Timika, fajarpapua.com – Waktu menuju target eliminasi malaria pada 2030 semakin singkat. Namun, tantangan yang dihadapi Kabupaten Mimika masih sangat besar.
Hingga 13 Juli 2026, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Malaria Center Kabupaten Mimika mencatat 86.747 kasus positif malaria dari 693.591 pemeriksaan yang telah dilakukan sepanjang tahun ini.
Data tersebut menjadi gambaran Mimika masih menjadi salah satu daerah dengan beban malaria tertinggi di Indonesia.
Dengan hanya menyisakan empat tahun menuju target nasional eliminasi malaria, Dinas Kesehatan Mimika dituntut mempercepat berbagai strategi pengendalian penyakit yang selama ini menjadi ancaman utama kesehatan masyarakat.
Kepala UPTD Malaria Center Mimika, Imelda Ohoiledjaan kepada media menjelaskan angka tersebut merupakan data terbaru yang tercatat secara real-time melalui Elektronik Sistem Informasi Surveilans Malaria (e-SISMAL) milik Kementerian Kesehatan.
Menurutnya, seluruh fasilitas kesehatan di Mimika melaporkan kasus malaria langsung ke sistem tersebut sehingga perkembangan kasus dapat dipantau setiap hari.
Saat ini terdapat 81 fasilitas kesehatan di Mimika yang aktif melakukan pemeriksaan malaria, terdiri atas 26 Puskesmas, tujuh rumah sakit, klinik swasta, dokter praktik mandiri, hingga apotek yang memiliki akun pelaporan masing-masing di e-SISMAL.
"Kementerian Kesehatan bisa melihat perkembangan kasus malaria di Mimika secara langsung kapan saja karena seluruh laporan masuk secara real-time," kata Imelda.
Target 2 Juta Pemeriksaan per Tahun
Dalam peta jalan eliminasi malaria nasional, Kementerian Kesehatan menetapkan Mimika sebagai salah satu daerah prioritas yang harus mencapai target 2.075.723 pemeriksaan malaria setiap tahun hingga 2028 sebagai bagian dari persiapan eliminasi pada 2030.
Pada 2025 lalu, Mimika berhasil melakukan sekitar 1,3 juta pemeriksaan.
Sementara hingga pertengahan Juli 2026, jumlah pemeriksaan telah mencapai hampir 700 ribu.
Imelda optimistis target dua juta pemeriksaan dapat dicapai melalui penguatan program Tempo Kas Tuntas dan Kaka Sehat yang dibiayai APBD Mimika serta didukung program dari Kementerian Kesehatan.
"Program di lapangan sebenarnya sudah berjalan. Saat ini tinggal proses input data ke sistem sehingga angka pemeriksaannya akan terus bertambah," ujarnya.
Edukasi Jadi Kunci Eliminasi
Selain meningkatkan jumlah pemeriksaan, Dinas Kesehatan Mimika juga memperkuat edukasi kepada masyarakat.
Salah satu tantangan terbesar adalah masih banyak pasien yang berhenti minum obat ketika gejala sudah hilang.
Padahal, seseorang baru dinyatakan sembuh setelah seluruh obat malaria dihabiskan dan dilakukan pemeriksaan darah ulang.
Imelda mengatakan kasus malaria dapat kambuh apabila pengobatan tidak tuntas karena parasit masih bertahan di dalam tubuh.
Salah satu obat yang paling sering tidak dihabiskan pasien adalah primaquine atau yang dikenal masyarakat sebagai "obat cokelat".
Obat tersebut harus diminum satu tablet setiap hari hingga 14 hari atau sampai habis.
"Yang terpenting obatnya harus habis. Kalau terlewat sehari masih bisa dilanjutkan. Fokusnya bukan berapa hari, tetapi obat wajib dihabiskan," tegasnya.
Butuh Dukungan Seluruh Masyarakat
UPTD Malaria Center menegaskan bahwa keberhasilan eliminasi malaria tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat.
Warga diimbau segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala, menghabiskan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, melakukan pemeriksaan darah ulang setelah pengobatan, serta menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Menurut Imelda, pembangunan sumber daya manusia tidak akan berjalan optimal apabila angka malaria tetap tinggi.
"Orang harus sehat terlebih dahulu agar bisa bekerja, belajar, dan produktif. Malaria bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menghambat pembangunan manusia," katanya.















