Warga Timika Ngos-ngosan ! PPKM Mencekik, Omset Pedagang Turun 70 Persen, Siap Hadapi Lockdown

by -
Supriyanto pemilik rumah makan di bilangan Jl. Budi Utomo
Supriyanto pemilik rumah makan di bilangan Jl. Budi Utomo

Timika, fajarpapua.com – Dua pekan berlalu, sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Skala Mikro di Timika, banyak pedagang dan warga yang menjerit.

Supriyanto, pemilik rumah makan di bilangan Jl. Budi Utomo kepada fajarpapua.com mengatakan dirinya hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang ada.

“Kalau sudah jam enam sore langsung tutup, kurang apa coba, kurang nurut gimana lagi,” ujar Supriyanto saat ditemui di warungnya, Rabu (21/7).

Inside single content

Bukan hanya itu, ia menjelaskan selama PPKM pendapatan menurun hingga 70 persen.

“Mungkin untuk membayar sewa ruko saja kurang, apalagi untuk simpanan tiap hari, belum lagi uang sekolah anak-anak. Uang hanya muter terus untuk belanja kebutuhan warung sedang warung merugi,” terangnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh pemilik rumah makan yang berada di pusat tempat orang berinteraksi, Didik. Ia mengatakan kali ini warung miliknya terasa sangat berat untuk dapat bertahan.

“Sangat berat, tidak seperti awal-awal dulu waktu PPKM, waktu pertama PPKM hingga 5 hari kedepan masih lumayan menurun hingga 50 persen, tapi sekarang ini lebih dari 70 persen. Kalau warung seperti kita ini tidak mungkin orang makan siang hari, karena sudah dari dulu umumnya warung seperti ini ramai waktu malam hari,” ujar Didik, pemilik warung nasi goreng.

BACA JUGA:  Usai Kantongi Izin, Freeport Bantu 50 Tabung Medikal Oksigen ke RSMM, dr Joni Ribo : Pasien Covid-19 Belum Turun
Kios Pedagang
Kios Pedagang

Ia mengaku hanya mampu bersabar dan menunggu waktu dilonggarkannta kembali aturan tersebut. “Apalagi nanti lockdown, kami bisa tidak makan,” keluhnya.

Beralih ke Jl. Yos Sudarso. Seorang pemilik kios yang sebelumnya buka 24 jam, saat ini hanya bisa merasakan lebih setengah waktu dari biasanya berjualan.

Rohanna kepada fajarpapua.com mengatakan penghasilannya menurun drastis, hanya cukup mengumpulkan hasil jualannya untuk membayar sewa tempat.

“Sekarang ini tidak bisa berharap banyak, kami kumpul uang hanya untuk membayar tempat sewa. Kalaupun ada lebih mungkin untuk mencukupi keperluan kios saja,” katanya.

Dikemukakan, dirinya sering mengembalikan orang yang hendak berbelanja ke kiosnya, takut ada petugas yang mendatanginya.

“Jadi setiap malam itu banyak orang datang minta untuk membuka kios, tapi saya tidak berani, jadi saya suruh kembali saja. Kita ini susah betul karena kebanyakan yang datang beli malam hari. Mau tidak mau saya suruh kembali, karena saya takut,” imbuhnya.

Reaksi warga Timika terkait rencana Pemda Mimika melakukan lockdown sejak 7 Agustus hingga 7 September mendapat tanggapan beragam. Warga meminta agar detail lockdown tersebut disosialisasikan.

“Kita sudah terjepit karena PPKM, sekarang kita hadapi lockdown, benar-benar ngos-ngosan, bisa mati kelaparan,” ungkap Rey, warga Sempan, Rabu siang.(feb)

INFO IKLAN 0812-3406-8145