Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Bupati Merauke Minta Umat Katolik Dukung Tugas Imamat

Pemotongan Kue Panca Windu oleh Pastor Pius Banda Pr didampingi Bupati Merauke
Pemotongan Kue Panca Windu oleh Pastor Pius Banda Pr didampingi Bupati MeraukeFoto / MIMIKA
Redaksi6 menit baca0 kali dibaca

Merauke, fajarpapua.com – Umat Katolik Keuskupan Agung Merauke merayakan Misa Syukur Panca Windu (40) tahun usia imamat Pastor RD Pius Banda, Pr yang dilaksanakan di Gereja Paroki Santa Maria Fatimah, Kelapa Lima Merauke, Minggu (20/6).


Perayaan misa syukur panca windu berlangsung meriah dan hikmat dipimpin oleh Pastor Hengky Kariwop, MSC bersama enam pastor konselebran yang hadiri oleh biarawan-biarawati dan tamu undangan lainnya. Usai perayaan misa syukur dilaksanakan resepsi yang dihadiri Bupati Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT, Dandim 1707/Merauke dan unsur Forkopimda, tokoh masyarakat dan tokoh adat serta masyarakat lainya.


Dalam kesempatan itu, Bupati Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT meminta umat Katolik di Keuskupan Agung Merauke untuk mendukung penuh tugas pelayanan imamat seorang pastor di Tanah Selatan Papua. Tugas imamat pastoral menjadi panggilan hidup yang memiliki tantangan yang sangat berat untuk mewartakan karya-karya besar Allah melalui sebuah perutusan di tanah ini.


Bupati Mbaraka mengingatkan umat Katolik di Selatan Papua untuk terus memberikan motivasi spiritual pada tugas pelayanan imamat untuk kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan dunia di era teknologi digital saat ini.
“Bapak Ibu, kita umat ini tidak boleh cerita-cerita pastor, suster.

Jangan suka bikin gosip dan mulut terlalu ember. Jadi kita punya pastor-pastor ini di zaman teknologi canggih ini dengan tantangan dan pengaruh yang begitu dahsyat, kita ini harus terus beri motivasi kepada para pastor dan suster. Jangan kita cerita-cerita dorang.


“Pastor sudah sedikit lagi, orang lain juga tumbuh, agama lain juga tumbuh. Jadi kita tidak boleh cerita imam-imam kita, mari kita beri spirit dan supporting kepada mereka, agar mereka betul-betul kuat dalam menjalankan tugas imamatnya. Ini yang harus kita dukung habis-habisan imam kita, suster kita, bruder kita dan diakon kita, harus itu,” ajak Bupati Mbaraka kepada umat yang hadir.


Menurut Bupati, jumlah pastor yang berkarya di Tanah Selatan Papua saat ini masih sangat minim dibandingkan dengan jumlah umat yang terus bertumbuh. Mengingat, panggilan yang tumbuh untuk hidup mengimamat sangat sedikit. Sementara jumlah pastor yang memasuki usia purnah tugas cukup banyak, sehingga tak sebanding.


“Pastor kita yang pensiunnya sepuluh (10) orang, yang jadinya satu (1) anak lokal. Jadi terlalu jauh berbeda kita. Kemarin kita bahas dengan Bapak Uskup dan Ambe (Bapak) Pastor John Kandam, kita coba berupaya buka seminari di beberapa tempat setingkat SMP. Ini ada sumbangan untuk seminari yang ada di Merauke, sehingga calon imam kita terus tumbuh di tanah ini,” kata Mbaraka.


Bupati Merauke memberikan apresiasinya yang tinggi atas dedikasi tugas pelayanan imamat Pastor Pius Banda, Pr di Tanah Selatan Papua yang kurang lebih mencapai 27 tahun lebih dan menyampaikan proficiatnya atas capaian usia imamat yang ke-40 (Panca Windu).

“Terima kasih Pastor Pius sudah layani kami di sini. Terima kasih untuk Tuhan Yesus, leluhur yang sudah mengutus Pastor Pius untuk berkarya di Tanah Marind ini. Sebagai anak Kelapa Lima, tokoh masyarakat dan selaku Bupati Merauke, sekali lagi saya menyampaikan terima kasih kepada Pastor Pius dan semua pastor yang ada yang sudah melayani kami.


“Hari ini Pastor Pius sudah mencapai 40 tahun usia imamatnya. Ini panggilan yang sangat berat dalam tugas imamatnya sebagai manusia dan pastor juga manusia. Banyak cobaan dan pengaruh yang sudah dilewati, usianya sudah 75 tahun dan imamatnya 40 tahun. Semoga dalam usia imamatnya ke-40 ini di Merauke, muncul banyak calon penggantinya di sinu. Terima kasih juga kepada para senior imam yang hadir,” ucap Bupati Romanus Mbaraka.


