Makassar, fajarpapua.com - Sejak Kamis (17/6) lalu media sosial dikejutkan dengan rekaman video yang menunjukkan matahari terbit dari utara di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Terkait peristiwa langka ini juga telah dibenarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Makassar.
Dari penelusuran fajarpapua.com disejumlah laman media sosial maupun media online diketahui, Dalam video yang viral itu, nampak perekam mengarahkan kamera ke arah matahari yang disebutnya terbit dari utara.
Dalam rekaman diketahui, peristiwa dalam video tersebut direkam oleh murid atau civitas di MAN Binamu, Jeneponto, Kamis (17/6).
Peristiwa matahari terbit dari utara dalam video itu tampak disaksikan oleh sejumlah guru sekolah. Mereka tampak kebingungan arah terbit matahari dari utara.
"Saya katakan ini adalah keanehan karena sebelumnya saya belum pernah melihat di mana yang menjadi kebiasaan terbit dari timur sebelah timur. Tapi sekarang baru menjelang jam 8 pagi ternyata matahari sudah berada pada posisi utara, tidak biasanya terjadi seperti itu," ujar perekam video.
Perekam juga menunjukkan lokasi masjid yang menurutnya merupakan petunjuk arah sebelah timur. Lalu ia menghubungkan kejadian itu dengan sebuah hadis yang menyebut salah satu tanda kiamat yaitu Matahari yang terbit dari barat.
"Jadi ini kalau kita sebagai orang beriman selaku orang muslim dimana kita biasa dengar ada peringatan dari Rasulluloh Muhammad SAW, salah satu tanda kiamat adalah jika matahari terbit di barat dan tenggelam di sebelah timur. Sepertinya dengan situasi pagi ini merupakan suatu isyarat matahari akan terbit di sebelah barat karena sekarang sudah berada di utara," sebutnya dalam video itu.
Selain tidak biasa dan sangat langka, sejumlah netizen yang mengomentari postingan tersebut mengatakan bahwa fenomena tersebut tanda-tanda akan terjadinya kiamat.
Menyikapi hal ini pihak BMKG Wilayah IV Makassar menyebut matahari hakikatnya tetap terbit dari timur.
"Memang sebenarnya matahari tidak ada yang terbit dari utara tetap terbit dari timur," ujar Prakirawan BMKG yang bertugas, Risky.
Namun Rizky mengungkapkan apa yang terlihat dalam video bahwa matahari berada di sebelah utara itu memang benar adanya sehingga maklum masyarakat menganggap matahari terbit dari utara.
Menurut Rizky, matahari dalam video pada hakikatnya tetap terbit dari timur tapi dalam perjalanannya ke barat berada di sisi utara, tidak pada garis Khatulistiwa.
"Dia bergerak dari timur ke barat akan tetapi condongnya bergerak di sebelah utara. Jadi tetap terbit dari timur, tetapi perjalanan ke barat dia lewat jalur utara, bisa dikatakan seperti itu," ungkap Rizky.
Menurut Rizky, peristiwa matahari terbit di timur tapi dalam perjalanannya ke barat condong lewat arah utara memang rutin terjadi setiap tahun. Peristiwa ini biasanya terjadi mulai Maret dan puncaknya terjadi pada Juni dan berakhir pada September.
"Nanti setelah September menuju Oktober, November, Desember, dia bergeraknya perlahan-lahan dari timur ke barat lewat arah selatan," sambung Rizky.
Lalu kapan matahari dari timur ke barat berada di garis Khatulistiwa? Rizky mengatakan hal itu terjadi mulai pada Desember hingga Februari.
"Desember ke Maret condong ke Selatan itu kembali lagi ke tengah-tengah, posisi ekuator di garis Khatulistiwa," katanya.
Rizky menambahkan peristiwa dalam video sebenarnya bisa disaksikan di seluruh langit Indonesia, tak hanya di Jeneponto.
Penjelasan Sains BMKG
Sementara itu menurut Siswanto Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG menjelaskan peristiwa itu terkait dengan gerak semu tahunan matahari (GSTM).
Terdapat dua jenis gerak semu Matahari, yakni GSM tahunan dan harian. Gerak semu tahunan Matahari menyebabkan pergantian musim seperti telah dijelaskan sebelumnya. Sementara gerak semu harian Matahari (GSHM) mengakibatkan adanya pergantian siang dan malam di planet Bumi.
Pergerakan ini dikatakan semu sebab bagi pengamat di Bumi yang tampak bergerak adalah Matahari. Padahal kenyataannya, "pergerakan" Matahari yang nampak oleh pengamat di Bumi terjadi akibat gerak Bumi terhadap Matahari. Gerak rotasi Bumi menyebabkan GSM harian, sementara revolusi Bumi menyebabkan GSM tahunan.
GSTM membuat Matahari tidak selalu tepat terbit di arah timur, tapi seolah-olah terbit semakin ke utara atau ke selatan tergantung bulan tertentu.
Halia Yang Kaya Manfaat Bagi Keluarga(Opens in a new browser tab)
Lebih lanjut, Siswanto menjelaskan GSTM sendiri disebabkan revolusi bumi, yaitu gerak putar bumi pada orbitnya mengelilingi Matahari. Namun, poros Bumi ketika mengelilingi Matahari tidak tegak lurus, melainkan miring 23,5 derajat.
Sehingga, menyebabkan gerak semu seolah-olah Matahari bergerak lebih ke utara atau selatan, terutama jika diamati dari khatulistiwa seperti dari kawasan Indonesia.
"Pada 22 Desember-21 Juni matahari seolah-olah bergeser ke belahan Bumi utara dan pada 22 Juni-21 Desember matahari seolah bergerak ke arah belahan Bumi selatan. Ini juga yang menyebabkan kadang-kadang seolah-olah Matahari terbit seperti dari arah agak utara atau selatan," tulisnya. (mas/eks/all)

