Sebaiknya, Anggota TNI/Polri yang Bertugas di Pos-pos Rawan di Papua Dirotasi Tiap 3 atau 6 Bulan 

by -
Selama awal tahun 2021 kasus penembakan anggota TNI cukup banyak. Foto jenazah anggota Yonif 400/BR Pratu Roy Vebrianto saat dievakuasi ke RSMM Timika.

Jayapura, fajarpapua.com – Kematian dua prajurit Yonif 400/BR Pratu Anumerta Roy Vebrianto dan Pratu Anumerta Dedi Hamdani menuai simpati sejumlah kalangan.

Makin banyaknya anggota TNI Polri yang gugur di wilayah tugas mengharuskan pucuk pimpinan tertinggi dua lembaga negara itu segera memikirkan strategi baru khusus penugasan prajurit di pos-pos rawan konflik di Papua.

“Di sini saya ingin sampaikan turut berduka cita yang sangat mendalam atas meninggalnya Pratu Roy dan Pratu Dedi. Saya percaya kedua prajurit yang ditembak ini merupakan Prajurit terbaik yang telah melaksanakan tugas pokoknya sebagai TNI yang bertugas langsung di daerah konflik, semoga keluarga yang ditingalkan diberikan penghiburan dari Allah,” kata Tokoh Muda Papua, Steve Mara di Jayapura, kemarin.


Dia berharap pelaku penembakan dan juga pelaku pembakaran pesawat MAF segera ditangkap serta diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, agar Intan Jaya segera pulih dari konflik yang selama ini terjadi.

BACA JUGA:  Jenazah Serda Miskel Rumbiak Disemayamkan di Yon Zipur 20/PPA Sorong

Lulusan pascasarjana univeritas Pertahanan itu mengatakan, konflik Intan Jaya sudah lama terjadi selain TNI dan Polri yang gugur ada juga masyarakat sipil yang meninggal. Karenanya dia meminta  aparat segera menangkap dan mengungkap semua kejadian dan tindakan kekerasan yang terjadi di wilayah itu serta beberapa daerah konflik lain di Papua.

Steve juga mengusulkan kepada Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat, Laut, dan Udara serta Kapolri untuk memperhatikan kesejahteraan Prajurit yang bertugas di Papua khususnya di daerah rawan konflik.

A valid URL was not provided.