Timika, fajarpapua.com - Serlin Pare (35) ditemukan tidak bernyawa, Rabu (22/9) sekitar pukul 19.00 WIT di kediamannya, Jl. Yos Sudarso Nawaripi, lorong Masjid Al-Maliki Timika, Papua.
Kasat Reskrim Polres Mimika, AKP Hermanto, saat dikonfirmasi fajarpapua.com Kamis (24/9) membenarkan kejadian itu.
Hermanto mengatakan penganiayaan dilakukan oleh suaminya sendiri hingga korban meninggal dunia.
Diduga penganiayaan bermula karena cemburu buta. Setelah melakukan penganiayaan, pelaku dengan inisial HP (41) menyerahkan diri dan langsung diamankan di Mapolsek Mimika Baru, namun kasusnya ditangani Unit PPA Reskrim Polres Mimika.
Dikemukakan, sekitar pukul 23.00 WIT, tim gabungan piket fungsi yang dipimpin AKP Hermanto sekaligus Pawas 01 tiba di kamar Jenasah RSUD Mimika untuk untuk melakukan pengecekan fisik korban.
"Penganiayaan yang sebelumnya diinformasikan melalui HT oleh Patroli Polsek Mimika Baru kepada Tembaga 01. Setibanya di kamar jenazah RSUD Mimika melihat sudah banyak keluarga korban berada di kamar jenazah," katanya.
Pada kesempatan itu, Hermanto bersama anggota piket meminta keterangan dari beberapa saksi untuk diketahui jelas kronologis kejadian, saksi diantaranya kedua anaknya sendiri dan satu orang dari sepupu korban.
Anak kedua korban, Arjun Poddalah (11) menceritakan secara singkat peristiwa yang menimpa ibunya. Ia mengaku tidak tahu secara jelas awal mula kejadian, namun dia sempat melihat ibunya masih bergerak dengan kondisi tubuh berlumuran darah.
"Saya masuk dalam rumah lihat mamak sudah banyak darah dan masih bergerak, kemudian saya lari ke rumah nenek yang rumahnya tidak jauh minta tolong dan memberitahukan mamak sudah tidak ada (meninggal dunia)," ucapnya.
Sedangkan anak pertama korban, Haser Poddalah (16) mengetahui jelas ibunya lagi cekcok dengan ayahnya. Saat terjadi keributan, Arjun mendengar langsung percakapan kedua orang tuanya itu.
Sore harinya, (versi pelaku), pelaku emosi setelah melihat handphone milik korban ada foto berduaan dengan laki-laki lain, diduga laki-laki itu tukang ojek. Pelaku dengan suara keras menunjukkan foto itu ke Haser, dikatakan perilaku ibunya itu tidak benar.
"Saya main di rumah teman lalu pulang rumah lihat mamak sudah berdarah dan hanya gerak-gerak, sebelumnya sore bapak dengan mama ribut dan memang sudah sering ribut. Bapak dapat di HP mamak foto berduaan dengan laki-laki lain tukang ojek, bapak bilang di saya lihat kelakuan mamakmu ini, sambil bapak kasih tunjuk foto yang ada di HP," ujar Haser.
Haser ketakutan, kemudian pergi ke rumah temannya yang tidak jauh dari kediaman mereka. Selang beberapa waktu kemudian ayahnya menelepon. Pelaku dengan suara emosi berkata kotor dan mengancam Haser untuk segera pulang.
"Mungkin kalau saya pulang saya juga dibunuh juga kapa," jelas Haser penuh ketakutan.
Sementara itu, sepupu korban, Kaltin Aripin (17) mengaku, anak kedua dari korban Arjun mendatangi rumahnya sambil menangis. Dengan suara ketakutan Arjun mengatakan mamanya sudah meninggal dunia. Kaltin yang sempat tidak percaya mendatangi rumah korban dengan membawa balok kayu.
Namun Kaltin hanya melihat korban sudah tidak berdaya dikelilingi darah dalam kondisi telanjang. Dia sempat membawa jenazah korban ke ruang IGD di RSUD Mimika, namun dokter mengatakan korban sudah tidak bernyawa.
"Saya bawa balok kayu saya pikir suaminya masih ada di rumah ternyata sudah tidak ada. Saya lihat almarhum sudah banyak darah di kasur dalam keadaan telanjang hanya gerak-gerak saja kemudian kami keluarga bawa almarhum ke RSUD namun sampai di IGD dokter bilang sudah meninggal," ungkapnya.
