Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Para Pengantin Baru di Mimika Perlu Diedukasi Tentang Gejala Stunting

IMG 20240807 WA0150
IMG 20240807 WA0150Foto / MIMIKA
Redaksi FP2 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Bappeda Kabupaten Mimika menggelar workshop untuk tim percepatan penurunan stunting (TPPS), yang digelar di ruang rapat kantor Bappeda Mimika, Rabu (7/8)

Kegiatan Workshop Rencana Kerja Tahunan PASTI Papua ini dihadiri juga Kepala Dinas Provinsi Papua Tengah, Silwanus Sumule, perwakilan PT Freeport Indonesia, OPD-OPD terkait di lingkup Pemkab Mimika, perwakilan Puskesmas wilayah pendamping, kader-kader Posyandu.

Kepala Bappeda Mimika Yohana Paliling mengatakan kegiatan ini membahas terkait persoalan stunting yang sangat penting untuk menjaga kualitas generasi anak dimasa depan.

"Pertemuan ini supaya kita bicara bersama, hal apa yang perlu dilakukan untuk penurunan angka stunting yang ada di Kabupaten Mimika khususnya untuk anak sejak usia dini, ibu hamil dan para perempuan yang akan menikah," ujarnya, Rabu (7/8)

Lanjut dia, persoalan stunting ini sangat penting untuk diperhatikan, masyarakat masih perlu banyak edukasi untuk stunting sehingga ketika mengetahui adanya gejala stunting dapat ditangani dengan baik.

“Memang kita perlu banyak edukasi ke masyarakat dan saya pikir sudah berjalan baik, hanya memang penting sekali peran masyarakat untuk menyadari hal tersebut mulai dari ibu hamil harus rajin ke Posyandu secara rutin dan juga para anak perempuan yang akan menjadi pengantin harus ada edukasi yang baik,” ungkapnya

Menurutnya, kendala yang telah didiskusikan adalah kesulitan akses masyarakat ke Posyandu khusus pedalaman dan pesisir.

“Kalau di kota itu tidak terlalu masalah artinya gampang diakses oleh masyarakat, tetapi di pesisir dan pedalaman ini masyarakat membutuhkan energi yang lebih untuk sampai ke Posyandu, karena masalah transportasi, mereka tidak sempat ke Posyandu karena harus berkebun, mencari hasil laut dan sebagainya,” terangnya

Ia mengatakan, ada beberapa usulan dari peserta kegiatan bahwa aktivitas di Posyandu bisa dijadikan raport untuk kepala kampung dan kepala distrik, sehingga dari kebijakan pimpinan memberikan evaluasi atau memfasilitasi masyarakatnya untuk ke Posyandu.

"Memang tenaga Posyandu masih kurang untuk mengunjungi setiap rumah sehingga dari workshop ini diharapkan rencana kerja bisa diskusikan sebaik mungkin agar penanganan stunting ke depan lebih maksimal,” ujarnya. (moa)