Timika, fajarpapua.com – Waimum atau Kepala Perang kelompok Newegalen, Erinus Newegalen, secara terbuka menyatakan pihaknya ingin mengakhiri pertikaian dengan kelompok Dang di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika.
Erinus bahkan menegaskan pihaknya menerima keputusan keluarga terkait dua pelajar yang menjadi korban dalam konflik untuk dimakamkan sesuai permintaan keluarga.
“Kami sudah terima, kami ikut mau keluarga. Tujuan mereka kubur itu karena keluarga mau supaya perang ini aman, selesai,” kata Erinus di Kwamki Narama, Jumat (4/9).
Menurut Erinus, keputusan keluarga untuk memakamkan kedua korban menjadi bagian dari upaya mencari jalan keluar dari konflik. Pihak Newegalen, katanya, tidak ingin persoalan tersebut kembali memperpanjang perang yang selama ini berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Ia berharap momentum tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi kedua kelompok untuk menghentikan pertikaian dan membangun perdamaian.
Erinus menilai berakhirnya perang bukan hanya menyangkut kedua kelompok yang bertikai, tetapi juga masa depan masyarakat Kwamki Narama yang selama ini terdampak situasi keamanan.
Dengan terciptanya perdamaian, ia berharap aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Anak-anak dapat bersekolah tanpa rasa takut, pelayanan gereja kembali berjalan, pemerintahan dapat bekerja, serta masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman.
Untuk memastikan proses tersebut berjalan, Erinus meminta keterlibatan berbagai pihak. Ia berharap TNI-Polri bersama Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Puncak dan Pemerintah Kabupaten Mimika memberikan dukungan terhadap proses perdamaian.
“Harapan kami perang ini bisa selesai dan masyarakat bisa kembali hidup aman,” ujarnya.
*Tokoh Masyarakat Minta Tak Ada Lagi Perpecahan*
Seruan penghentian konflik juga disampaikan tokoh masyarakat Kwamki Narama, Yan Tinal. Ia meminta seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam pertikaian mengesampingkan perbedaan dan bersatu untuk mengakhiri perang.
Menurut Yan, tidak ada pihak yang diuntungkan apabila konflik terus dipertahankan. Sebaliknya, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Ia mengingatkan situasi keamanan yang tidak stabil dapat menghambat berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, pertanian, pelayanan keagamaan hingga pemerintahan.
Yan mengajak masyarakat memberikan ruang kepada aparat keamanan untuk mengawal proses penyelesaian konflik hingga situasi benar-benar kondusif.
“Hal ini penting agar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak sekolah, pelayanan gereja, petani, pegawai, hingga pemerintahan dapat kembali menjalankan aktivitasnya dengan aman dan tenang tanpa rasa takut,” ungkap Yan.
Gereja Diminta Turun Tangan
Sementara itu, tokoh agama Pendeta Anton Uamang menilai upaya perdamaian tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan aparat keamanan. Gereja juga memiliki peran penting untuk menjembatani kelompok-kelompok yang sedang bertikai.
Ia meminta seluruh tokoh agama di Mimika ikut terlibat langsung dalam proses penyelesaian konflik di Kwamki Narama.
Menurut Anton, gereja tidak boleh mengambil jarak ketika jemaatnya berada di tengah konflik. Kehadiran tokoh agama justru dibutuhkan untuk mendorong masyarakat memilih jalan damai.
“Semua tokoh gereja tolong terlibat dalam upaya perdamaian pertikaian ini. Gereja tidak boleh menghindar dari jemaat, karena jemaat kami yang sedang bertikai di lapangan perang,” ujarnya.
Ia menegaskan gereja harus mengambil komitmen untuk berada di tengah-tengah masyarakat dan menjadi bagian dari proses perdamaian.
“Sehingga kita harus di tengah-tengah dan mengambil komitmen untuk mendamaikan, supaya gereja jalan damai, aman, dan pelayanan juga aman,” tegasnya. (ron)














