Pahit Manis Jadi Guru di Pesisir Mimika, Bertarung dengan Ombak, Isi Rumah Sering Hilang, Tak Tahu Kematian keluarga

by -
Para murid SD YPPK Manasari.
Para murid SD YPPK Manasari.

Cerita dari SD YPPK Manasari,
Oleh: Oskar Kilok

Manasari, fajarpapua.com – Hampir empat tahun sudah saya mengabdikan diri sebagai guru di Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik Tillemans (YPPK Manasari).

banner 300250

Sejak awal tahun 2017 sudah berada disana sebagai tenaga pendidik. Suasana baru, minus hiburan, minum air hujan, dan mandi air sumur adalah sesuatu hal lumrah jika berada disana.

Saya tidak sendiri, kami ada delapan guru yang bertugas di tempat itu.

Tugas yang paling penting disana adalah mengentaskan “3 M” yakni membaca, menulis,dan menghitung.

Hal indah, buruk, dan menyakitkan sudah saya dan teman-teman lewati di sana. Minimal yang pertama adalah untuk sampai ke tempat tugas, kita harus melewati laut dengan ombak yang ganas.

Saya pernah merasakannya ketika perahu dihantam ombak, seakan jantung terasa mau copot. Pukulan ombak yang tak beraturan membuat ‘driver’ harus bekerja ekstra menjinakan “hati” alam yang tak bersahabat di Pulau Bidadari.

Pertengahan tahun 2020 kemarin, perahu kami nyaris tenggelam saat melewati perairan itu. Sungguh adrenalin dipacu untuk melaluinya.

Pengalaman yang paling berkesan jadi guru adalah ketika kita mampu membuat anak didik mampu membaca dan menulis, bonus kalau mereks bisa hafal perkalian dari satu sampai sepuluh.

Namun karena dilanda Covid-19 kemarin, intensitas belajar agak berkurang, sempat dilaksanakan pembelajaran “ketemu di rumah”.

Ada juga yang susah dilupakan adalah barang rumah hilang. Sekitar pertengahan tahun 2018, rumah saya dan rekan guru lain Yansen dan Ibu Lian dimasuki maling.

Mereka mengobrak abrik seisi rumah, plafon dijebol dan beberapa barang berharga dibawah kabur.

Sampai saat ini misteri kasusnya tak terpecahkan. Yah sudahlah, hanya Tuhan yang tahu semua itu.

Yang lebih sedih ketika berada di tempat tugas adalah ketika orang-orang terdekat meninggal dunia, kita bahkan tidak tahu sama sekali.

Saya adalah salah satu yang mengalaminya. Memang ditempat kami ada signal di kaca kelas II (sudah saya ulas sebelumnya) namun sekarang signal tersebut susah untuk digunakan.

Nenekku kemarin meninggal namun dua hari setelah penguburannya baru saya tahu.

Setali tiga uang, teman saya Vivin juga mengalami hal yang sama ketika ayahanda tercinta meninggal, ia baru mengetahui sehari kemudian.

Mungkin itulah beberapa kisah yang bisa saya bagikan dihari bersejarah ini 25 November. Masih banyak kisah yang belum bisa diungkap, namun yang pasti semua kami lakukan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Karena hanya dengan pendidikan kita bisa menjadi bangsa yang besar dan kuat.

Pesan saya kepada pemerintah daerah agar bisa memperhatikan sekolah-sekolah di pesisir dan pedalaman (khususnya Sekolah Katolik). Karena gereja sudah lebih dulu merintis pendidikan di tanah ini. Ayo bersinergi, ayo sejahterakan guru, ayo bangun pendidikan Mimika, ayo saling berdamai. Selamat Hari Guru, Tuhan berkati.

INFO IKLAN 0812-3406-8145 A valid URL was not provided.