Lewati ke konten utama

Dari Mimika untuk Papua: Gagasan Besar Pendidikan Katolik Mulai Disusun

RedaksiPenulis
23.46 WIT2 menit baca141 dibaca
image
imageFoto / MIMIKA
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com - Upaya membangun kembali fondasi pendidikan Katolik di Tanah Papua mulai menemukan arah baru.

Lokakarya pendidikan yang berlangsung di Hotel Swiss-Belinn Timika, Selasa (14/4), menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan untuk menjawab tantangan pendidikan ditengah situasi yang kian kompleks.

Kegiatan ini menghadirkan tokoh gereja, pemerintah, hingga pemangku kepentingan pendidikan. Diskusi yang berlangsung selama beberapa hari ke depan diarahkan untuk merumuskan langkah konkret demi kemajuan pendidikan, khususnya bagi generasi muda Papua.

Uskup Timika, Bernardus Bofitwos Baru mengajak seluruh peserta membawa semangat kebangkitan Kristus dalam setiap pembahasan. Ia berharap setiap ide yang lahir mampu menjadi jalan keluar bagi persoalan pendidikan yang selama ini dihadapi.

Menurutnya, pendidikan tidak sekadar proses transfer ilmu, tetapi perjalanan panjang membentuk manusia seutuhnya. Ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, pembentukan karakter, serta kedewasaan spiritual. Dalam refleksinya, pendidikan dipandang sebagai proses membimbing manusia keluar dari “ruang gelap” menuju kesadaran dan terang kehidupan. Nilai-nilai etika, moral, dan kemanusiaan menjadi fondasi utama yang tidak boleh tergerus oleh perkembangan zaman.

Ia mengingatkan adanya pergeseran arah pendidikan saat ini. Orientasi yang terlalu kuat pada kebutuhan pasar kerja dinilai berpotensi mengabaikan pembentukan karakter dan martabat manusia.

Sistem pendidikan modern cenderung menitikberatkan aspek kognitif, sementara dimensi afektif dan keterampilan praktis kurang mendapat ruang yang seimbang.

“Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang utuh, bukan sekadar tenaga kerja,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya lokakarya tersebut.

Ia menilai forum ini sebagai momentum penting untuk mengevaluasi perjalanan pendidikan dari masa lalu hingga masa depan.

Ia menggambarkan kondisi pendidikan di era sebelumnya yang dinilai lebih terkelola, meski dengan keterbatasan fasilitas. Sebaliknya, di era modern yang didukung teknologi dan sarana memadai, hasil yang dicapai belum sepenuhnya sesuai harapan, terutama bagi anak-anak asli Papua.

Pemerintah daerah, lanjutnya, membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bersama gereja, yayasan, dan mitra lainnya. Sinergi lintas sektor dianggap kunci dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Mimika.

Program pembangunan yang tengah didorong juga mengarah pada pemerataan layanan dasar. Konsep “membangun dari kampung ke kota” diharapkan mampu menghadirkan pendidikan, kesehatan, dan fasilitas yang setara, sehingga masyarakat di kampung tetap merasakan kualitas hidup seperti di perkotaan.

Dukungan dari berbagai pihak, diantaranya dunia usaha seperti PT Freeport Indonesia, diharapkan terus berlanjut guna memperkuat sektor pendidikan dan kesehatan di wilayah ini.

Lokakarya ini diharapkan tidak berhenti pada diskusi semata. Hasil rumusan yang dihasilkan menjadi pijakan bagi kebijakan dan program nyata demi masa depan pendidikan Papua yang lebih baik. (moa)