Lewati ke konten utama

25 Sekolah di Mimika Ikuti Pelatihan Dokter Cilik 2026, Kadis Kesehatan Mimika : Dokter Cilik Bukan Soal Profesi Dokter Tapi...

Redaksi Fajar PapuaPenulis
14.33 WIT2 menit baca75 dibaca
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs saat memberikan sambutan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs saat memberikan sambutanFoto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs mengatakan, dokter cilik bukanlah dokter yang melakukan tindakan medis, melainkan kader kesehatan yang diharapkan menjadi teladan dalam menerapkan perilaku hidup sehat di lingkungan sekolah.

Hal itu disampaikan Godfried saat membuka Pelatihan Dokter Cilik Tahun 2026, Penguatan UKS/M dan Implementasi Sekolah Sehat di Timika, Senin (21/9/2026).

Godfried mengatakan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat sejak usia dini. Karena itu, pendidikan kesehatan harus menjadi bagian dari kehidupan sekolah sehari-hari.

“Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar membaca, menulis, berhitung dan memperoleh ilmu pengetahuan. Sekolah juga merupakan tempat untuk membentuk kebiasaan hidup sehat,” ujarnya.

Menurutnya, anak yang sehat akan lebih siap mengikuti proses pembelajaran, lebih aktif, percaya diri serta memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dalam pelatihan tersebut, Godfried mengingatkan para peserta agar tidak salah memahami istilah dokter cilik. Para siswa tidak diperbolehkan melakukan tindakan medis di luar batas kewenangannya.

“Menjadi dokter cilik bukan berarti menjadi dokter yang melakukan tindakan medis,” tegasnya.

Ia menjelaskan, tugas dokter cilik lebih diarahkan pada upaya sederhana menjaga kesehatan di lingkungan sekolah. Diantaranya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, memperhatikan kesehatan gigi dan mulut, mengikuti imunisasi, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta melaporkan kepada guru apabila menemukan teman yang sakit atau membutuhkan pertolongan.

Godfried juga meminta para peserta memanfaatkan dua hari pelatihan dengan aktif bertanya dan mengikuti praktik. Menurutnya, pelatihan tersebut bukan sekadar untuk mendapatkan sertifikat, tetapi harus menghasilkan perubahan perilaku di sekolah.

“Tujuan pelatihan ini bukan sekadar mendapatkan sertifikat, tetapi agar apa yang dipelajari dapat diterapkan dan dibagikan kepada teman-teman di sekolah,” katanya.

Ia berharap dokter cilik yang mengikuti pelatihan mampu menjadi penggerak budaya hidup sehat di lingkungan sekolah masing-masing.

Pelatihan yang digelar selama 21–22 September 2026 tersebut diikuti perwakilan dari 25 sekolah di Kabupaten Mimika. Peserta terdiri dari siswa dan guru pembina UKS.