Penulis : Mustofa (Pemred www.fajarpapua.com)
SETIAP PAGI, sebelum matahari sepenuhnya menyinari langit Papua, seorang nenek duduk di samping ranjang tempat cucunya menjalani perawatan.
Dengan tangan yang mulai keriput dimakan usia, ia menggenggam jemari kecil sang cucu sambil memanjatkan doa yang tak pernah berubah.
"Bunda Maria, tolong sembuhkan cucu saya. Hanya dia harta paling berharga dalam hidup saya."
Doa itu terdengar sederhana. Namun di balik kalimat tersebut tersimpan kegelisahan seorang perempuan lanjut usia yang sedang berjuang mempertahankan satu-satunya keluarga yang menjadi sumber kebahagiaannya.
Cucu yang dimaksud adalah Khesty, seorang anak asal Kabupaten Jayapura yang kini harus berjuang melawan berbagai penyakit serius. Ia didiagnosis menderita Tuberkulosis (TBC) paru, mengalami penumpukan cairan di jantung, serta pneumonia yang membuat napasnya sesak hampir setiap hari.
Bagi anak seusianya, masa kecil seharusnya dipenuhi tawa, permainan, dan mimpi-mimpi sederhana.
Namun bagi Khesty, hari-harinya kini diisi dengan pemeriksaan medis, obat-obatan, dan perjuangan melawan rasa sakit yang tak kunjung reda.
Sebelum penyakit itu datang, kehidupan Khesty dan neneknya berjalan sederhana di sebuah kampung di Kabupaten Jayapura.
Mereka hidup dari hasil kebun. Sayur-sayuran yang ditanam menjadi sumber makanan sehari-hari.
Meski hidup serba terbatas, keduanya menikmati kebersamaan yang hangat.
Khesty dikenal sebagai anak yang ceria. Ia kerap membantu neneknya membersihkan kebun atau menanam sayuran.
Kehadirannya menjadi penyemangat bagi sang nenek untuk terus menjalani hidup.
Namun semuanya berubah ketika Khesty mulai mengeluhkan nyeri di bagian dada.
Keluhan yang semula dianggap ringan semakin sering muncul. Kondisinya terus menurun hingga membuat sang nenek harus mengambil keputusan besar: meninggalkan kampung dan mencari pengobatan yang lebih memadai.
Perjalanan menuju fasilitas kesehatan bukanlah perkara mudah. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, setiap biaya yang keluar menjadi beban tersendiri.
Bahkan dalam beberapa kesempatan, sang nenek rela menahan lapar demi memastikan kebutuhan cucunya tetap terpenuhi.
Di tengah perjuangan melawan penyakit, Khesty masih menyimpan harapan yang sangat sederhana.
"Jantung saya rasa sakit. Tuhan sembuhkan saya. Saya mau pulang ke kampung sama nenek," ucapnya lirih.
Kalimat singkat itu menggambarkan kerinduan seorang anak terhadap rumahnya.
Ia merindukan suasana kampung, kebun tempatnya bermain, dan kehidupan sederhana yang pernah dijalani bersama nenek tercinta.
Namun untuk mewujudkan harapan tersebut, Khesty masih membutuhkan perawatan yang panjang dan biaya yang tidak sedikit.
Solidaritas Banyak Orang
Kisah perjuangan Khesty akhirnya mengetuk hati masyarakat luas. Melalui penggalangan dana bertajuk "Sesak & Cairan Menumpuk di Jantung, Tolong Khesty!", bantuan mulai mengalir dari berbagai daerah.
Hingga saat ini, dana yang berhasil terkumpul mencapai Rp 34.324.865 dari target Rp 139.980.000.
Tercatat sebanyak 405 donatur telah memberikan dukungan, sementara masa penggalangan dana masih tersisa sekitar 11 hari.
Selain itu, informasi pada laman penggalangan dana menunjukkan bahwa identitas penggalang, data pasien, penerima manfaat, hingga rincian penggunaan dana telah diverifikasi.
Dana yang terkumpul juga telah melalui tiga kali proses pencairan untuk membantu kebutuhan pengobatan dan perawatan Khesty.
Di tengah perjuangan tersebut, hadir sebuah komunitas kemanusiaan yang menjadi jembatan antara kepedulian publik dan kebutuhan Khesty.
Gerakan "Baku Bantu Dari Hati"
Penggalangan dana untuk Khesty diinisiasi oleh Komunitas Cendrawasih Peduli Papua, sebuah komunitas sosial yang aktif bergerak dalam bidang kemanusiaan di Tanah Papua.
Komunitas yang mulai aktif sejak 2 Februari 2024 itu lahir dari inisiatif sekelompok pemuda dan pemudi yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan.








