Israel kembali melancarkan gelombang serangan ke Lebanon dengan tujuan melemahkan kekuatan milisi Hizbullah di wilayah selatan Beirut. Pada Minggu (22/3), serangan tersebut menargetkan sebuah jembatan penting di desa Qasmiyeh, yang menghubungkan distrik Tirus dengan wilayah utara.
Serangan udara yang dilaporkan menyebabkan asap membubung tinggi dari lokasi serangan. Israel menuding jembatan tersebut digunakan Hizbullah untuk mobilisasi pasukan dan alat perlengkapan militer. Media Lebanon melaporkan bahwa sejumlah wilayah di bagian selatan Lebanon menjadi sasaran serangan Israel dalam beberapa hari terakhir.
Militer Israel menyatakan telah memulai ‘gelombang serangan besar-besaran’ terhadap infrastruktur Hizbullah di Lebanon selatan, termasuk serangan udara dan pengiriman pasukan. Dalam konflik yang berlangsung selama tiga minggu ini, setidaknya satu warga sipil tewas akibat serangan roket dari Hizbullah, sementara dua tentara Israel juga meninggal dunia. Di pihak Lebanon, Kementerian Kesehatan melaporkan empat orang tewas dalam dua serangan di wilayah selatan, dan total korban jiwa mencapai lebih dari seribu orang.
Pertikaian memanas saat Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengutuk keras serangan Israel terhadap infrastruktur negara. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan ancaman terhadap stabilitas Lebanon, bahkan menyebutnya sebagai indikasi potensi invasi darat. Menurut Aoun, serangan tersebut merupakan eskalasi berbahaya dan sangat merugikan rakyat Lebanon.
Situasi di Lebanon semakin genting, dengan ketegangan yang semakin meningkat dan dampak kemanusiaan yang meluas. Konflik ini menambah panjang daftar kerusakan dan penderitaan yang dialami rakyat Lebanon akibat ketegangan di Timur Tengah. Pemerintah Lebanon menegaskan bahwa tindakan Israel merupakan pelanggaran hak asasi dan kedaulatan negara, serta meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di kawasan.








Komentar (0)