Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Awan Cumulonimbus Terpantau Radar, Pilot di Mimika Diingatkan Hati-hati

kepala BMKG Timika
kepala BMKG TimikaFoto / MIMIKA
fajar Papua3 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com
Stasiun Metereologi Kelas III Timika mengingatkan semua armada penerbangan di Kabupaten Mimika dan Provinsi Papua agar berhati-hati. Sebab dari pantauan radar terlihat potensi tumbuhnya awan CB (cumulonimbus) di beberapa titik.

“Menurut data radar terlihat mulai tumbuh awan-awan cumulonimbus. Awan ini bisa masuk kategori awan rendah, sedang bahkan sampai awan tinggi. Dimana munculnya tergantung dimana banyak terjadi penguapan dan bagaimana pola anginnya,” ungkap Kepala Stasiun Metereologi Kelas II Timika, Okto Firdaus Rianto ST kepada Fajar Papua, Selasa (11/8) pagi.

Selain awan cumulonimbus, kata dia, dalam beberapa hari kedepan Timika juga akan diguyur hujan. Sebab badai ruby atau siklon hagupit sudah lewat.

Terkait adanya informasi fenomena gelombang atmosfer, menurut Okto, secara terperinci pihaknya belum dalami. Namun khusus untuk gelombang laut, pada Senin (10/8) gelombang laut Mimika cukup tinggi. Kondisi ini disebabkan munculnya awan kovektif di lautan yang disusul munculnya gusty.

BMKG Ingatkan Fenomena Gelombang Atmosfer
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat memantau adanya fenomena gelombang atmosfer di beberapa wilayah Indonesia pada pekan ini.

"Pada periode minggu ini kami memantau ada faktor-faktor (cuaca) lain yang disebut dengan fenomena gelombang atmosfer," kata Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG Agie Wandala Putra dihubungi melalui sambungan telepon di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan fenomena gelombang atmosfer tersebut memiliki banyak jenis, dan jenis gelombang atmosfer yang diperkirakan beraksi cukup aktif pada pekan ini adalah Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin serta beberapa daerah dengan tekanan rendah.

"Jadi kalau daerah tekanan rendah itu biasanya ada awan yang terakumulasi di sana. Nah, itu mengakibatkan beberapa wilayah di Indonesia memiliki aktivitas perawanan atau konvektif cukup banyak, meskipun di wilayah Jawa kebanyakan memang kering," katanya.

Ia mencatat bahwa fenomena gelombang tropis tersebut dapat memengaruhi kondisi hujan, contohnya kondisi hujan di Jakarta pada Minggu (9/8) yang menurutnya disebabkan oleh adanya fenomena gelombang tersebut.

Agie mengatakan fenomena gelombang tropis itu juga memicu pertumbuhan awan di beberapa kawasan, antara lain di Sumatera bagian utara dan selatan, kemudian Jawa bagian selatan, Kalimantan bagian utara dan timur, Maluku Utara dan Papua.

Kondisi tersebut, kata dia, juga tidak terlepas dari fenomena-fenomena kondisi cuaca yang terjadi secara lokal di masing-masing daerah.

Seperti halnya yang terjadi pada Senin ini yang menurut citra satelit BMKG sudah nampak kering karena cakupan awan sudah minim, misalnya di Aceh, Maluku Utara dan Papua Barat. Sementara itu, daerah-daerah lain, nampak berawan.

"Tetapi yang menjadi menarik adalah kalau dahulu kita sempet ada udara kering dari selatan. Nah, ini udara keringnya enggak terlalu naik ke utara, enggak terlalu naik ke Jawa, sehingga udaranya sekarang enggak sedingin kemarin, enggak sedingin minggu lalu, dan cenderung lembab," ujarnya.

Kondisi tersebut, kata dia lebih lanjut, mengakibatkan udara relatif lebih hangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

"Tetapi untuk kawasan-kawasan seperti di Sulawesi, seperti kemarin di Sigi, itu dengan karakteristik lingkungannya ketika ada ancaman yang sifatnya temporary seperti gelombang tropis ini, maka ya perlu hati-hati," katanya.

Agie menekankan bahwa fenomena gelombang tropis tersebut memang tidak sampai memberikan dampak signifikan sampai menyebabkan hujan ekstrem, tetapi fenomena tersebut cukup memberikan pengaruh terhadap intensitas hujan di beberapa kawasan, contohnya di Jawa bagian barat dan selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Sulawesi dan Maluku bagian utara.

"(Wilayah-wilayah) itu kemarin terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi. Dan kalau kita lihat polanya demikian, maka kurang lebih beberapa waktu ke depan juga masih seperti ini," kata Agie.(boy/ant)