Iran mengancam akan menutup total Selat Hormuz dan melancarkan serangan balik terhadap infrastruktur energi dan air di kawasan jika fasilitas pembangkit listriknya diserang oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini keluar di tengah meningkatnya ketegangan yang meluas di Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Juru bicara Iran menyebutkan, \"Iran akan sepenuhnya menutup Selat Hormuz dan meluncurkan serangan terhadap infrastruktur penting di kawasan jika pembangkit listrik kami diserang.\" Ancaman ini menimbulkan kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga penutupan dapat mengguncang pasar energi internasional.
Sementara itu, konflik militer di kawasan terus meningkat. Militer Israel dilaporkan menghancurkan Jembatan Qasimiyah di Lebanon selatan, yang disebut Presiden Lebanon, Joseph Aoun, sebagai bagian dari 'invasi darat'. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan terhadap posisi Iran dan kelompok yang berafiliasi, termasuk serangan terhadap markas kelompok Popular Mobilisation Forces (PMF) di Baghdad.
Ketegangan ini turut berdampak pada pasar global, dimana indeks saham utama di Asia mengalami penurunan signifikan. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 3,3%, Shanghai Composite melemah 2,3%, dan Bursa Filipina serta Thailand juga mengalami penurunan tajam, menunjukkan kekhawatiran akan potensi perang yang meluas dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dunia.








