Gerakan politik satir yang dipelopori oleh Abhijeet Dipke, seorang lulusan Universitas Boston, telah mencuri perhatian di India. Dengan menggunakan sindiran tajam dan platform media sosial, Partai Rakyat Kecoak (CJP) menjadi fenomena baru yang mengusik dinamika politik nasional.
Gerakan ini bermula dari pernyataan kontroversial Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang menyebut anak muda pengangguran sebagai "kecoak" saat sidang terbuka pada 15 Mei. Pernyataan tersebut memicu kemarahan di media sosial, yang kemudian dimanfaatkan oleh Abhijeet untuk meluncurkan gerakan satir ini sebagai bentuk kritik terhadap situasi politik dan sosial di India.
Hanya dalam tiga hari, akun Instagram CJP berhasil mengumpulkan lebih dari 11,1 juta pengikut dan menarik perhatian tokoh-tokoh politik seperti Mahua Moitra dan Kirti Azad. Gerakan ini bahkan menawarkan keanggotaan resmi yang kini diikuti oleh lebih dari 350.000 orang melalui formulir online. Abhijeet menyatakan, gerakan ini adalah bentuk perlawanan terhadap kekerasan dan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, terutama generasi muda.
Partai Kecoak ini memiliki empat syarat keanggotaan, yakni pengangguran, kemalasan, ketergantungan media sosial, dan kemampuan berbicara secara aktif. Dengan tagline "Sebuah front politik pemuda, oleh pemuda, untuk pemuda," CJP mengusung ideologi sekuler, sosialis, dan demokratis, sekaligus menyampaikan kritik terhadap pemerintahan, media, dan sistem peradilan di India. Gerakan ini menunjukkan bahwa satir dan absurditas bisa menjadi alat efektif untuk menyuarakan ketidakpuasan dan mendorong perubahan di tengah dinamika politik yang kompleks.

