Lewati ke konten utama

40 Sanggar Seni Ikuti Pelatihan Manajemen, Pemkab Mimika Dorong Pelestarian Budaya yang Profesional

Redaksi Fajar PapuaPenulis
MustofaEditor
18.08 WIT3 menit baca131 dibaca
Foto bersama peserta Pelatihan Manajemen Sanggar bersama Pemerintah Kabupaten Mimika di Aula Keuskupan Loresa SP3.
Foto bersama peserta Pelatihan Manajemen Sanggar bersama Pemerintah Kabupaten Mimika di Aula Keuskupan Loresa SP3.Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Pemerintah Kabupaten Mimika terus memperkuat pelestarian budaya lokal dengan mendorong pengelolaan sanggar seni yang lebih profesional.

Melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf), sebanyak 40 sanggar seni mengikuti Pelatihan Manajemen Sanggar sebagai upaya meningkatkan kapasitas organisasi sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah.

Pelatihan yang berlangsung di Aula Keuskupan Loresa SP3 tersebut dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika, Ananias Faot, serta dihadiri para pelaku seni dan budaya dari berbagai wilayah di Kabupaten Mimika.

Dalam sambutannya, Ananias menegaskan sanggar seni tidak hanya menjadi tempat lahirnya karya kreatif, tetapi juga memiliki peran penting sebagai benteng pelestarian budaya di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, tema "Mengelola Karya, Merawat Budaya" mencerminkan komitmen bersama untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

"Pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui karya seni. Sanggar juga harus memiliki tata kelola yang baik agar mampu berkembang dan tetap menjadi rumah bagi lahirnya kreativitas sekaligus pelestarian identitas budaya masyarakat," ujar Ananias.

Ia mengatakan, para pelaku seni selama ini telah berkontribusi besar dalam menjaga warisan leluhur melalui karya-karya yang lahir dari kreativitas, ketekunan, dan kecintaan terhadap budaya.

Namun, agar mampu bertahan dan berkembang, karya tersebut perlu didukung dengan manajemen yang profesional.

Karena itu, pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan pengelola sanggar dalam aspek organisasi, administrasi, pengelolaan sumber daya manusia, hingga pengembangan usaha seni yang berkelanjutan.

Ananias juga menilai tantangan perkembangan zaman menuntut sanggar seni untuk mampu beradaptasi tanpa meninggalkan jati diri budaya lokal.

"Sanggar harus tetap menjadi ruang tumbuhnya tradisi dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan pengelolaan yang modern, transparan, akuntabel, dan profesional, sanggar akan semakin kuat, mandiri, serta memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari manajemen organisasi, administrasi sanggar, pengelolaan sumber daya manusia, produksi karya, strategi pemasaran, hingga tata kelola keuangan yang baik.

Ananias berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam pengelolaan sanggar sehingga mampu meningkatkan kualitas organisasi seni sekaligus memperkuat pelestarian budaya di Mimika.

Sementara itu, Ketua Panitia, Daniel Orun, menjelaskan pelatihan diikuti oleh 40 sanggar seni yang bergerak di bidang kerajinan anyaman dan ukiran. Setiap sanggar mengirimkan tiga orang peserta sehingga total peserta mencapai 120 orang.

Menurut Daniel, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola sanggar agar mampu mengelola organisasi secara profesional, memperluas pemasaran karya, serta membangun tata kelola keuangan yang baik tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat Mimika.

"Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam manajemen organisasi sanggar, administrasi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, serta tata kelola keuangan yang baik, sehingga sanggar mampu berkembang secara berkelanjutan tanpa kehilangan akar budayanya," pungkasnya. (moa)