Sementara itu, Jubilaris Panca Windu, Pastor Pius Banda, Pr dalam sambutan memberikan sharing pengelaman tugas imamatnya selama 40 tahun. Dalam sharingnya, Pastor Pius menyebutkan perjalanan imamatnya hingga mencapai panca windu ini dilalui dengan pengelaman suka maupun duka. Susah senang, pahit getir sudah dirasakan selama meng-klerus (jabatan imamat) selama 40 tahun. Dua belas setengah tahun (12 tahun 6 bulan) Pastor Pius bertugas di Keuskupan Agung Ende dan dua puluh tujuh setengah tahun (27 tahun 6 bulan) bertugas di Keuskupan Agung Merauke.


“Saya ditahbiskan menjadi imam  tepatnya tanggal 21 Juni 1981 di Kampung Wolojita, Ende-Flores NTT. Sebenarnya tanggal 21 Juni 2021 genap 40 tahun usia imamat saya, karena sesuatu dan lain hal perayaan Panca Windu imamat saya ini dimajukan satu hari, yakni 20 Juni 2021. Saya ditahbiskan bersama 18 rekan imam lainnya (12 imam SVD dan 7 imam Projo). Yang SVD ada yang sudah meninggal, ada yang sudah keluar, tetapi sebagian besar masih hidup. Sedangkan yang Projo, dua orang imam sudah meninggal, masih tinggal 5 orang sampai sekarang dan mereka juga sekarang di Flores sedang merayakan pesta 40 tahun imamat.


“Saya ditahbiskan pada umur yang agak lanjut, yakni 35 tahun dimana biasanya untuk ditahbiskan menjadi imam usia 28-29 tahun, tetapi saya usia 35 tahun baru ditahbiskan menjadi imam. Tentu ada alasannya, kenapa saya sampai tertunda begitu jauh. Latar belakang panggilan saya menjadi imam begitu berliku-liku. Sehingga saya ditahbiskan 7 tahun kemudian dari pada teman-teman saya, karena 7 tahun saya berada di luar seminari tinggi.


“Dengan alasan itu maka saya memilih motto tahbisanku, “Ya Tuhan kemana aku dapat lari dari hadapan-Mu..juga di sana tangan kananMu menuntun aku” (Mazmur 139:7,10). Selama pengembaraan 7 tahun di luar seminari, saya mengalami tawaran-tawaran yang menggiurkan (jabatan, uang dan pangkat) dan sebagainya. Namun saya tetap memilih menjadi imam. Saya merasakan itu sebagai tangan Tuhan yang membimbing saya.

Biar bagaimana pun, saya tetap memilih jalan menjadi imam sesuai dengan cita-cita awal sejak saya masih SR (Sekolah Rakyat zaman dahulu setingkat SD). Dan sesudah ditahbiskan menjadi imam yang bertugas di Keuskupan Agung Ende 12 setengah tahun.


“Pada tahun 1993 ada tawaran dari Keuskupan Agung Merauke untuk menjadi imam kontrak kerja. Kemudian saya menawarkan diri dan saya diterima. Tanggal 20 Januari 1994 saya mendarat di Bandara Mopah dan mulai berkarya di Keuskupan Agung Merauke.

Mula-mula di Paroki Rasul-Rasul Kuper, Distrik Semangga (1994-1998) kemudian Paroki St. Yoseph Bambu Pemali (1998-2006), dua tahun non job tinggal di Paroki Bampel dan terakhir ini di Paroki Sta. Maria Fatimah, Kelapa Lima (2008-2016). Sejak tahun 2016 saya pensiun sebagai Pastor Paroki Kelapa Lima” ucap Pastor Pius mengisahkan.
Pastor juga menyebutkan kesetiaan menjalani panggilan hidup imamatnya juga tak luput dari berbagai cobaan.  Dalam suatu refleksi iman, dia melihat imamat itu sebagai suatu panggilan hidup. Tugas imam adalah pelayanan sakramen dan pewartaan sabda Tuhan.


“Sekali kita ambil jalan ini tidak bisa kita undur lagi. Itu yang saya alami. Banyak imam yang keluar dan berhenti, tetapi saya sekali mengambil langkah untuk tetap menjalankan imamat saya dengan segala macam tantangan yang ada. Inilah pengelaman imamatku selama 40 tahun yang dapat saya sharingkan. Akhirnya kedepan di kala umurku semakin menanjak dan kondisi fisikku semakin rapuh, dengan mengharapkan doa-doa anda sekalian untuk memperkenankan saya memasuki usia imamatku yang ke-50. Saya mengucapkan terima kasih kepada kalian semua atas dukungannya. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian,” pungkas Pastor Pius Banda, Pr (hrs).