BERITA UTAMAMIMIKA

Refleksi HUT ke-26: Selayang Pandang Mimika, Kota Dolar dengan Sejuta Kenangan Sejarah

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
15
×

Refleksi HUT ke-26: Selayang Pandang Mimika, Kota Dolar dengan Sejuta Kenangan Sejarah

Share this article
IMG 20221009 WA0020
Kota Timika

Timika, fajarpapua.com – Siapa tidak mengenal Mimika? Satu dari beberapa kabupaten di Papua yang paling dikenal dan dicari orang dari berbagai daerah di Indonesia dan bahkan luar negeri sejak dulu hingga sekarang. Banyak orang luar dan juga orang Papua sendiri lebih mengenal Mimika karena adanya perusaan tambang tembaga dan emas, Kuala Kencana, Timika dan dolar. Padahal Mimika lebih luas dan kaya dari semua itu. Mimika memiliki deposit sejarah emas yang tertimbun dalam ingatan suku-suku bangsa Kamoro dan Amungme, dan arsip-arsip sejarah.

Menelusuri sejarah Mimika merupakan pekerjaan yang menantang tetapi menarik. Tulisan berikut merupakan hasil temuan penulis atas sedikit catatan sejarah Mimika pada masa pemerintahan Belanda, fase dimana Mimika berada di dalam wilayah yang disebut Nugini-Belanda (1907-1962).

Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya
Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya


Sebelum abad ke sembilanbelas, Pemerintah Kolonial Belanda (PKB) menganggap seluruh pulau Papua sebagai terra incognita (wilayah yang tidak diakui). Oleh karena itu pulau nan kaya ini tidak mendapat perhatian serius dan hanya dijadikan tempat persinggahan dan pengawasan oleh Belanda atas aktivitas pedagang-pedagang Spanyol, Inggris dan German (Gernaut, et al, 1974). Untuk tujuan itu, Belanda menyerahkan pendudukan atas pulau ini kepada Kesultanan Tidore, yang mulai di Fak-Fak dan sekitarnya. Baru pada tahun 1898 Belanda memproklamirkan penguasaannya atas Papua Bagian Barat dengan sebutan Nugini-Belanda, dan mendirikan pos militer di Fak-Fak dan Manokwari berdasarkan konvensi Belanda dan Britania Raya tahun 1890. Dengan ini Belanda menganeksasi seluruh Pantai Selatan Papua, mulai dari Fak-Fak, Mimika sampai ke Merauke. Pos pengawasan kedua dibangun di Merauke pada tahun 1902.

Tindakan Belanda tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi politik kawasan pasifik, utamanya aneksasi Inggris dan German atas Papua bagian Timur (PNG), yaitu Inggris menduduki bagian Selatan, dan German menduduki bagian Utara pada tahun 1884. Tindakan German didorong oleh temuannya atas deposit emas di Pulau Bougenvile; dan Inggris menemukan deposit emas di wilayah Tabubil.
Kondisi tersebut memaksa Belanda menggiatkan pembangunan pada beberapa bidang penting di Nugini-Belanda. Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz (Batavia) menugaskan H. Colijn dan dengan dukungan militer mengunjungi Nugini-Belanda untuk mewujudkan rencana pembangunan, utamanya pembangunan ekonomi, mereorganisasi pemerintahan, dan mengupayakan keseimbangan antara pemasukkan dan pengeluaran keuangan pemerintah. Ini kebijakan pembangunan untuk pertama kali oleh Belanda atas Nugini-Belanda dimulai tahun 1907(Verslag, 1920 dalam Schoorl, 2001).

Dari sisi administratif pemerintahan, Belanda melakukan pembagian wilayah dalam apa yang disebut Afdeling dan Onderafdeling. Pada tahun 1910 Mimika dimasukkan ke dalam Afdeling West-Nieu-Guinea (Residensi Amboina) dengan status daerah penjajakan. Sepuluh tahun kemudian, 1 April 1920, Mimika dikeluarkan dari Keresidenan Amboina lalu dimasukkan ke dalam Residensi Ternate. Tahun 1946 Residensi Nugini-Belanda dibentuk dan dipisahkan dari Residensi Ternate. Setahun kemudian residensi ini dibagi menjadi empat Afdeling.

Sejak 1946 Mimika sudah berstatus Onderafdeling di bawah Afdeling Fak-Fak yang berlangsung hingga 1962.

Pada Tahun 1961, pembagian wilayah di Nieuw Guinea diubah menjadi 6 Afdeling yaitu, Hollandia, Geelvinkbaai, West Nieuw Guinea, Fakfak, Zuid Nieuw Guinea dan Centraal Bergland. Afdeeling Fakfak membawahi tiga onderafdeeling yaitu Fakfak, Kaimana dan Mimika.Tercatat Amtenar pertama dengan status kepala onderafdeling untuk Mimika adalah A. Scheele (1946-1947). Sejak 1946 hingga 1962 Onderafdeling Mimika sudah dipimpin oleh sepuluh Amtenar, dengan delapan Amtenar berstatus koa (kepala onderafdeling), satu berstatus asisten pembantu BB (Binnenlands Bestuur), dan satu lagi berstatus calon asisten pembantu BB (Schoorl, 2001).

