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua hingga kini masih terus berlangsung dan bahkan secara masif terus meluas diseluruh penjuru Kota Beoga.
Dalam teror yang berlangsung sejak Kamis, 8 April 2021 telah menewaskan 2 orang guru, masing Oktovianus Rayo yang ditembak Kamis (8/4) dan Yonatan Renden ditembak Jumat (9/4).
Selain dua nyawa guru, aksi brutal KKB yang diduga dari Kelompok Sabinus Walker ini juga membakar sedikitnya 12 ruangan milik SDN 1 Beoga, SMPN 1 Beoga dan SMAN 1 Beoga pada Sabtu (10/4).
Tidak hanya itu, teror Faksi Militer dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) ini pada Minggu (11/4) malam juga membakar satu unit Helikopter M18 milik PT Ersa Air yang sedang parkir di Bandara Aminggaru Ilaga, Kabupaten Puncak.
Dan yang terbaru, Rumah Wakil Ketua DPRD Kabupaten Puncak dan Rumah Kepala SMPN 1 Beoga juga dibakar hingga rata dengan tanah pada Selasa (13/4) kemarin.
Yang menarik, dari seluruh rangkaian teror yang dilakukan oleh KKB ini adalah adanya dana yang "terpaksa" dikeluarkan oleh pemerintah dalam hal ini Pemda Kabupaten Puncak untuk membayar kelompok yang saat ini sedang diusulkan sebagai Kelompok Teroris tersebut.
Dana yang kabarnya dalam jumlah besar tersebut dibayarkan pemerintah kepada Sabinus Waker Cs untuk menebus jenazah kedua guru yang tewas ditembak.
Terkait gelontoran dana ke KKB Beoga yang terpaksa dikeluarkan ini dibenarkan oleh Bupati Puncak, Willem Wandik seperti dilansir oleh sejumlah media online.
Bupati Wandik mengatakan, pihaknya terpaksa memenuhi permintaan KKB yang menguasai Lapter Beoga yang meminta dana sebagai syarat jika ingin mengevakuasi jenazah guru korban penembakan.
KKB bersikeras tidak akan membiarkan pesawat mendarat di Beoga, jika mereka tidak diberikan uang yang mereka tuntut.
Negara Kalah dari Teror
Bupati Wandik juga menolak jika ada yang berpendapat bahwa negara kalah karena membayar untuk mengevakuasi korban.
"Negara tidak pernah kalah, ini hanya karena faktor kemanusiaan maka kita penuhi permintaan mereka," sambungnya.
Bupati Wandik menolak memberitahukan berapa uang yang diberikan kepada KKB.
"Mereka minta cukup besar, kita tidak bisa tawar menawar, kalau tidak dilakukan maka pesawat tidak bisa masuk dan dampaknya luar biasa," kata dia.
Namun pernyataan Bupati Wandik ini bertolak belakang dengan pernyataan Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai yang menilai negara dianggap kalah jika membayar untuk melepaskan sandera.
Pernyataan ini dikeluarkan Ansyaad saat mengomentari pembebasan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.
Menurut dia, jika pemerintah membayar tuntutan kelompok teror, hal itu melanggar konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengatur bahwa negara tidak boleh membayar tebusan atau menukar sandera dengan narapidana.
Namun Ansyaad mengatakan, hal seperti ini tak perlu dipersoalkan karena penyelamatan sandera bisa dilakukan dengan berbagai cara dan oleh semua pihak, baik negara, maupun pihak lain.
"Karena to save the life, cara apa pun, berapapun biayanya, ya itu harus ditempuh. Demi menyelamatkan, itu saja," ujar dia.
Disoroti Komisi I DPR RI
Sebelumnya Anggota Komisi I DPR, Yan P Mandenas mengharapkan aksis teror yang dilakukan kelompok KKB bisa segera diatasi oleh aparat penegak hukum dan bekerja sama dengan TNI dan pemerintah daerah.
“Negara tidak boleh kalah dengan kelompok kriminal. Apalagi bukan hanya aparat penegak hukum yang menjadi korban, bahkan masyarakat serta perekonomian tak bisa berjalan baik di daerah tersebut,” ungkap legislator Partai Gerindra tersebut.
Menurut Yan Mandenas, apabila teror hmini terus terjadi, bisa berdampak luas bagi keamanan masyarakat yang berada di daerah setempat.
“Harus duduk bersama antara TNI, Polri dan Pemerintah, untuk menyusun strategi agar teror ini tidak berkelanjutan. Disamping itu, kita bisa menyelesaikannya tanpa harus melalui jalur pertumpahan darah. Kita harapan kan tidak ada lagi masyarakat maupun aparat penegak hukum yang bertugas disana menjadi korban,” katanya.
Yan Mandenas juga berpesan agar aparat penegak hukum bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh kehati-hatian, agar tidak menjadi korban atau salah sasaran dalam memberantas para pelaku kriminal bersenjata. ***
Ditulis Oleh : Mustofa
(Disadur dan Disarikan dari Berbagai Sumber)

