Penulis : Mustofa
(Redaktur fajarpapua.com)
Fajarpapua.com - GELARAN PON XX Papua Tahun 2021 menjadi sejarah bagi Provinsi Papua dan tentunya bagi Rakyat Papua, karena menjadi salahsatu daerah di Indonesia yang mampu sebagai penyelenggara iven olahraga nasional empat tahunan tersebut.
Sehingga tak ayal, pemerintah daerah baik Provinsi Papua maupun kabupaten dan kota di empat klaster penyelenggaranya bekerja keras secara kolosal dalam mempersiapkan tetek bengek demi suksesnya Iven ini.
Kerja kolosal untuk menyukseskan PON XX Papua yang dilakukan, bukan hanya dari jumlah sumberdaya manusia yang terlibat didalamnya.
Tetapi juga jumlah sumber dana yang dianggarkan untuk Iven ini yang juga kolosal, karena nilainya sangat besar bahkan setara dengan 2 hingga 3 kaki nilai APBD rata-rata Kabupaten dan Kota di Provinsi Papua.
Dengan kerja dan sumber dana yang kolosal ini, sehingga sangat masuk akal jika pemerintah provinsi kemudian mencanangkan 4 sukses dalam penyelenggaraan PON XX Papua.
Bahkan dalam setiap kesempatan, Gubernur Papua yang juga Ketua PB PON XX Papua, Lukas Enembe menegaskan agar setiap pihak yang terlibat harus menjunjung tinggi sukses prestasi, sukses administrasi, sukses pemberdayaan ekonomi dan sukses pembangunan dalam gelaran iven olahraga nasional itu.
Dalam tulisan kali ini, kita kesampingkan terlebih dahulu 3 sukses lainnya dan kita akan membahas sukses pemberdayaan ekonomi.
Patut diakui, saat ini pegelaran PON XX Papua terutama di Klaster Mimika memiliki dampak ekonomi di masyarakat daerah ini secara umum.
Namun juga harus diakui juga bahwa, dampak tersebut tidak dirasakan secara merata karena "hanya" dirasakan oleh pelaku ekonomi yang berada di Kota Timika.
Sementara para pelaku ekonomi terutama ekonomi kreatif yang ada di luar bahkan yang berada di pinggiran Kota Timika nyaris tidak merasakan dampak ekonomi dari hingar bingarnya PON XX Papua.
Tidak dirasakannya dampak ekonomi oleh masyarakat pinggiran ini setidaknya tergambar dan tersirat dari unggahan pengguna Akun Facebook Pakris Umbora pada Minggu, 26 September 2021 kemarin.
Dalam unggahan tersebut terlihat puluhan Mama-mama dan Seniman asli Suku Kamoro menggelar karya seni serta hasil karya mereka di Kampung Mware, Distrik Mimika Timur.
Ironisnya, ditengah hingar-bingar perhelatan PON XX Papua, mereka menggelar karya seni mereka di lapak yang sangat jauh dari kata layak untuk memamerkan atau memasarkan "Maha Karya" mereka.
Hanya dengan batang kecil Pohon Mangi-mangi atau Mangrove, beratapkan terpal serta seng bekas dan beralaskan papan lapuk atau tanah yang diatasnya diberi tikar mereka menggelar karya seni yang oleh Bangsa Luar diberi apresiasi yang sangat tinggi.
Entah belum atau mungkin nemang tidak, dijejeran lapak Mama-mama dan Seniman Suku Kamoro yang berada dibahu Jalan Kampung Mware tidak ada setitik pun ornamen PON XX Papua.
Padahal jika mengacu kepada tujuan terutama Sukses Pemberdayaan Ekonomi, kelompok inilah yang seharusnya patut mendapat tempat, alokasi bahkan prioritas untuk ditampilkan.
Mengapa? Selain alasan inklusif bahwa Mama-mama dan Seniman Kamoro adalah Pemilik Tanah Amungsa Bumi Kamoro, harus diakui keberhasilan mereka dalam mempertahankan tradisi serta jatidiri sebagai Masyarakat Adat harus diapresiasi lebih.
