Lewati ke konten utama

“Infoka Kayu Bakar Bisa Diantar ke Rumah”: Saat LPG Langka, Warga Timika Kembali ke Dapur Masa Lalu

RedaksiPenulis
14.04 WIT3 menit baca49 dibaca
image
imageFoto / MIMIKA
Bagikan berita ini
Aa

Penulis : Mustofa (Pemred www.fajarpapua.com)

“INFOKA yang jual kayu bakar yang bisa diantar ke rumah🙏🏻🙏🏻🙏🏻.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tapi di Timika hari ini, ia menjelma menjadi potret paling jujur tentang kondisi yang sedang terjadi.

Di tengah narasi ketersediaan energi yang disebut “aman”, warga justru sibuk mencari kayu bakar—bukan untuk gaya hidup, tapi untuk bertahan hidup.

Kelangkaan LPG yang telah memasuki pekan kedua membuat dapur-dapur rumah tangga kehilangan pilihan.

Tabung gas yang dulu mudah didapat kini berubah menjadi barang langka. Kalaupun ada, jumlahnya terbatas dan harganya melonjak.

Dari pangkalan ke pangkalan, daribagen ke agen, dari kios ke kios jawaban yang diterima warga hampir seragam: Kosong!

Sementara itu, dapur tidak mengenal kata tunggu. Kebutuhan memasak tetap berjalan.

Maka perlahan, warga mulai beradaptasi—dari kompor gas ke minyak tanah, hingga akhirnya ke kayu bakar.

Sebuah langkah mundur yang terjadi tanpa seremoni, tapi terasa nyata di setiap rumah.

Di ruang media sosial, keluhan warga pun mengalir dengan gaya yang kadang terdengar santai, tapi menyimpan ironi.

“Membayangkan... Antri minyak tanah masih rasa santai karena cuma gen kosong yang ada tenteng... napa Timika antri Gas LPG 12 kg. Mo tenteng bagaimana kee... dp berat zj... Cemangat ya emak-emak Timika🫰🙏,” tulis Lanny M Rompas dalam unggahannya.

Kalimat itu seperti candaan, tapi juga sindiran. Dulu yang dibawa hanya jerigen kosong. Sekarang yang harus ditenteng adalah tabung 12 kilogram—berat secara fisik, dan mungkin juga berat secara situasi.

Di tengah kondisi ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Mimika telah melakukan peninjauan langsung ke distributor LPG.

Hasilnya justru mempertegas kenyataan di lapangan: dari tiga distributor, hanya satu yang masih memiliki stok, itu pun dalam jumlah terbatas.

Bahkan untuk LPG ukuran 12 kilogram, sudah tidak tersedia.

Di sisi lain, pihak Pertamina Patra Niaga wilayah Timika menjelaskan bahwa pasokan LPG untuk Mimika pada prinsipnya tetap berjalan sesuai alokasi.

Namun distribusi di lapangan diakui mengalami kendala, mulai dari tingginya permintaan, keterlambatan distribusi, hingga dugaan penyaluran yang tidak merata.

Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memperparah kelangkaan.

Namun di dapur warga, imbauan seringkali kalah cepat dengan kebutuhan. Karena yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan, tapi ketersediaan nyata.

Maka ketika seorang ibu rumah tangga menulis, “Infoka yang jual kayu bakar yang bisa diantar ke rumah🙏🏻🙏🏻🙏🏻,” itu bukan sekadar permintaan informasi.

Itu adalah bentuk adaptasi paling jujur di tengah situasi yang tidak ideal.

Di era serba digital, di mana hampir semua bisa dipesan secara online, warga kini mencoba memesan kayu bakar.

Sebuah ironi yang tidak dibuat-buat—tapi benar-benar terjadi.

Karena pada akhirnya, ketika LPG menghilang dari dapur, yang tersisa bukan lagi pilihan. Hanya cara bertahan.

Dan hari ini, cara itu kembali ke yang paling dasar: api dari kayu bakar, yang—kalau beruntung—bisa diantar sampai ke rumah.***

Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.