Okto Magai, Pegawai PTFI yang Sukses Ciptakan Perkebunan Hidroponik, Berhasil Pekerjakan 50 Karyawan

by -
Oktovianus Magai Direktur PT. Namul Jaya Semesta
Oktovianus Magai - Direktur PT. Namul Jaya Semesta, pelopor perkebunan hidroponik

ADVETORIAL, Bagian (1)

PERKEBUNAN hidroponik, sebutan itu mungkin masih asing di telinga sebagian warga Mimika. Apalagi istilah hidroponik baru saja populer semenjak Covid-19 merambah Indonesia. Hidroponik masih dipandang sebagai usaha pekarangan, mengisi waktu mengikuti himbauan pemerintah ‘stay at home’.

Namun, bagi Oktovianus Magai, perkebunan hidroponik merupakan potensi untuk memberi manfaat ekonomi. Dibawah dukungan PT Freeport Indonesia, Okto mampu menciptakan rekor kebun hidroponik menjadi ‘new economic’ yang mampu menghasilkan uang sekaligus lapangan pekerjaan bagi warga tak mampu.

Tonton videonya…👇n

Oktovianus Magai di kebun hidroponik miliknya.

Pada Rabu (22/4), krew media fajarpapua.com menyempatkan diri menyambangi kebun hidroponik milik Okto di Kampung Limau Asri (SP 3).

Berjarak kurang lebih 1 kilometer dari Jalan Cenderawasih, kebun hidroponik milik pria kelahiran Beoga 5 April tahun 1965 itu sepintas tertutup dari pandangan publik.

Setiap pengunjung wajib menjalani tes suhu. Masuk sekitar 10 meter, tampak deretan pipa tertata rapi dalam bentuk petakan.

Terlihat beberapa pria dan wanita yang sudah berusia diatas 50-an tahun membersihkan ribuan tanaman selada yang tumbuh tersusun rapi di atas deretan pipa.

Tampak, jaringan pipa berjenis paralon itu dialiri air. Tak heran jika ketika mendatangi kebun tersebut yang terdengar hanya suara gemercik air ditengah suasana alam yang asri.

Deretan pipa terbagi dalam empat bagian besar. Bagian pertama baru saja dipanen, yang kedua sudah ditanami tunas selada, bagian ketiga tampak sudah setinggi kurang lebih 5 centimeter, dan bagian keempat seminggu lagi dipanen.

Oktovianus Magai, dia adalah mantan karyawan PT Freeport Indonesia. Sejak tahun 2014 lalu, Okto memulai usaha perkebunan hidroponik.

Dibawah payung PT Namul Jaya Semesta yang dia dirikan, Okto mencoba meretas perkebunan hidroponik.

“Saya karyawan Freeport sejak tahun 1977. Berbekal pengalaman kerja dan dilandasi pikiran untuk perubahan akhirnya saya buka perkebunan ini,” ungkap putra pasangan bapa Mung Magai dan mama Jiwukang itu.

Sebagai anak tunggal dalam keluarga, Okto mengaku dirinya sudah terbiasa berjuang menghidupi diri.

Bekerja di Freeport sejak tahun 1977, sikap disiplin sudah tertanam dalam dirinya.

“Makanya meskipun usaha awal dari tahun 2014 sampai 2018 jatuh bangun, saya tidak putus asa” paparnya.

Diakuinya, modal awal untuk perkebunan hidroponik miliknya hanya Rp 20 juta. Setelah usaha semakin berkembang, Okto mengajak staf Freeport melihat perkebunan miliknya.

“Mulai saat itu dukungan Freeport luar biasa. Mereka siap membeli sayur-sayuran dari kami,” paparnya.

Sejak tahun 2018, Okto merasakan keuntungan dari usahanya. Setiap hari dia memasok 100 atau 200 kilogram selada segar ke Freeport dengan harga beli perkilo Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu. Bahkan kini dalam sebulan total pasokan ke Freeport hingga 4 ton.

Seiring usahanya yang kian berkembang, Okto membuka 6 kelompok binaan yakni di Jln Budi Utomo, Irigasi, SP 5, Mile 32 dan SP 3.

Selain itu, dia kini mempunyai 50 pekerja yang sebagian sudah berusia diatas 50 tahun. Tugas mereka hanya membersihkan sekaligus memanen selada. Sedangkan untuk tanam dilakukan karyawan muda yang memang terlatih.