PERANG terbuka meletus di negeri para nabi "Israel". Ratusan misil ditembakkan faksi Hamas dalam serangan balas dendam konflik masjid Al Aqsa.
Tembakan itu merupakan respons setelah jemaah Palestina di Masjid Al-Aqsa tiba-tiba diserbu polisi pada akhir pekan lalu.
Ratusan roket ditembakkan oleh Hamas, yang menyasar kota penting Tel Aviv dan dilaporkan menewaskan lima orang.
Namun dibalik konflik tersebut kembali menggaungkan nama Iron Dome, sistem pertahanan kubah besi Israel. Bahkan mereka menyebutnya Juru Selamat, lantaran kuba tersebutlah yang melindung warga sipil Israel dari hujan roket Hamas.
Cara kerjanya yang praktis namun mahal. Sekali misil ditembakkkan, menghabiskan dana Rp 1,1 miliar. Bayangkan berapa miliaran dana yang harus dihabiskan sehari menghadapi hujan milis Hamas?
Pusat kendali Iron Dome punya cara kerja yang super canggih. Hanya dalam hitungan detik, teknologi buatan Amerika itu mampu menghitung titik intersep, dan memerintahkan peluncuran sebelum misilnya mencapai area penduduk.
Tidak main-main, setiap peluncur dilengkapi 20 rudal Tamir dengan hulu ledak jarak dekat, dan ditempatkan di seluruh negeri.
Dari 100 persen serangan, hanya 10 persen yang mencapai pemukiman penduduk, sisanya dihancurkan di udara. Sistem komputernya dilaporkan selalu mengalami pembaruan untuk meningkatkan akurasi dari pertahanan terkuat Israel tersebut
Menariknya, sistem pertahanan tersebut berbentuk seperti korek api raksasa, yang selalu diarahkan ke Jalur Gaza.
Dikembangkan oleh Rafael Advanced Defence Systems, alutsista itu bisa beroperasi dalam cuaca berkabut, badai pasir, hingga hujan.
Tel Aviv berharap mereka bisa meningkatkan jangkauannya hingga 250 kilometer, dan mampu mencegat target dari dua sisi.
Yang istimewa, senjata pertahanan Iron Dome diklaim mampu merontokkan artileri 155 milimeter yang ditembakkan dari jarak 4 sampai 70 kilometer.
Kubah Besi mencegat roket yang hendak menyasar area padat penduduk, dan termasuk jenis pertama di dunia.
Iron Dome disebut sistem pertahanan segala cuaca dan mobil yang didesain untuk mencegat dan menghancurkan rudal jarak pendek.
Iron Dome adalah sistem pertahanan anti serangan udara yang terdiri dari sebuah radar dan sebuah pusat kendali, yang mampu melayani hingga empat unit peluncur roket, yang masing-masing berisi 20 roket.
Sistem ini bertugas menganalisa arah dan lintasan terbang roket musuh dan mengirimkan informasi tersebut ke sistem peluncur roket penangkal. Proses ini terjadi dalam hitungan hanya beberapa detik. Bergantung dari lokasi tembakan, Warga Israel hanya punya waktu antara 15 hingga 90 detik untuk menyelamatkan diri sejak sirene bahaya dibunyikan.
Lantaran ukurannya yang kecil dan ringan, Iron Dome bisa berpindah lokasi dengan relatif cepat. Saat ini terdapat sekitar 10 unit yang disebar di sekitar Israel, menurut pembuatnya, Rafael Defence Systems, sebuah perusahaan negara.
Iron Dome didesain untuk hanya mengintervensi roket yang mengancam pemukiman penduduk. Roket penghalau tidak membidik langsung, melainkan meledak di dekat roket sasaran, dan itu sebabnya menyisakan serpihan yang jatuh ke Bumi.
Sistem ini bisa menghalau roket yang ditembakkan dari jarak hingga 70 kilometer. Satu unit Iron Dome mobile yang diperkuat 60 buah roket dianggap bisa melindungi sebuah kota beukuran sedang. Untuk melindungi semua wilayahnya Israel diyakini memerlukan 13 unit.
Rafael Defense Systems mengklaim sistem buatannya memiliki tingkat keberhasilan 90 persen. Kepala otoritas pertahanan udara, Moshe Patel mengatakan selama sepuluh tahun terakhir, Iron Dome sudah menghancurkan 2400 roket.
"Setiap roket yang dihancurkan adalah yang mengarah ke pemukiman warga sipil,” tulis Kementerian Pertahanan di situs internetnya.(net/fan)

