BERITA UTAMAMIMIKA

Petani di Timika Keluhkan Harga Cabe Rawit Anjlok Hingga Rp 25 Ribu Per Kilogram

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
7
×

Petani di Timika Keluhkan Harga Cabe Rawit Anjlok Hingga Rp 25 Ribu Per Kilogram

Share this article
e85d4265 abc6 4621 a36e fd266b43764e
Tanaman cabai milik Rahman

Timika, fajarpapua.com – Sejumlah petani di Timika, Papua Tengah mengeluhkan anjloknya harga cabai. Saat ini harga jual cabai di tingkat petani berada di kisaran Rp25.000/kilogram.

Rahman, petani penggarap lahan di wilayah Jl. W. R Supratman tembusan Petrosea, mengatakan anjloknya harga cabai tersebut telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan.

Ads

Menurutnya, jika harga cabai sedang normal ia mampu menjual hasil tanamannya dengan harga Rp 50-60 ribu per kilogram, sementara jika harga tinggi ia dapat menjual dengan harga Rp 75 ribu keatas.

Namun untuk saat ini, harga jual cabai di tingkat petani hanya berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp30.000/Kilogram. Kondisi ini membuat petani kesulitan untuk mendapat keuntungan. Pasalnya, harga jual cabai saat ini tidak sebanding dengan modal yang mereka keluarkan.

“Karena untuk perawatan cabai ini sangat mahal, ada 8 jenis obat semprot untuk cabai, sedangkan sekarang harganya hanya 25 per kilo, ini sudah berjalan selama dua bulan kurang lebih,” ujarnya ditemui di lahan garapannya, Jumat (24/2).

Padahal, saat ini semua orang sedang lebih terfokus pada cabai untuk kebutuhan rumah apalagi menjelang bulan puasa. Harga cabai yang anjlok membuat para petani gigit jari.

“Minimal cabai itu harga Rp 40 sampek Rp 50 ribu lah baru bisa kita dapat untung, kita misal panen satu karung dengan berat 35 kg kali Rp 25 ribu, cuma berapa belum lagi buat bayar orang yang panen, habis. Lha kalau pedagang yang di pasar itu enak, karena anggap aja kita yang modalin, dia ambil dulu nanti mungkin 3 hari baru dibayar,” katanya.

Tak hanya itu, para petani pada umumnya juga banyak mengeluhkan pupuk yang kian hari makin sulit didapat dan mahal.

“Kita ini sebenernya gak minta banyak-banyak yang penting harga stabil aja kita udah cukup. Belum lagi kita kalau tersendat pupuk itu mana toleransi untuk bantu petani, tidak ada. Biasanya kalau jelang pemilu saja itu baru masuk bantuan,” katanya.

Saat ini, Rahman bersama dengan para petani lainnya hanya berharap ada intervensi dari pemerintah untuk bisa menstabilkan harga cabai.

“Karena cabai ini kebutuhan pokok, orang kalau masak tanpa cabai kan kayak apa rasanya, yang penting harga tetap normal, paling tidak kita juga bisa merasakan kesejahteraan sebagai layaknya seorang petani,” kata dia. (feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *