Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan memblokade Selat Hormuz menyusul kegagalan perundingan damai antara AS dan Iran di Pakistan akhir pekan lalu. Pernyataannya ini keluar tak lama setelah Iran memperketat lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut, yang menjadi pusat ketegangan global dan berdampak besar pada harga minyak dunia.
Dalam cuitan di akun Truth Social pada Minggu (12/4), Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai mencegat kapal-kapal yang membayar biaya kepada Iran untuk melintas di Selat Hormuz. Ia bahkan menegaskan bahwa kapal yang mencoba melewati jalur itu tanpa izin akan diblokade, dan menegaskan bahwa Amerika akan membersihkan ranjau yang dipasang Iran di selat tersebut. Trump memperingatkan bahwa siapa pun yang menembak kapal AS atau kapal damai akan dihancurkan.
Kegagalan perundingan ini berkaitan erat dengan dua isu utama, yakni jalur pelayaran Selat Hormuz dan program nuklir Iran. Iran menolak membuka kembali jalur tersebut dan menuntut pencabutan sanksi serta pencairan aset negara yang dibekukan selama ini. Sementara itu, AS menegaskan bahwa Teheran harus mengizinkan pelayaran bebas dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya sebagai syarat utama tercapainya kesepakatan.
Perundingan yang digelar di Pakistan tersebut berlangsung selama berjam-jam sebelum akhirnya menyatakan kegagalan. Perbedaan pendapat mendasar, termasuk sikap Iran yang bersedia menegosiasikan secara panjang, berlawanan dengan keinginan Trump yang mengutamakan hasil cepat. Keengganan Iran membuka kembali Selat Hormuz dan menyerahkan uranium memperburuk situasi, dengan kedua belah pihak saling menuntut dan tidak kompromi.
Sebelumnya, penutupan Selat Hormuz oleh Iran menyulitkan pengiriman minyak global, menyebabkan harga energi melambung dan menimbulkan ketegangan ekonomi internasional. Ketegangan ini semakin memanas setelah Iran membatasi lalu lintas kapal tanker di jalur strategis tersebut sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel yang dilancarkan pada 28 Februari lalu. Ketegangan ini diperkirakan akan terus berlanjut, memperingatkan dampak luas bagi stabilitas energi dan politik global.








Komentar (0)