Timika, fajarpapua.com - Di balik ruang-ruang kelas formal IKOPIN University, sebuah transformasi besar tengah diupayakan bagi para putra-putri asal Bumi Amungsa.
Bukan melalui tumpukan buku teks, melainkan melalui sentuhan langsung dengan realitas bisnis dan keberagaman budaya di jantung Pulau Jawa.
Program tahunan Life Skill bagi mahasiswa penerima beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) tahun 2026 ini membawa rombongan melintasi Semarang, Surakarta, hingga Yogyakarta.
Tujuannya satu: membedah cakrawala berpikir agar mereka pulang tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga nyala api kewirausahaan.
Salah satu persinggahan yang paling berkesan adalah Jejamuran di Yogyakarta.
Di sana, para mahasiswa menyaksikan sebuah “keajaiban” ekonomi. Komoditas jamur yang mungkin di pasar tradisional hanya dianggap bahan pangan biasa, berubah menjadi produk kuliner kelas atas dengan strategi pemasaran yang mumpuni.
“Beragam menu olahan jamur disajikan dengan pengemasan menarik. Di sini mahasiswa melihat langsung bagaimana proses dan nilai tambah itu diciptakan,” ujar Pembina PIBI IKOPIN University, Indra Fahmi.
Tak berhenti di situ, di Kasongan, mereka belajar tentang ketekunan. Bagaimana sebongkah tanah liat, di tangan-tangan kreatif, mampu bertransformasi menjadi kerajinan gerabah yang menembus pasar internasional.
Pesannya jelas, keterbatasan bahan baku bukanlah penghalang jika kreativitas dan orientasi bisnis sudah terbentuk.Indra menegaskan bahwa perjalanan ini jauh dari kata “jalan-jalan” atau wisata semata.
Kunjungan ke situs bersejarah seperti Candi Prambanan bukan sekadar ajang swafoto, melainkan laboratorium sosial.
Mahasiswa diajak berinteraksi dengan masyarakat sekitar untuk memahami dinamika sosial, toleransi, dan bagaimana budaya lokal dapat menjadi pondasi ekonomi yang kuat.
Ini adalah upaya untuk membuka kesadaran akan heterogenitas masyarakat, sebuah modal penting bagi mereka saat nantinya berbaur di dunia kerja atau membangun daerah asal.
Mungkin bagian yang paling krusial dari program ini adalah upaya meruntuhkan tembok ketidakpercayaan diri.
Fenomena mahasiswa Papua yang cenderung menutup diri di kelas besar menjadi perhatian serius PIBI IKOPIN.Solusinya? Story telling.
Mahasiswa tidak hanya diminta mengamati, tetapi juga menceritakan kembali pengalaman mereka melalui presentasi PowerPoint.
Mereka belajar menyusun gagasan, merancang rencana (plan), dan yang terpenting: berani tampil di depan publik.
“Saya ingin mereka punya plan, bukan sekadar dream atau want. Mereka belajar menyiapkan diri dan berani tampil,” tegas Fahmi.
Program Life Skill ini pada akhirnya adalah tentang pembangunan karakter. Mahasiswa didorong untuk memiliki rasa harga diri yang tinggi dan kemandirian mental.
Dengan melihat, merasakan, dan melakukan secara langsung, mahasiswa beasiswa YPMAK pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia diharapkan mampu memadukan kecerdasan akademik dengan kematangan sosial.








