Lewati ke konten utama
Breaking News

Dinkes Kota Jayapura Gandeng Media Percepat Penurunan Kasus HIV/AIDS dan TBC Jelang Target Eliminasi 2030

Redaksi Fajar PapuaPenulis
21.46 WIT2 menit baca7 dibaca
Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu saat membuka sosiliasi HIV AIDS dan TBC di Jayapura'
Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu saat membuka sosiliasi HIV AIDS dan TBC di Jayapura'Foto / PAPUA
Bagikan berita ini
Aa

Jayapura, fajarpapua.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jayapura mengajak insan media untuk mengambil peran aktif dalam mendukung upaya penurunan kasus HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC) melalui penyebaran informasi yang akurat, edukatif, dan bebas stigma kepada masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) serta HIV/AIDS Tahun 2026 yang diikuti awak media di Jayapura. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu, Jumat (12/6), di salah satu hotel di Abepura.

Dalam sambutannya, drg. Juliana mengungkapkan Kota Jayapura masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Papua.

Berdasarkan data Dinkes Kota Jayapura, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 1.127 kasus HIV/AIDS, sementara pada periode Januari hingga Maret 2026 telah ditemukan 289 kasus baru.

Menurutnya, tingginya angka kasus HIV/AIDS di Kota Jayapura dipengaruhi oleh mobilitas penduduk yang cukup tinggi, baik arus masuk maupun keluar, yang belum sepenuhnya diimbangi dengan pelaksanaan skrining secara optimal.

“Peningkatan angka kasus HIV/AIDS di Kota Jayapura dipengaruhi tingginya mobilitas penduduk, namun belum diimbangi dengan upaya skrining yang optimal. Kota Jayapura menjadi penyumbang tertinggi penderita HIV/AIDS di Papua,” ujarnya.

Meski demikian, Juliana menegaskan pihaknya tetap optimistis target eliminasi HIV/AIDS dan sejumlah penyakit menular lainnya pada tahun 2030 dapat tercapai.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sinergi dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Penanggulangan HIV/AIDS dan tuberkulosis merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan seluruh sektor,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Juliana juga menyoroti pentingnya peran media massa sebagai mitra strategis pemerintah dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Menurutnya, pemberitaan yang tepat dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini, menjalani pengobatan, serta mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) maupun penderita TBC.

Ia berharap para jurnalis dapat memanfaatkan kegiatan sosialisasi tersebut sebagai ruang diskusi dan pertukaran informasi terkait berbagai tantangan yang ditemui di lapangan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS dan TBC.

“Kami berharap para jurnalis memperoleh informasi yang tepat dan komprehensif sehingga mampu menghasilkan pemberitaan yang mendukung upaya eliminasi tuberkulosis dan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Jayapura,” tutupnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan media dalam membangun kesadaran publik guna menekan angka penularan HIV/AIDS dan TBC serta mendukung target eliminasi penyakit menular di Papua pada tahun 2030. (hsb)