Upaya reorganisasi dan pembentukan pemerintahan baru di Nugini-Belanda tentu saja membutuhkan biaya yang sangat besar, tenaga yang cakap, tangguh dan pemahaman yang memadai atas lingkungan alam dan masyarakat dengan kerumitan budaya dan adat istiadat. Alam lingkungan, masyarakat dan budaya disebutkan menjadi tantangan terberat pembangunan. Tantangan lain yang signifikan menghambat pembangunan adalah perang dunia pertama yang melanda Eropa 1917-1919.
Pasca perang itu, kebijakan pembangunan atas Nugini-Belanda kembali dilanjutkan.

Dalam masa ini (1920-1940) dapat dilihat pembangunan yang menonjol di bidang ekonomi, yaitu pemerintah Belanda bekerja sama dengan perusahaan swasta BPM dan anak perusahaan NNGPM menghasilkan minyak mentah di Sorong tahun 1935. Seberapa besar keuntungan penambangan itu dinikmati penduduk Nugini-Belanda? Entahlah!!! Namun yang pasti penambangan itu menyerap banyak tenaga kerja Papua, tidak terkecuali penduduk yang bermukim di wilayah Mimika.

Kees Lagerberg (koa Mimika 1954-1956), dalam salah satu catatan hariannya tentang Mimika menulis: “Kadang-kadang juga datang kapal dari perusahaan minyak NNGPM, yang menjemput atau mengantar pulang pekerja.” Pada bidang pemerintahan disebutkan ada peningkatan jumlah aparatur pemerintah, khususnya di Onderafdeling Mimika, tahun 1938, terdapat 1 pegawai berkebangsaan Belanda, 4 pegawai dari Maluku, 21 anggota polisi, dan 15 polisi swa praja (Galis, 1953 dalam Schoorl, 2001).

Pelaksanaan pembangunan atas Nugini-Belanda sekali lagi mengalami stagnasi akibat dari pendudukan Jepang atas wilayah ini pada tahun 1942, sebagai bagian dari konstelasi politik perang pasifik antara Jepang dan Amerika. Pendudukan Jepang dan dampaknya atas wilayah Mimika digambarkan Pouwer (1955): “lebih dari 800 tentara Jepang memaksa kerja orang-orang Kamoro membuat kebun untuk jadi sumber pangan, dan membuat lapangan terbang di antara Kaekwa dan Mimika Pantai. Boelaars (1995) juga mencatat kondisi kegiatan misi katolik saat itu “Kegiatan misi katolik pun dalam pelayanan sakramen baptis, pernikahan, ekaristi terhenti. Sekolah-sekolah ditutup.”

Pasca kekalahan Jepang oleh Amerika, wilayah Nugini-Belanda dikembalikan ke pemerintahan Belanda. Dimulai lagi pembangunan fase ketiga dari 1946-1962. Di wilayah pesisir pantai Selatan, PKB membuka Koembe Rijst Bedrift/proyek padi Kumbe seluas 200 hektar di Merauke tahun 1959 (Overweel, 1993). Perkebunan Pala Banda, coklat dan kopi dibuka di Fak-Fak tahun 1961 (Schrool, 2001). Menduduki tempat sentral di antara Fak-Fak dan Merauke, Mimika merupakan pelabuhan penting bagi aktivitas Belanda di bidang politik pemerintahan (mutasi pegawai dan komunikasi), dan ekonomi (transportasi dan perdagangan). Kedudukan strategis Mimika itu digambarkan Kees Lagerberg (dalam Schoorl, 2001) “Di Pos Mimika dua tahun sekali didatangi kapal KPM, dan kalau ada membawa muatan seperti kayu gelondongan. Sering muatan itu terlantar dan kapal begitu saja berlayar lagi.”

Mimika juga menjadi tempat penting persinggahan kapal milik Perusahaan Swasta Belanda IMEX yang melakukan eksploitasi hutan kayu besi di Asmat tahun 1953. Pertanian dan perkebunan tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pasar Pasifik Selatan masa itu.
Bercerita tentang Mimika tidak lengkap bila tidak mengedepankan kisah pembangunan di Agimuga (Amungme).

Agimuga mendapat perhatian para Amtenar Onderafdeling Mimika karena satu alasan utama, yaitu transmigrasi atau mungkin lebih tepat relokasi. Gambaran tentang kebijakan PKB mengenai program transmigrasi atau relokasi Orang Amungme dapat diringkas dari pendapat Hein van Der Schoot (koa Mimika, 1961-1962). Program ini pada intinya merupakan upaya pemerintah Belanda memindahkan Orang Amungme dari daerah asal seperti Lembah Tsingga dan Noemba ke Agimuga. Tujuannya mengurangi kepadatan penduduk, potensi konflik orang Amungme dengan para migran asal Damal atau Baliem, dan membatasi arus migrasi orang Amungme ke wilayah Pantai milik orang Nawarepi dan Sempan. Program transmigrasi atau reloksi sudah dimulai sejak R.A. Sneel menjabat koa Mimika (1956-1958). Schoot tidak sependapat dengan program tersebut namun tetap saja dilaksanakan.

Pemerintahan Kabupaten Mimika memilliki akar sejarah yang panjang, lama, berliku-liku dan kaya. Fakta historis tersebut mestinya menyadarkan para pemangku kepentingan kabupaten ini untuk menggali, menulis dan merefleksikan kembali ingatan sejarah yang terkubur bertahun-tahun. Menulis sejarah Mimika, seminar, lomba karya ilmiah tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, lomba cerdas cermat tingkat SD dan SMP bertemakan Mimika adalah pilihan yang bijaksana setiap merayakan HUT Kabupaten Mimika 8 Oktober ketimbang berpesta pora. Dirgahayu Kabupaten Mimika. (Oleh Laurens Minipko, Pemerhati Masalah Budaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *