Lewati ke konten utama

Lewat FLP Batch II, YPMAK Perkuat Disiplin Usaha Pengelola Kios Kelontong ​

Redaksi FPPenulis
06.00 WIT2 menit baca19 dibaca
Literasi-YPMAK
Literasi-YPMAKFoto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com - Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, terus berkomitmen mendorong kemandirian ekonomi masyarakat lokal.

Salah satu langkah konkret yang diambil adalah membina 20 warga Amungme dan Kamoro untuk menjadi pemilik kios kelontong yang mandiri.​

Program ini merupakan keberlanjutan dari kesuksesan tahun 2025, di mana YPMAK telah berhasil memunculkan 10 pengusaha kios kelontong.

Pada tahun 2026 ini, program kembali menyasar 10 pengusaha baru untuk dibina.​Sebagai awal pembinaan, YPMAK menggandeng sejumlah mitra seperti BTN, IJB, dan PT Amungsa Gemilang untuk menggelar pelatihan Financial Literacy Program (FLP) Batch II.

Pelatihan bagi pelaku UMKM binaan ini dilaksanakan pada Senin (2/3/2026) di Gedung MPCC.​​Dalam pelatihan tersebut, para peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai pengelolaan keuangan yang disiplin.

Beberapa poin utama yang ditekankan antara lain peserta diwajibkan menerapkan transaksi tunai maupun non-tunai sepenuhnya guna menghindari piutang yang dapat menghambat arus kas.

Kemudian, seluruh hasil penjualan wajib disetorkan ke bank melalui rekening yang telah disiapkan secara rutin setiap minggu.

Selanjutnya, dari total pendapatan bulanan, 20 persen dialokasikan sebagai pendapatan pengelola, sedangkan 80 persen digunakan untuk modal perputaran barang agar usaha terus berkembang.​​

Kepala Divisi Sosial Ekonomi YPMAK, Oktovianus Jangkup, menjelaskan bahwa pelatihan tahap kedua ini diikuti 20 peserta, baik yang kiosnya sudah beroperasi maupun yang akan segera memulai.

Pelatihan ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman (sharing session) antar-pengusaha.​”Peserta yang sudah berjalan usahanya dapat berbagi ilmu kepada mereka yang baru memulai. Harapannya, mereka belajar mengelola kios dengan profesional dalam melayani masyarakat,” ujar Oktovianus.​

Ia menegaskan bahwa kios tersebut harus dianggap sebagai aset milik pribadi yang wajib dijaga dan dikelola dengan serius.

“Ini adalah rumah usaha mereka. Barang di kios harus dijaga karena melalui program inilah mereka melayani tetangga dan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya,” tambahnya.​

YPMAK tidak melepas para pelaku usaha begitu saja. Pendampingan intensif bersama mitra akan dilakukan selama satu tahun penuh.

Oktovianus juga menyebutkan bahwa kios-kios yang telah selesai dibangun akan segera diserahterimakan kepada penerima manfaat agar bisa langsung beroperasi.​

“Kami berharap kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Jika orang lain bisa berhasil, mereka pun harus bisa. Mereka harus menjadi tuan di negerinya sendiri,” pungkasnya.

Topik
Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.