Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Gedung Puskesmas Ada di Gunung, Tapi Pasien dan Tenaga Medisnya Ada di Timika, Kok Bisa ?

Mimika papua, TNI
Mimika papua, TNIFoto / MIMIKA
fajar Papua3 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com
Pergolakan kamtibmas di wilayah pegunungan Mimika mempengaruhi layanan kesehatan.
Terhitung 5 bangunan puskesmas di wilayah itu yang kini tidak beroperasi maksimal. Sebagian besar warga dan tenaga medisnya ada di Kota Timika.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, SST MEpid ketika dikonfirmasi di Pendopo Rumah Negara, Kamis (20/8) mengatakan, sejak awal tahun 2020 ketika terjadi gangguan kamtibmas di wilayah Aroanop, Dinkes membuat kolaborasi untuk layanan kesehatan di luar gedung bagi warga yang dievakuasi.

"Ada 5 puskesmas yang ada di gunung beririsan wilayah kerjanya dengan 5 puskesmas di wilayah kota. Sebagian besar warga yang ada di Banti, Opitawak Arwanop, Tsinga, Alama, Hoya dan Jila ada di Timika, jadi mereka dilayani di sini," ujarnya.

Reynold mengatakan, kolabrasi itu sudah didesign untuk meningkatkan promosi preventif masyarakat bagaimana beraktifitas pada pendemi Covid 19 termasuk cara mencegah agar tidak tertular wabah virus tersebut.

"Tim pelayanan kesehatan di wilayah pegunungan coba sweeping dari rumah ke rumah. Karena sebagian besar warga mereka ada di kota maka pelayanan mereka wajib lakukan," tuturnya.

Ia menerangkan saat ini tenaga kesehatan (Nakes) terdistribusi secara baik pada semua puskesmas di distrik dan pustu yang ada di kampung pesisir dan pedalaman Mimika.

“Di Jita Kadis Kesehatan menugaskan Sekretaris Dinkes untuk mendistribusikan tenaga kesehatan dan memastikan tenaga ada di sana. Di Potowayburu ada tenaga Nusantara Sehat. Juga ada petugas di Mimika Barat (Kokonao) dan semua kepala puskesmas yang kemarin baru dilantik semua saat ini sudah ada di puskesmas masing-masing,” ungkapnya.

Jelas Reynold, khusus wilayah gunung, Dinkes berkolaborasi dengan beberapa stakekolder untuk melakukan pelayanan seperti YPMAK, BPBD dan OPD lainnya.

"Tapi dalam hal kamtibmas kami selalu meminta arahan dari Bupati, Kapolres dan Dandim. Sekarang ini kami mencoba membenahi standar pelayanan, selain berkolaborasi, minggu depan rencana turun ke wilayah Yapakopa dan Aindua," paparnya.

Menurut Reynold, pelayanan kesehatan suatu wilayah berdasarkan tiga isu, yakni pelayanan kesehatan pada wilayah yang penyakitnya terabaikan seperti kusta. Kusta banyak terdapat di Yapakopa, Aindua, dan Ararao.

"Tim akan ke sana dan pada semester akhir ini tim targetkan tiga kali. Berikut wilayah yang masalah kesehatannya berbatasan dengan kabupaten lain yaitu di puskesmas Jita di Jita, Sumapro, dan tim akan ke sana dimana di sana berbatasan dengan Kabupaten Asmat," pungkasnya.

Dijelaskan, Dinkes sedang mendesain program. Jika aman, akhir Agustus atau September tim akan jalan bersama terutama di wilayah Aroanop, Tsinga, Hoya dan Alama.

"Kalau Jila informasi yang kami peroleh relatif kondusif, tapi kami tetap minta saran dari Bupati, Kapolres dan Dandim," tandasnya.

Kesempatan itu dia mengakui program malaria di Timika masih tinggi. Dinkes berharap setiap orang yang terdiagnosa malaria wajib mendapat pengobatan secara paripurna sampai benar-benar sembuh

"Pengawasan minum obat dilakukan oleh petugas puskesamas," tuturnya. (mar)