Lewati ke konten utama

Ketegangan Laut China Selatan: Kapal Taiwan dan China Saling Adang di Perairan Pratas

RedaksiPenulis
05.42 WIT2 menit baca9 dibaca
Ketegangan Laut China Selatan: Kapal Taiwan dan China Saling Adang di Perairan Pratas
Foto / INTERNASIONAL
Bagikan berita ini
Aa

Situasi di Laut China Selatan kembali memanas setelah kapal coast guard Taiwan dan China terlibat adangan di dekat Pulau Pratas, yang juga dikenal sebagai Pulau Dongsha. Insiden ini berlangsung selama dua hari terakhir dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan strategis tersebut.

Menurut pernyataan resmi dari Coast Guard Taiwan, kedua belah pihak terlibat konfrontasi verbal yang cukup sengit melalui komunikasi radio, menyangkut isu kedaulatan. Kapal Taiwan, Taichung, dilaporkan menghadapi kapal China Coast Guard (CCG-3501) yang sedang menjalankan misi patroli rutin di perairan yang diakui Taiwan sebagai wilayahnya. Dalam perbincangan tersebut, kapal China meminta agar kapal Taiwan tidak mengganggu, namun respons keras dari Taiwan menyatakan bahwa tindakan China menunjukkan bahwa klaim mereka atas perdamaian hanyalah tipuan.

Hingga laporan terakhir, kapal Taiwan tetap bersitegang dengan kapal China, meskipun beberapa jam kemudian, CCG-3501 diketahui telah meninggalkan kawasan sengketa. Pulau Pratas dikuasai Taiwan, tetapi China secara nyata mengklaim pulau ini dan wilayah perairan strategis di sekitarnya, meningkatkan ketegangan di kawasan yang sangat penting secara geopolitik.

Sejumlah pejabat keamanan Taiwan mengungkapkan bahwa China telah mengerahkan lebih dari 100 kapal dari berbagai jenis, termasuk kapal angkatan laut dan coast guard, yang tersebar dari Laut Kuning hingga Laut China Selatan dan Pasifik Barat. Pengerahan ini terjadi sebelum pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14 Mei lalu, yang dipandang sebagai upaya China memperkuat posisi mereka di kawasan.

Ketegangan ini menambah kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih besar, mengingat Taiwan menegaskan tetap mempertahankan status quo dan menuduh China sebagai sumber utama ketidakstabilan di kawasan. Amerika Serikat pun terus mengawasi perkembangan ini dengan cermat, mengingat keterlibatan mereka melalui penjualan senjata ke Taiwan yang menjadi salah satu aspek ketegangan utama antara Washington dan Beijing.