BERITA UTAMAMIMIKA

Pesan Natal P. Maximilianus Dora OFM, Pastor Paroki Sempan Timika, “Allah yang Solider dan Mengangkat Martabat Manusia”

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
10
×

Pesan Natal P. Maximilianus Dora OFM, Pastor Paroki Sempan Timika, “Allah yang Solider dan Mengangkat Martabat Manusia”

Share this article
Pastor Maximilianus Dora OFM
Pastor Maximilianus Dora OFM

Timika, fajarpapua.com – Perayaan Natal 25 Desember 2022 merupakan perayaan “Allah yang Solider Dan Mengangkat Martabat Manusia”. Tidak ada hal yang luar biasa waktu Tuhan Yesus Lahir. Tidak ada rumah untuk tinggal, hanya kandang hewan. Dan Yesus lahir di kendang hewan itu. Di situ, tidak ada tempat tidur. Yang ada hanya palungan binatang: tempat makan hewan.

Untuk menghangatkan badan Yesus, tidak ada selimut yang besar dan lembut. Yang ada hanya kain lampin. Tidak banyak orang yang hadir dan ada di situ. Yang ada hanya Maria dan Yosef, ditambah beberapa ekor domba. Para gembala baru muncul kemudian. Yesus lahir di tengah situasi serba biasa dan sederhana.

Ads

Mengapa Yesus lahir di tengah kondisi demikian? Apa maksudnya? Pertama, Tuhan mau solider. Ia ingin sama, senasib dengan orang kecil, manusia biasa. Tuhan kita bukan Tuhan yang jauh dari manusia. Tuhan kitabukan Tuhan yang enggan, canggung, malu bergaul dengan orang kecil dan sederhana. Ia sangat dekat dan akrab dengan siapa saja, juga dengan orang kecil, termasuk kita semua.

Kedua, pilihan Tuhan untuk solider, senasib dengan orang kecil dan manusia biasa, memiliki tujuan luhur yakni mau mengangkat harga diri, martabat hidup orang kecil dan biasa. Mengapa Tuhan sampai rela mengangkat harga diri dan martabat pribadi manusia? Dosa, salah, lalai membuat manusia itu kehilangan harga diri, kehilangan nilai. Manusia menjadi malu dan merasa dirinya tidak berguna.

Kalau seseorang hidup sembarangan saja, misalnya berkelahi terus, mencuri terus, mabuk-mabukan, korupsi terus, orang seperti itu biasanya dibenci oleh sesamanya. Kemudian ia merasa malu, merasa dirirnya tidak berguna lagi bagi orang lain. Manusia yang berdosa, bersalah, seperti inilah yang Tuhan angkat harga dirinya dan martaba pribadinya. Tuhan membebaskan mereka itu dari segala kejahatan dan menguduskannya bagi diri-Nya.

Inilah dua maksud utama mengapa Tuhan Yesus lahir sebagai manusia biasa seperti seorang bayi yang kecil dan lemah, tidak hebat dan luar biasa, karena Ia mau senasib dengan manusia, dan mengangkat harga diri orang kecil dan biasa. Hidup dan kerja kita mungkin tampaknya sangat kecil dan sederhana. Mungkin kita hanya bekerja kebun, memelihara sayur dan tanaman buah-buahan. Mungkin hanya berjual saja dipasar setiap hari, dari pagi sampai sore, mungkin kita hanya menjadi guru SD atau menjadi anak sekolah. Kalau ini yang kita bayangkan, maka sadarlah! Yesus lahir sebagai manusia kecil dan biasa. Ia tidak lahir dalam situasi dan suasana yang hebat-hebat dan luar biasa.

Hanya dengan satu maksud dan tujuan yakni untuk mengangkat harga diri, derajat hidup kita manusia kecil dan biasa-biasa saja. Karena itu, ada dua pesan. Pertama, tidak perlu malu-malu dengan pekerjaan kita yang kecil-kecil dan sederhana. Kedua, kalua Tuhan sudah mengangkat harga diri maka kita juga perlu meninggalkan kefasikan, keinginan duniawi supaya kita hidup bijaksana dan adil. Supaya kita hidup baik-baik saja. Tidak mencuri, dan tidak hidup sembarangan.

Sang Raja Damai, sudah datang. Mari kita kalahkan budaya kekerasan dan kebencian dengan budaya damai. Kita yakin kasih dan damai akan mengalahkan segala-galanya. Masih banyak orang hidup dalam konflik dan kekerasan termasuk warga di Papua. Masyarakat belum bisa hidup aman dan damai. Masih banyak masyarakat yang hidup di pengungsian. Jeritan para korban kekerasan dan ketidakadilan ini adalah jeritan kita juga.

Sebagaimana raja Daud mendasarkan dan mengokohkan kerajaannya itu dengan keadilan dan kebenaran. Maka Gerejapun dipanggil untuk mewartakan perdamaian itu, walaupun ia dikasari dan ditampar. Seruan raja Daud yang kita dengar dalam bacaan pertama, merupakan seruan kita Gereja. Dan jeritan dari warga masyarakat pelosok Papua, yang mengalami ketidakadilan adalah jeritan semua kita. Gereja dipanggil untuk bertindak secara baru, secara kreatif menuju dunia yang menyejukkan, dunia Papua Tanah Damai.

Inilah sukacita kita semua di hari Natal ini. Mari kita semua bergembira dan mengucapkan “selamat Pesta Natal satu terhadap yang lain.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *