9 Anak Yatim Piatu ke Polres Mimika Minta TT Dibebaskan, “Kami Lapar Siapa yang Kasih Makan?”

by -
Tujuh dari sembilan anak almarhum suami istri yang meninggal di SP 1, usai pulang dari Polres Mimika.

Timika, fajarpapua.com
Ibarat kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tidak hanya kehilangan kedua orang tua, sembilan anak yatim piatu yang orang tuanya meninggal di SP 1 juga kehilangan sumber pemberi nafkah.

Dipenjaranya TT yang selama ini menafkahi hidup mereka membuat keluarga itu kehilangan harapan.

Pada Kamis (20/8), sembilan anak yatim piatu itu mendatangi Polres Mimika. Namun mereka diminta pulang dan kembali lagi Senin depan sebab saat ini sedang Hari Raya Tahun Baru Hijriah.

Yola, Isti, Elsa, Joe Kelvin, Ian, Mitha dan Marsa, menunjukkan raut wajah sedih dan putus asa ketika diwawancarai Fajar Papua.

Mitha dan Marsa, dua gadis kecil itu semalam tidak tidur. Mitha, dia yang paling merindukan almarhum mamanya.

Uang belanja Mitha dan Marsa sudah habis. Yola tak mungkin bisa memberi mereka makan. Dia yang paling tua di rumah juga tidak punya pekerjaan.

“Sejak lahir kami dikasih makan sama pak (TT). Kami minta jangan penjarakan dia,” ungkap Yola sambil menangis.

Mereka benar-benar kehilangan harapan. Sebab, semua adiknya masih berusia SD dan belum sekolah. Sejak kedua orang tuanya meninggal pekan lalu, Yola mengaku TT sudah berjanji akan menafkahi mereka hingga semua punya pasangan hidup.

“Pak (TT) omong di depan mama waktu mama belum meninggal, jangan takut nanti bos yang kasih makan kalian. Apalagi setelah mama meninggal, semuanya diurus sama pak (TT),” tuturnya.

BACA JUGA:  Seorang Warga Timika Ditemukan Berlumuran Darah

Yola mengaku, dua adiknya belum sekolah sedangkan tiga lainnya masih SD. Di rumah kini mereka sendirian.

“Tiap malam saya tidur peluk Mitha dan Marsa. Karena mereka dua sangat dekat dengan mama, dua hari lalu Mitha sudah tanya-tanya mama dimana,” ujarnya.

Yola dan adik-adiknya meminta penyidik Polres Mimika agar membebaskan TT. Sebab 20 tahun ini pria tersebut yang menafkahi keluarga mereka. “Kami sendiri yang jadi jaminan, tolong bapa-bapa bebaskan pak (TT),” pungkasnya.

Di tempat yang sama John Narahaubun, kakak almarhum Nasarius Labetubun mengatakan pihak keluarga baik laki-laki maupun perempuan tidak mau memperpanjang masalah itu. Sebab menurut John banyak yang menjual minuman tapi mengapa kesalahan ditimpahkan kepada TT.

Masalah yang paling krusial saat ini siapa yang menafkahi 9 anak kedua korban. “Keluarga besar memang ada, tidak mungkin keluarga besar mau kasih jaminan mereka sampai mereka besar,” ujarnya.

Sementara Bruno Fatubun mewakili keluarga perempuan menyatakan pihaknya mencabut laporan karena tidak mau membebani masalah kepada TT.

“Anak-anak ini siapa yang kasih jaminan? Kami keluarga besar juga punya kesusahan masing-masing. Kami tidak menuduh satu pihak yang meracuni kedua korban, ini kasus yang masih belum jelas, jangan beratkan ke pak TT,” harap Bruno.(mar)