Timika, fajarpapua.com - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs memastikan stok obat malaria dan alat pemeriksaan malaria di Puskesmas Arwanop masih tersedia dan tidak mengalami kekosongan sebagaimana informasi yang berkembang ditengah masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan berdasarkan hasil telaah dan klarifikasi Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terkait informasi yang beredar mengenai tenaga kesehatan yang berjalan kaki dari Arwanop menuju Banti serta narasi yang mengaitkannya dengan keterbatasan pelayanan kesehatan dan tingginya kasus malaria di wilayah pegunungan.
Godfried mengatakan, berdasarkan data logistik malaria yang dimiliki Dinas Kesehatan, hingga akhir April 2026 Puskesmas Arwanop masih memiliki stok DHP Frimal sebanyak 393 tablet, DHP Dispersibel 456 tablet, Primaquin 1.648 tablet dan Rapid Diagnostic Test (RDT) malaria sebanyak 621 test.
"Pada saat itu tidak ada permintaan logistik malaria dari Puskesmas Arwanop karena petugas logistik menilai stok yang tersedia masih mencukupi kebutuhan pelayanan," katanya.
Sementara berdasarkan laporan pemakaian dan lembar permintaan obat (LPLPO) Mei 2026 yang disampaikan pada 9 Juni 2026, stok yang masih tersisa tercatat DHP Frimal 94 tablet, DHP Dispersibel 297 tablet, Primaquin 1.344 tablet dan RDT malaria 436 test.
Menindaklanjuti permintaan dari Puskesmas Arwanop, Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) Mimika pada 9 Juni 2026 langsung melayani kebutuhan logistik berupa DHP Frimal 900 tablet, DHP Dispersibel 300 tablet, Primaquin 1.000 tablet dan RDT malaria 800 test.
"Dari data tersebut dapat dipastikan tidak terjadi kekosongan logistik malaria. Stok masih tersedia dan sistem distribusi logistik malaria tetap berjalan sesuai kebutuhan yang diajukan puskesmas," ujarnya.
Godfried juga menjelaskan, berdasarkan Peta Potensi Sebaran Malaria Kabupaten Mimika, wilayah kerja Puskesmas Arwanop masuk kategori hijau atau tidak berisiko serta tidak reseptif terhadap penularan malaria.
Secara epidemiologis, kata dia, wilayah pegunungan memiliki risiko penularan malaria lebih rendah dibandingkan daerah pesisir dan dataran rendah karena suhu udara yang lebih dingin mempengaruhi perkembangan nyamuk Anopheles maupun siklus hidup parasit malaria.
Karena itu, ditemukannya kasus malaria di Arwanop tidak serta merta menunjukkan adanya penularan aktif yang tinggi di wilayah tersebut.
"Kasus yang ditemukan bisa merupakan kasus impor dari wilayah endemis lain, relaps atau kekambuhan malaria jenis Plasmodium vivax, maupun akibat mobilitas penduduk yang cukup tinggi," bebernya.
"Dinas Kesehatan tetap memberikan dukungan melalui distribusi logistik kesehatan, konsultasi medis jarak jauh, koordinasi rujukan pasien dan koordinasi dengan Dinas Perhubungan terkait akses transportasi menuju wilayah pegunungan," tambahnya lagi.(fan)








