Timika, fajarpapua.com – Supplier Tujuh Suku di Kabupaten Mimika meminta PT Plasma Usaha Mitra Selaras (PUMS) membenahi sistem pembayaran kepada mitra serta menyesuaikan harga satuan yang dinilai sudah tidak lagi relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
Permintaan tersebut disampaikan dalam pertemuan antara perwakilan Supplier Tujuh Suku dan manajemen PT PUMS di Kantor PT PUMS, Senin (20/7).
Perwakilan Supplier Tujuh Suku dari PT Najum Nar Mora, Elias Wanmang mengatakan, salah satu persoalan utama yang dibahas adalah mekanisme pembayaran kepada supplier.
Menurut Elias, kebijakan pembayaran dua kali dalam sebulan yang dijadwalkan setiap tanggal 15 dan 30 belum berjalan sesuai ketentuan.
"Pembayaran sering terlambat. Yang seharusnya dibayar sesuai jadwal, justru baru diterima beberapa hari bahkan sampai beberapa pekan kemudian," kata Elias.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kelangsungan usaha para supplier lokal karena mengganggu arus kas perusahaan. Meski demikian, Elias mengapresiasi respons manajemen PT PUMS yang bersedia mengevaluasi sistem pembayaran.
Dalam pertemuan itu, kata dia, juga muncul usulan agar pembayaran dilakukan setiap pekan. Skema tersebut masih akan dibahas lebih lanjut oleh manajemen bersama para supplier.
"Kalau kebijakan ini benar-benar diterapkan tentu akan sangat membantu arus kas para supplier. Kami berterima kasih kepada manajemen PT PUMS yang sudah membuka ruang dialog dan merespons aspirasi kami," ujarnya. Selain sistem pembayaran, para supplier juga meminta penyesuaian harga satuan.
Elias mengatakan, tarif yang berlaku saat ini dinilai tidak lagi sebanding dengan kenaikan biaya operasional yang terus meningkat sehingga membebani para pengusaha lokal. Karena itu, para supplier berharap penyesuaian harga satuan dapat mulai diberlakukan pada Januari 2027.
"Kami berharap manajemen PT PUMS segera memberikan kepastian terkait kenaikan harga satuan agar kemitraan dengan pengusaha lokal terus berjalan baik, saling menguntungkan, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Mimika," katanya.
Menurut Elias, aspirasi tersebut tidak hanya menyangkut kepentingan supplier, tetapi juga berdampak pada petani lokal, pelaku UMKM, dan tenaga kerja yang bergantung pada rantai usaha tersebut. (moa)