Selanjutnya, dipimpin Ka Jaga Aiptu Alfino Yanri bersama 2 personil piket intel dari RSUD Mimika menuju Polsek Miru menemui pelaku untuk menanyakan kronologisnya.
Setelah ditanya, pelaku melakukan penganiayaan lantaran telah emosi dan sakit hati yang sudah dipendam sejak lama
Diungkapkan sudah berulang kali menciduk istrinya chatingan dengan pria lain.
Emosinya semakin tidak tertahan setelah melihat langsung salah satu foto dari handphone milik istrinya. Foto itu memperlihatkan istrinya sedang berdua dengan laki-laki diduga salah satu pengojek di Pasar Sentral Timika.
"Sore saya tanyakan kepada istri saya. Ada hubungan apa kamu dengan dia, istri saya terus menyangkal malah meminta cerai katanya sudah tidak suka lagi dengan saya. Foto itu saya sempat kasih tunjuk sama anak pertama saya atas kelakuan mamaknya," katanya.
Permasalahan itu sempat dibicarakan dengan baik-baik, dengan santai pelaku meminta kepada istrinya untuk berhubungan badan. Dalam posisi (sensor), korban kabarnya marah-marah.
"Sehingga saya khilaf ambil kayu balok 5X5 yang ada di atas lemari yang saya simpan biasa buat ronda," ujar pelaku.
Kemudian pelaku memukul istrinya menggunakan balok kayu sebanyak 4 kali. Setelahnya pelaku meninggalkan istrinya, sempat mendengar teriakan minta tolong tapi pelaku mengabaikannya.
"Sempat dengar istri saya minta tolong tapi saya lanjut pergi dan mencari ojek untuk menyerahkan diri ke Polsek Mimika Baru," kata Pelaku.
Atas kejadian itu, Kepolisian memberikan pemahaman terhadap pihak keluarga untuk menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada polisi, sehingga meminimalisir amarah dari pihak keluarga korban.
Sebelumnya adik korban, Shertin Linggi mengaku kakaknya dianiaya akibat cemburu buta pelaku.
“Tadi malam sekitar jam 21.00 malam pak, kakak kandung saya dipukul balok di bagian kepalanya. Saat diantar ke rumah sakit dia meninggal dalam perjalanan,” ungkap adik korban, Shertin, Kamis pagi.
Pelaku yang merupakan suami korban itu sendiri diketahui berinisial HP. Dari pengakuan adik korban, HP tega mengakhiri hidup istrinya diduga lantaran cemburu buta.
Kepada redaksi, Serthin menceritakan kronologi kejadian yang menimpa saudarinya tersebut.
“Istrinya (korban) kan kerja di pasar sedangkan suaminya (Hp) di rumah saja, jadi kalau istrinya keluar dia terlalu curiga, banyak curiganya. Jadi setiap pulang itu istrinya dari pasar dia cek HP nya. Pas di pasar, mungkin ada mata-matanya suaminya, ada tukang ojek dia (korban) temani duduk, tapi kan ada ibu saya dia temani juga. Dia (mata-mata HP) foto, mungkin dia kirimkan suaminya di situlah dia marah, padahal itu kan banyak orang namanya juga pasar,” ujarnya.
Serthin juga mengatakan, hal itu diketahui setelah anak dari korban yang berumur 4 tahun mendatangi tantenya (Shertin) dan neneknya (ibu korban) di pasar. Ia mengatakan bahwa ibunya telah dibunuh.
“Saksinya anaknya yang kecil kasian baru empat tahun. Dia datang ke sana (pasar), dia bilang mamak dibunuh. Kami lari kesana, suaminya sudah tidak ada. Kakak saya sudah berlumuran darah pas kami masuk,” ungkap Serthin.
Diduga, sebelum akhirnya meninggal, ia sempat mengalami penganiayaan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya luka memar di sekujur tubuh korban.
Sempat kabur, namun akhirnya pelaku menyerahkan diri. Akibat perbuatannya, saat ini pelaku mendekam di sel tahanan Polsek Miru. (rul)
Artikel ini telah tayang di fajarpapua.com - Klik link untuk baca https://fajarpapua.com/2021/09/23/cemburu-buta-tadi-malam-seorang-ibu-rumah-tangga-asal-toraja-di-nawaripi-tewas-dibunuh-suami-anak-4-tahun-kabari-mamanya-meninggal/

