Negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan akan segera dilanjutkan, dengan Pakistan bersiap menjadi tuan rumah dalam upaya mencapai kesepakatan damai di Timur Tengah. Hal ini diungkapkan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, melalui media sosial X pada Minggu (24/5), setelah melakukan pembicaraan telepon yang dinilai sangat produktif dan positif dengan para pemimpin negara Muslim dan AS.
Dalam unggahannya, Sharif menyatakan bahwa dirinya dan pemimpin dari Arab Saudi, Qatar, Turki, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Pakistan telah berdiskusi tentang langkah-langkah perdamaian di kawasan tersebut. Ia menambahkan bahwa Pakistan tetap berkomitmen penuh untuk mendukung proses ini dan siap menjadi penyelenggara putaran negosiasi berikutnya dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump juga mengungkapkan optimisme terhadap kesepakatan yang sedang diformulasikan. Melalui akun Truth Social, Trump menyebut bahwa sebagian besar aspek kesepakatan, termasuk kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, telah dinegosiasikan dan tinggal menunggu finalisasi dari pihak-pihak terkait, termasuk Iran dan Amerika Serikat. Ia juga menyebut bahwa nota kesepahaman tersebut kini dalam tahap akhir dan akan segera diumumkan.
Sementara itu, Iran menunjukkan adanya perbedaan pandangan terkait isi kesepakatan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa meski ada tren menuju pendekatan yang lebih baik, kedua negara belum mencapai kesepakatan final mengenai isu-isu penting, termasuk program nuklir Iran. Ia menyebut bahwa kerangka kerja perjanjian yang sedang disusun berisi 14 klausul dan diharapkan dapat diselesaikan dalam 30 sampai 60 hari ke depan.

