Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Sepanjang 2025, Terjadi 5.141 Gempabumi di Wilayah Papua

IMG-20260103-WA0025
IMG-20260103-WA0025Foto / BERITA UTAMA
Redaksi FP2 menit baca0 kali dibaca

Jayapura, fajarpapua.com – Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura mencatat sepanjang tahun 2025 telah terjadi sebanyak 5.141 kejadian gempabumi di wilayah Papua.

Aktivitas seismik tersebut meliputi hampir seluruh wilayah Pulau Papua, mulai dari Sorong di bagian barat hingga Jayapura di bagian timur.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura, Ir. Herlambang Hudha, menjelaskan ribuan gempabumi tersebut terdistribusi berdasarkan magnitudo dan kedalaman yang bervariasi.

“Berdasarkan magnitudo, gempabumi dengan M < 3 tercatat sebanyak 3.799 kejadian, 3 < M < 5 sebanyak 1.341 kejadian, dan M > 5 sebanyak 18 kejadian,” ujar Herlambang.

Sementara itu, berdasarkan kedalaman gempa, tercatat 4.856 kejadian dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer, 284 kejadian dengan kedalaman antara 60 hingga 300 kilometer, serta 1 kejadian dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer.

Herlambang menambahkan, sepanjang tahun 2025 terdapat 125 gempabumi yang dirasakan masyarakat. Rinciannya, gempabumi dengan magnitudo M < 3 sebanyak 12 kejadian, 3 < M < 5 sebanyak 102 kejadian, dan M > 5 sebanyak 11 kejadian.

“Pada tahun 2025 juga tercatat dua kali gempabumi merusak,” ungkapnya saat menyampaikan rilis, Sabtu (3/1).

Ia merinci, gempabumi merusak pertama terjadi pada 12 Agustus 2025 dengan magnitudo 6,4 dan kedalaman 27 kilometer di wilayah tenggara Sarmi, Papua.

Selanjutnya, gempabumi merusak kembali terjadi pada 16 Oktober 2025 di wilayah Sarmi dengan magnitudo 6,6. Kedua kejadian tersebut menyebabkan kerusakan di sejumlah lokasi di Kabupaten Sarmi.

“Dari data kejadian gempabumi tersebut dapat disimpulkan bahwa wilayah Pulau Papua dan sekitarnya, termasuk Kota Jayapura, merupakan daerah dengan tingkat seismisitas yang sangat tinggi,” tegas Herlambang.

Ia mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan memahami kondisi lingkungan masing-masing.

Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gempabumi beserta dampak ikutannya, seperti tsunami, longsor, likuifaksi, dan kegagalan struktur bangunan. (hsb)