Apa yang mereka hasilkan adalah wujud kecintaan serta kebanggaan mereka terhadap identitasnya sebagai Masyarakat Kabupaten Mimika.
Beberapa waktu lalu, fajarpapua.com sempat berbincang dengan seorang pejabat di lingkup dinas yang seharusnya bertanggungjawab terhadap pemberdayaan ekonomi para seniman lokal dalam menyambut Iven Akbar seperti PON XX Papua.
Alasan klasik TIDAK TERSEDIANYA DANA serta ketidak sempurnaan hasil karya terucap saat ditanya mengenai pemberdayaan para pengrajin maupun seniman lokal di PON XX Papua.
Memang benar dan harus diakui, bahwa seluruh program kerja apalagi bentuknya PEMBERDAYAAN MASYARAKAT membutuhkan dana atau uang sebagai penggeraknya.
Namun tidak serta merta keterbatasan pendanaan harus menghentikan proses pemberdayaan terhadap para perajin, seniman lokal dan juga Mama-mama Papua untuk menunjukkan kearifan lokal terutama karya seni Suku Kamoro yang sebenarnya telah mendunia.
Apalagi, Iven kolosal sekelas PON yang dihadiri oleh tamu, utusan, atlit, official dari 34 provinsi dan bahkan pejabat negara yang jumlahnya RIBUAN ORANG
Seharusnya pemerintah daerah dan tentunya panitia PON XX Papua bisa melihat sebagai momentum untuk lebih mengenalkan daerah ini kepada saudara sebangsa "INI LOH MIMIKA".
Dan ingat, momentum ini belum tentu akan terulang lagi dalam waktu dekat, bahkan bagi penulis maupun orang yang seumuran dengan penulis, momentum ini mungkin menjadi PON di Papua terakhir yang bisa dirasakan, dilihat bahkan dinikmati secara langsung.
Mengapa? Jika mengacu pada Iven PON yang hanya digelar 4 tahun sekali, dan jika mengacu saat ini di Indonesia ada 34 provinsi maka mungkin hingga diatas 100 tahun ke depan Provinsi Papua kembali dipercaya sebagai tuan rumah dan belum tentu Kabupaten Mimika kembali dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan.
Sehingga apa salahnya, jika pihak terkait terutama pemerintah daerah menjadi "Problem Solving" dalam proses pemberdayaan sehingga para seniman asli Kabupaten Mimika termasuk Suku Kamoro juga merasakan 'Nikmatnya' PON XX Papua.
Penulis sangat salut dengan langkah kecil yang dilakukan Akun Facebook Pakris Umbora yang membagikan kegundahannya terhadap keberadaan seniman Suku Kamoro yang tidak ikut diberi kesempatan untuk menikmati "Rejeki Nomplok" PON XX Papua.
Disadari atau tidak, langkah kecil akun tersebut diatas bisa menjadi tamparan halus di muka para pengambil kebijakan yang selalu mengkambinghitamkan dana sehingga mereka "Tidak Mampu Melangkah".
Dan yang paling "memerahkan muka kita" nantinya adalah penilaian tamu, utusan, atlit, official dari 34 provinsi dan bahkan pejabat negara jika ikut membaca kondisi ini.
Kita harus patut bersyukur karena masih ada jemari pengguna media sosial yang mau dan ingin membagikan informasi tentang kemauan Seniman Suku Kamoro memeriahkan PON XX Papua meski mereka sendiri tidak dianggap ada.
Seandainya puluhan bahkan ratusan ribu pengguna media sosial di Timika bersama-sama menggunakan jemarinya untuk menyebarkan informasi seperti yang dilakukan oleh akun diatas.
Bisa dibayangkan, betapa besar efek sosial ekonomi yang timbul jika pengguna media sosial menyadari langkah kecil yang bisa mereka lakukan.
Karena patut diketahui, selama ini Media Sosial Seringkali Menjadi Sumber Keajaiban (Do Your Magic) dibanding dengan LIPS SERVICE Para Pengambil Keputusan apalagi Mereka yang Duduk Dikursinya Bukan Karena Prinsip The Right Man in The Right Places.***

