Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Tradisi dan Makna Perayaan Hari Raya Nyepi Bagi Umat Hindu, Ayo Ketahui Aturan-aturannya

Foto: Dok Nampak Umat Hindu Timika saat melakukan persembahyangan di Pura Mandhira Mihika Mandaloka, Kelurahan Wonosari Jaya SP 4, Distrik Wania.
Foto: Dok Nampak Umat Hindu Timika saat melakukan persembahyangan di Pura Mandhira Mihika Mandaloka, Kelurahan Wonosari Jaya SP 4, Distrik Wania.Foto / NASIONAL
Redaksi FP4 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Hari Raya Nyepi adalah tahun baru umat Hindu berdasarkan kalender Saka yang berarti sunyi, senyap, dan tidak ada kegiatan. 

Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka yang tahun ini jatuh pada Kamis, 2 Maret 2022, pertama kali diselenggarakan pada Tahun 78 Masehi.

Berbeda dengan perayaan Tahun Baru Masehi atau Tahun Baru Islam, dalam merayakan Tahun Baru Saja, Umat Hindu memilih untuk berdiam diri di rumah dan beribadah tanpa melakukan aktivitas lain termasuk ke luar rumah.

Bahkan untuk menjaga kekhusyukan dalam beribadah Umat Hindu pantang melakukan 4 hal yakni :

  1. Amati geni, artinya selama Nyepi berlangsung, umat Hindu tidak diperbolehkan menyalakan api, lampu, dan benda elektronik lainnya. Hal tersebut ditujukan sebagai bentuk simbolis dalam melawan hawa nafsu duniawi.
  2. Amati karya, artinya selain tidak menyalakan api dan lampu, hal lain yang tidak diperbolehkan adalah bekerja. Saat Nyepi berlangsung, umat Hindu diharuskan untuk fokus introspeksi diri atas segala tindakan yang pernah dilakukan.
  3. Amati lelungan, artinya Umat Hindu juga tidak diperkenankan untuk bepergian. Mereka harus berdiam diri di rumah dan khusyuk beribadah.
  4. Amati lelanguan, atau pantangan terakhir adalah bersenang-senang. Umat Hindu harus menghentikan sejenak segala bentuk kesenangan duniawi agar fokus sembahyang. Oleh sebab itu, tak ada toko dan tempat hiburan yang buka selama Nyepi.

Selain itu tradisi perayaan hari raya Nyepi biasanya dilakukan dengan berbagai rangkaian upacara keagamaan yang dilaksanakan beberapa hari sebelum hari raya Nyepi tiba.

Tujuan perayaan nyepi sendiri adalah memohon kepada Tuhan yang maha esa untuk menyucikan bhuana alit (alam manusia) dan bhuana agung (alam semesta).

Dalam sejarah,Hari raya Nyepi sendiri dirayakan sejak kemenangan suku Saka yang dipimpin Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 saka, pada bulan Maret tahun 78 Masehi.

Sejak saat itu, masyarakat Hindu memperingati tahun baru Saka lewat perayaan Nyepi yang dimaknai sebagai hari kebangkitan, toleransi, pembaharuan, kebersamaan, sekaligus kerukunan nasional.

Di Indonesia,Perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu mengikuti lima ritual keagamaan yaitu:

1.Upacara Melasti
Inti dari Upacara Melasti yakni untuk menyucikan alam manusia (bhuana alit) dan alam semesta (bhuana agung). Upacara ini diselenggarakan di sumber air suci kelebutan, segara, campuran, dan patirtan. Namun, kegiatan ini paling banyak dilakukan di segara. Upacara dilakukan dengan bersembahyang menghadap laut.

Upacara melasti mengusung pralingga atau pratima ida bhatara dengan berkeliling desa sebelum ke laut. Pratima atau patung adalah pengganti arca yang ada di pura. Meskipun terbuat dari kertas, kayu, maupun batu, pratima sangat berharga dan dihormati oleh umat hindu. Tujuan berkeliling desa yakni untuk menyucikan desa berdasarkan kesucian pratima. semua umat melakukan upacara ini dengan khidmat, tertib, dan ikhlas.

  1. Menghaturkan Pemujaan
    Setelah melakukan Upacara Melasti, umat hindu mengusung pratima dan segala perlengkapannya langsung menuju balai agung atau pura desa di setiap desa pakraman. Sebelum ngrupuk umat melakukan nyejer, kemudian mereka menghaturkan bhakti atau pemujaan sesuai tujuan utama hari raya nyepi.
  2. Tawur Agung
    Dalam bahasa Jawa, tawur berarti saur. Dalam bahasa Indonesia memiliki arti melunasi hutang. Di setiap perempatan desa atau pemukiman, mengandung lambang untuk menjaga keseimbangan. Keseimbangan yang dimaksud yaitu buana alit, buana agung, manusia bhuta, keseimbangan dewa, serta mengubah kekuatan bhuta menjadi dewa yang memiliki harapan dapat memberikan kesejahteraan dan kedamaian.
    Acara dilanjutkan dengan ngrupuk atau mebuu-buu di setiap rumah tangga. ini bertujuan untuk membersihkan lingkungan dari pengaruh bhuta kala, yang diartikan sebagai sesuatu yang merusak kehidupan, kemakmuran, kesehatan, dan kesuburan. Acara ngrupuk menghadirkan ogoh-ogoh sebagai simbol bhuta kala sekaligus menunjukkan kreativitas seni dalam budaya bali.
  3. Nyepi
    Umat hindu melaksanakan catur brata penyepian yang terdiri dari amati karya, amati geni, amati lelanguan, dan amati lelungan. Amati karya adalah larangan melakukan pekerjaan. Amati geni dilarang menyalakan api, menyalakan lampu, dan menunjukkan perasaan marah. Amati lelanguan merupakan larangan untuk bersenang-senang. Terakhir, amati lelungan yang merupakan larangan untuk melakukan perjalanan atau bepergian keluar rumah.
  4. Ngembak Geni
    Ngembak Geni diawali dengan aktivitas baru dengan mesima krama di lingkungan keluarga, tetangga, dan dalam cakupan yang lebih luas. Mesima krama diartikan sebagai dialog antarsesama tentang sesuatu yang sudah terjadi, baru terjadi, dan yang akan datang. Ini juga membicarakan tentang upaya meningkatkan kehidupan lahir batin di masa depan dengan bertumpu pada pengalaman.***