Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Bintangor Antara Reklamasi, Program Bio Diesel dan Komitmen Freeport Turunkan Emisi Karbon Hingga 30 Persen di Tahun 2030

a2282fc1 181e 4f14 9666 38ec2bd995c3
a2282fc1 181e 4f14 9666 38ec2bd995c3Foto / MIMIKA
Redaksi FP4 menit baca0 kali dibaca

Penulis : Mustofa
(Redaktur fajarpapua.com)

BINTANGOR atau Bintangur yang dalam bahasa latin disebut Calophyllum merupakan salahsatu tumbuhan endemik yang banyak tumbuh di hutan Papua.

Selain di Papua, Bintangor yang dibeberapa daerah disebut dengan nama mentangor, aci serta betur juga banyak tumbuh di wilayah Kalimantan, Batam dan Bangka Belitung.

Selama ini Bintangor banyak digunakan masyarakat sebagai obat tradisional, bahkan masyarakat Papua memakai sebagai obat HIV, kanker dan berkhasiat menyembuhkan warga yang terkena serangan nyamuk malaria.

Sebagai tanaman yang memiliki usia panjang dan juga menjadi salahsatu pohon endemik serta memiliki fungsi yang komplet, tak ayal saat ini Bintangor menjadi primadona dalam program reklamasi di area tambang tentunya termasuk di kawasan Reclamation and Biodiversity Environmental PT Freeport Indonesia yang terletak di Mile 21.

"Di kalangan pertambangan, Bintangor ini sangat terkenal sebagai salahsatu tumbuhan yang digunakan dalam reklamasi," ujar General Superintendent Reclamation and Biodiversity Environmental, Robert Sarwom kepada fajarpapua.com, pekan lalu.

Menariknya, Bintangor yang secara tradisional dikenal sebagai tanaman obat oleh masyarakat ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi bio diesel.

Berdasar manfaat itulah, kedepannya PT Freeport Indonesia berencana menjadikan buah dari tanaman Bintangor sebagai bahan bio diesel kendaraan.

"Apalagi usia produksi Bintangor juga cukup cepat, pada usia 5 tahun sudah berbuah dan siap digunakan sebagai bahan baku bio diesel," jelas Sarwom.

"Fungsinya juga hampir sama dengan pohon jarak yang lebih populer sebagai bahan baku bio diesel dan juga Bintangor juga cocok ditanam di area Sirsat yang beriklim hujan tropis," tambahnya.

Meski tergolong baru sebagai salahsatu jenis baru yang ditanam di area reklamasi, Bintangor saat ini telah ditanam dilahan kurang lebih seluas 10 hektar. 

"Untuk Bintangor sudah ditanam di dua area, yaitu di area reklamasi Mile 21 Mimika dan disepanjang muara area dampak pertambangan," jelasnya.

Seperti diketahui bersama, PT Freeport Indonesia selama ini sangat konsen dalam mengembalikan fungsi alami area terdampak tambang dengan menanam kembali flora endemik sebagai salahsatu tanggungjawab perusahaan ini dalam menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya saat pasca tambang.

Saat ini melalui Reclamation and Biodiversity Environmental, PT Freeport Indonesia telah melakukan penanaman kembali 2 juta jenis tanaman yang endemik yang ada di lahan seluas lebih dari 1.000 hektar area terdampak tambang.

Patut diketahui, reklamasi serta pengembangan bio diesel berbahan tanaman produksi ini juga bentuk komitmen PT Freeport Indonesia dalam mendukung program pemerintah dalam mengurangi emisi karbon.

Hal ini juga ditekankan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas saat mengikuti KTT Iklim COP27 di Sharm El-Sheikh, Mesir.

"Kami PT Freeport Indonesia adalah salah satu perusahaan yang ikut juga berpartisipasi mengurangi emisi sehingga iklim bisa terjaga supaya tidak akan ada kenaikan suhu dari yang sudah ditargetkan," kata Tony Wenas saat mengunjungi Paviliun Indonesia di area COP27, Minggu (6/11) lalu.

Tony Wenas menuturkan PT Freeport Indonesia kini melakukan kegiatan penambangan yang memperhatikan sustainabilitas. Salah satunya dengan penerapan teknologi baru berbasis tenaga listrik.

"Tentu saja kami perusahaan tambang, menambang tembaga, ada emas dan ada perak juga. Namun cara kami menambang bisa dilakukan dengan cara yang sustainable. Contohnya kami komit menurunkan emisi karbon pada operasional kami sebesar 30 persen pada tahun 2030," tegas Tommy Wenas.

"Dengan rencana yang sedang kami kaji untuk bisa lebih meningkatkan penurunan emisinya sampai 60 persen pada tahun 2030," sambungnya.

Tommy Wenas lantas menegaskan dukungan PT Freeport Indonesia terhadap upaya kerja keras pemerintah dalam upaya penurunan emisi karbon.

"Kami ikut mendukung program pemerintah dengan hadir di Paviliun Indonesia di COP27 di Shaem El-Sheikh ini untuk bisa mencapai tujuan yang sudah digariskan pemerintah," terangnya.

Ia kemudian memaparkan beberapa langkah Freeport Indonesia terkait komitmen tersebut. Yang pertama, pemanfaatan kereta api tanpa awak berbahan bakar listrik yang menggantikan truk besar berbahan bakar diesel untuk pengangkutan.

"Tentu saja penurunan emisinya sangat drastis. Selain itu pabrik pengeringan dulu kami menggunakan minyak bakar sekarang menggunakan metode compression dengan tenaga listrik," bebernya.

Selain itu PT Freeport Indonesia, menurut Tony Wenas, juga aktif dalam rehabilitasi lahan. Lebih dari 5 juta tanaman ditanam dengan coverage 1.150 hektar.

"Di Jayapura lebih dari 3.300 hektar. Mangrove juga kami tanam 100 hektar per tahun dengan target 10.000 hektar. Mangrove ini menyerap karbon lebih banyak lagi. Itulah antara lain program yang kami lakukan dalam kaitan penurunan emisi karbon supaya tidak terjadi kenaikan suhu seperti yang diharapkan dunia dan pemerintah Indonesia," terangnya.

Terakhir ia berharap semua pihak mau bahu membahu bekerjasama dalam rangka menurunkan emisi karbon dunia demi menjaga perubahan iklim.

"Kita harus bekerjasama erat dengan pemerintah untuk mencapai penurunan emisi. Ini harus dilakukan bersama-sama pihak pemerintah dengan private sector, tidak bisa sendiri-sendiri. Ini bukan hanya kepentingan Indonesia tapi juga dunia, demi anak cucu kita," pungkasnya.*